Ternyata Aku Keturunan Sultan

Ternyata Aku Keturunan Sultan
Bab 89


__ADS_3

Di dalam gudang yang pencahayaannya kurang memadai, duduklah seorang perempuan berambut panjang di atas kursi, tangan dan kakinya diikat dan mulutnya dilakban.


Dion yang saat ini sedang duduk di depan Tania, begitu terpesona dengan kecantikan alami mantan kekasihnya itu.


" Andai saja dulu kau tidak memutuskan hubungan cinta kita Tania, mungkin kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi," batin Dion sambil membelai lembut wajah cantik Tania.


Sedangkan Tania yang merasakan kalau ada seseorang yang menyentuh wajahnya, perlahan-lahan dia mengerjapkan matanya.


Dion tersenyum, kala melihat ada tanda-tanda Tania mulai sadar. Lalu dia menarik lembut lakban yang menempel pada bibir tipis Tania.


" D... Dion," ujar Tania. Saat dia sudah sadar sepenuhnya.


" Lepaskan aku Dion, apa yang ingin kau lakukan padaku, aku ini sudah menikah. Pasti suamiku saat ini sedang mencari ku," ucap Tania.


Kemudian dia berusaha melepaskan tali yang berada di pergelangan tangannya. Namun sekuat apapun Tania berusaha tali itu tetap tidak bisa lepas.


Dion lagi-lagi tersenyum, saat melihat usaha Tania yang ingin melepaskan diri. Kemudian dia mendekat kearah Tania dan membisikkan sesuatu ditelinga Tania.


Bola mata indah Tania seketika membulat sempurna, kala mendengar kata demi kata yang di bisikkan oleh Dion di Indra pendengarannya. Dan tanpa sadar bulir bening pun menetes dari kelompok matanya.

__ADS_1


Tania tertunduk lesu, kemudian dia mengangkat wajahnya, dan melihat ke arah Dion dengan tatapan sendu dan penuh iba.


" Jangan lakukan itu padaku Dion, aku mohon...aku ini sudah punya suami, lepaskan aku Dion...lepaskan aku...!" ujar Tania seraya menangis dengan tersedu.


Namun Dion sedikitpun tak menghiraukan tangisan Tania. Sebab yang ada di dalam pikirannya sekarang hanyalah balas dendam.


Pria yang cukup tampan itu tampak menyunggingkan senyuman, ketika mendengar permohonan Tania. Lalu dia kembali duduk di atas kursi.


" Hm... Tania... Tania. Aku sudah bersusah payah menculik dirimu. Dan sekarang, apa yang kau katakan barusan? kau menyuruhku untuk melepaskan dirimu... jangan mimpi. Walau kau menangis darah sekalipun aku tidak akan pernah melepaskan mu, Dan sekarang kau adalah ladang uang bagiku," ujar Dion seraya mengelus pipi Tania dengan sangat lembut.


Tangis Tania semakin pecah, kala mendengar kata-kata itu lagi, dan kali ini begitu jelas terdengar di telinganya, lalu dia sekali lagi memohon pada Dion untuk tidak melakukan itu pada dirinya.


" Dion aku mohon, jangan lakukan itu padaku," ucap Tania sambil menangis dengan tersedu.


💦💦💦


Di Rumah Sakit tempat dirawatnya Botak.


Albert yang duduk terkulai lemas di atas lantai, kini dirinya tiba-tiba bangkit, kala mendengar ucapan Botak yang mengatakan bahwa dirinya sempat melihat ada tanda di lengan orang yang menculik Tania.

__ADS_1


" Tanda apa?" tanya Albert dengan sangat cepat. Kemudian dia berdiri.


" Aku sangat yakin, dan aku tidak mungkin salah lihat Tuan muda, ada tanda kala jengking di lengan kirinya, dan aku melihatnya sebelum aku pingsan," jawab Botak.


Albert yang mendengar penjelasan Botak, kemudian suatu bayangan yang tidak pernah bisa dia lupakan, kembali terlintas di dalam pikirannya.


Ya, saat dirinya tenggelam di laut, Ia juga melihat tanda itu.


Hingga sepersekian detik Albert terdiam, lalu dia menatap kearah Will.


" Will, apa mungkin yang menculik Tania adalah anak buah Zen?" tanya Albert pada Will.


Will dan Botak sama-sama terdiam, kemudian mereka berdua saling melirik satu sama lain. Dan mereka berdua baru sadar saat membunuh Zen mereka juga melihat tanda itu di lengan kiri Zen.


" Sudah tidak salah lagi Tuan muda, itu adalah tanda kelompoknya Zen," jawab Will.


Albert seketika marah besar, dia benar-benar marah, dan kemarahannya sudah sampai di ubun-ubun.


" Berani-beraninya kelompok itu menculik istriku," teriak Albert sambil menendang meja portabel yang ada didalam ruangan itu.

__ADS_1


Lalu dia merogoh kantong Jasnya dan mengeluarkan sebuah benda berbentuk pipih. Kemudian dia men-dial nomor ponsel anak buahnya dan langsung memerintahkan untuk mencari keberadaan kelompok yang ada tanda kalajengking di lengan kirinya.


" Baik Tuan muda."


__ADS_2