Ternyata Aku Keturunan Sultan

Ternyata Aku Keturunan Sultan
Bab 73


__ADS_3

Albert yang mendengar panggilan bi Ojah seketika melepaskan dekapannya terhadap Tania. lalu dia bersembunyi di belakang pintu, dengan nafas sedikit ngos-ngosan. Karena menahan gairah yang muncul di dalam dirinya.


Sedangkan Tania, dia mulai memperbaiki bajunya yang tampak sedikit berantakan.


" Apa bi," jawab Tania. Sambil menghampiri bi Ojah.


Bi Ojah seketika membalikkan badan, saat mendengar suara Tania.


" Ini lho Non, Tuan besar memintaku untuk memanggil Tuan muda Albert, tapi aku sudah mencari kemana-mana, bahkan sampai ke dalam kamarnya aku periksa, tapi tetap aku tidak menemukannya. Apakah Nona Tania tau keberadaan Tuan muda Albert dimana?" tanya bi Ojah.


Tania langsung menoleh ke belakang pintu. Namun Albert yang bersembunyi di baliknya, seketika meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya.


" A...aku tidak tau bi," jawab Tania dengan sangat cepat. Lalu dia kembali melihat kearah bi Ojah.


Bi Ojah seketika mengerutkan kening, saat melihat ekspresi Tania.


" Apa ada sesuatu di balik pintu Non? soalnya bibi perhatian sejak tadi Non Tania terus saja melihat kearah situ?" tunjuk bi Ojah, seraya membungkukkan badan melihat ke belakang pintu. Namun, dia tidak melihat apapun.


" Tidak ada apa-apa, mungkin itu hanya perasaan bibi saja," ucap Tania sambil tersenyum manis.

__ADS_1


" Apa iya!" ucap Bi Ojah. sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Kemudian dia langsung pamit pada Tania, dan melanjutkan kembali pekerjaannya mencari Albert.


Dengan hembusan nafas yang tidak terlalu kasar, kemudian Albert mengelus dadanya ketika melihat bi Ojah sudah pergi.


" Untung saja," ucapnya kemudian.


Lalu Albert keluar dari balik pintu, sambil merapikan Jasnya. Kemudian dia pamit pada Tania untuk menemui kakeknya.


Setapak demi setapak Albert melangkah menuruni anak tangga, hingga dia akhirnya sampai di depan ruangan kakeknya.


Tanpa mengetuk pintu, Albert kemudian masuk ke dalam ruangan kakeknya, lalu dia duduk di atas Sofa.


Tuan Simon menoleh ke arah Albert, sambil menutup laptop yang berada di hadapannya. Lalu dia berjalan perlahan mendekat kearah Albert.


" Albert, kenapa kau malah berdiam diri di dalam kamar? kakek menyuruhmu untuk libur biar kamu bisa lebih dekat dengan Tania. apa kau tidak ingin mengajaknya jalan-jalan?" ujar Tuan Simon tanpa basa-basi.


Albert menarik nafas dalam.

__ADS_1


" Kakek, bukannya aku tidak mau.Tapi aku masih merasa badanku terlalu lelah, dan kakek tau sendiri 'kan kalau aku baru saja pulang dari luar negeri," kilah Albert.


" Kalau mengenai fitting baju pengantin, kita 'kan bisa meminta desainer datang ke mari, dan aku tidak perlu repot-repot menyusuri jalanan ibukota yang macet itu," ujar Albert kemudian.


Tuan Simon yang mendengar ucapan cucunya, seketika Ia menggelengkan kepala. Namun, sejurus kemudian dia malah tersenyum.


Albert mengerutkan dahi saat melihat ekspresi kakeknya. Namun, dia tidak terlalu memusingkan hal tersebut.


Dengan santainya Albert pun merebahkan tubuhnya di atas Sofa dan mulai memejamkan mata.


Sedangkan Tuan Simon yang melihat kelakuan cucunya, kemudian dia mengelus kepala Albert dengan sangat lembut, lalu dia menarik ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman.


" Sifatmu dan ayahmu bagaikan pinang di belah dua," ucap Tuan Simon.


Kemudian dia berdiri dan membiarkan Albert tertidur di atas Sofa. Lalu dia berjalan perlahan kembali menuju meja kerjanya, dan mengambil sebuah benda berbentuk pipih.


Kemudian dia men-dial nomor telepon desainer terkemuka di kota itu. Dan menyuruhnya untuk segera datang ke rumahnya.


" Baik Tuan," ucap seseorang yang berada di sebrang sana.

__ADS_1


Setelah itu, Tuan Simon memutuskan sambungan Ponselnya, dan meletakkan kembali benda pipih itu di atas meja.


Lalu dia kembali berjalan menuju kearah Sofa sambil memandangi wajah Albert yang tampak damai saat tertidur.


__ADS_2