
Tuan Simon menghampiri Tania dan menyuruhnya untuk duduk di atas kursi. Lalu dia menjelaskan pada Tania untuk tidak melakukan pekerjaan apa-apa. Sebab, sebentar lagi Tania akan menjadi menantu di keluarga Bridam.
" Tapi Kakek." ujar Tania seraya menundukkan kepala.
Sedangkan Albert yang baru turun dari lantai atas, dia sempat mendengar pembicaraan kakeknya. Namun, tak terdengar begitu jelas. Sehingga Ia langsung berlari menyusuri tangga.
Namun, saat sampai di meja makan, dia lagi-lagi tercengang melihat keberadaan Tania.
" Tania. Kau belum pulang?" tanya Albert. Yang tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada Tania.
" B... belum," jawab Tania terbata. Kemudian dia melihat kearah Tuan Simon.
" Oh...!" jawab Albert singkat, Tanpa memperdulikan gelagat aneh Tania. Lalu dia mengambil piring dan mengisinya dengan nasi beserta lauk-pauknya.
Sekarang suasana di meja makan itu hening, hanya suara sendok dan garpu saja yang terdengar saling bersahutan.
💦💦💦
Setelah selesai makan malam, kemudian Tuan Simon mengajak Albert masuk ke dalam ruang kerjanya, dan sepertinya dia ingin membicarakan sesuatu hal yang sangat penting.
__ADS_1
" Ada apa Kakek?" tanya Albert yang sudah duduk di atas Sofa.
Tuan Simon menarik nafas dalam, sebelum dia mengutarakan maksud dan tujuannya mengajak Albert kedalam ruangannya.
" Ayolah Kakek, apa sebenarnya yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Albert kembali. Setelah melihat kakeknya hanya diam saja.
Tuan Simon lalu mendekat kearah Albert, kemudian dia duduk di bersebelahan dengan Albert.
" Albert. Apa kau mau menuruti keinginan Kakek?" ucapnya dengan nada cukup lembut.
Mendengar) hal itu, Albert kemudian mendekat kearah Tuan Simon, lalu dia memegang tangannya.
Lagi-lagi Tuan Simon menarik nafas dalam. Lalu dia menatap manik mata cucunya.
" Aku ingin kamu menikah dengan Tania secepatnya," ujar Tuan Simon. Sambil mengeratkan genggaman tangannya terhadap Albert.
Albert terkejut, kemudian dia melepaskan genggaman tangannya dari Tuan Simon, lalu Ia berdiri membelakangi kakeknya.
Sedangkan Tuan Simon yang melihat ekspresi cucunya, kemudian dia berdiri dan menepuk pundak Albert dengan sangat pelan.
__ADS_1
Sementara Albert, dengan perasaan tak menentu, Albert kembali duduk di atas Sofa. Sambil mengusap wajahnya dengan sangat kasar.
" Rupanya Kakek sudah merencanakan semua ini? maka dari itu, kakek mengajaknya untuk tinggal di rumah ini," tebak Albert kemudian.
Tuan Simon terdiam.
Kemudian dia mulai menceritakan kepada Albert, bahwa perusahaan ayahnya Tania sudah bangkrut, dan ia menemukan Tania di pinggir jalan dalam keadaan pingsan.
" Maka dari itu kakek membawanya ke rumah ini, dan kakek berencana untuk menikahkan mu dengannya," jelas Tuan Simon.
Albert sangat terkejut mendengar penjelasan kakeknya, dan dia tidak menyangka kalau ayah Tania sudah tiada.
" Aku tidak menyangka kalau Pak Reno sudah Tiada, memang apa yang dikatakan orang itu benar. Kalau takdir seseorang itu tidak ada yang tau," ucap Albert. Sambil menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar.
" Benar cucuku, dan satu hal lagi yang harus kau ingat, Roda itu selalu berputar, kadang di atas dan kadang di bawah. Maka dari itu kau jangan pernah menyombongkan apa yang kamu miliki sekarang, Memang Tania dulu pernah menghina mu, karena kau tidak punya apa-apa. Tapi kau jangan pernah membalas perbuatannya, apa lagi mengungkitnya. Ingat itu cucuku," sarkas Tuan Simon.
" Iya kakek, aku tidak akan pernah mengungkitnya," jawab Albert.
" Nah... begitu dong, itu baru namanya cucu kakek. Sekarang bagaimana, apa kamu setuju menikah dengan Tania?" tanya Tuan Simon kemudian.
__ADS_1