
Albert menarik nafas dalam dan menghembuskan nya dengan perlahan. Sungguh hatinya saat ini benar-benar marah. Namun, karena dia masih berada di hadapan Will, Iapun berusaha menenangkan pikirannya dengan mengambil sebotol minuman soda dari dalam Kulkas. Berharap setelah meneguk minuman itu pikirannya akan kembali dingin.
" Huh..." Nafasnya terengah ketika satu botol minuman itu melewati tenggorokannya dengan sekali tegukan. Lalu dia kembali menatap kearah Will.
" Apa yang akan kita lakukan padanya Will," tanya Albert. Setelah dia merasa tenang.
Will yang tadinya mundur beberapa langkah, kemudian Ia kembali mendekat ke arah Albert.
" Tuan muda, orang seperti itu tidak bisa dibiarkan berkeliaran bebas di muka bumi ini. Bagaimana kalau kita langsung menghabisinya saja," ujar Will.
Albert terdiam sesaat, sambil memikirkan usulan yang diajukan oleh Will. Namun, sejurus kemudian Albert kembali bersuara.
" Aku tidak setuju dengan pendapatmu Will, dia itu punya keluarga, bagaimana nasib anak dan istrinya nanti kalau kita menghabisi nyawanya," ujar Albert.
" Tapi tuan muda, bukankah sebelum dia melakukan hal itu, ia sudah mempertimbangkan akibatnya, dan uang perusahaan yang di ambilnya tidaklah sedikit, bahkan tembus mencapai Delapan Milyar," jawab Will dengan sangat serius.
Albert lagi-lagi terdiam mendengar ucapan Will. Kemudian dia mengetuk-ngetuk kan jari telunjuk di keningnya hingga beberapa kali.
" Apa yang harus aku lakukan," batinnya kemudian.
Namun, disaat pembicaraan alot itu sedang berlangsung dan belum ada ujungnya, tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu.
Kemudian Albert melirik sekilas jarum Jam yang berada di pergelangan tangannya. Lalu dia mengeryit, dengan sedikit bingung.
" Bukankah ini sudah menunjukkan pukul Tujuh malam, seharusnya semua karyawan sudah bubar, tapi kenapa masih ada yang mengetuk pintu," batin Albert.
Keheningan pun sempat terjadi hingga beberapa saat. Namun sepertinya, orang yang berada di luar pintu itu sudah tidak sabar, sehingga dia langsung menerobos masuk tanpa di suruh.
__ADS_1
Albert berdiri, begitu juga dengan Will, keduanya saling melirik satu sama lain, melihat Botak berdiri di hadapan mereka, sambil memegang kerah kemeja seseorang yang tampak lumayan berantakan, dan Albert yakin kalau orang yang dibawa oleh Botak itu adalah salah satu karyawan kantornya.
" Tuan Will, seperti yang kau perintahkan tadi padaku, bahwa aku akan membawa penghianat perusahaan ini ke hadapan tuan muda Albert, dan sekarang aku sudah menangkapnya. Lihatlah... betapa tidak menyesal sangat tergambar jelas di wajahnya." ucap Botak. kemudian dia membalikkan badan orang itu sambil memperlihatkan wajahnya kepada Albert.
Albert lagi-lagi dibuat terkejut, saat melihat wajah orang yang dibawa oleh Botak ke hadapannya. Kemudian Albert berjalan setapak demi setapak untuk memastikan bahwa dugaannya tidak salah.
" B... Bukankah kau adalah adiknya Dion," tanya Albert terbata.
Bukannya menjawab, adiknya Dion malah menatap kearah Albert dengan sangat tajam.
" Ya. aku adalah Gani adiknya Dion, dan aku ingin membalaskan dendam Kakakku. Sebab, dirimu telah merebut kekasihnya Tania, dan karena hal itu, dia meninggalkan aku dan ayah dengan menetap di Luar negeri, itu semua gara-gara kamu," ucap Gani sambil menunjuk kearah Albert.
Albert terdiam sesaat. Namun sejurus kemudian dia kembali tersenyum saat mendengar penjelasan yang ingin dia dengar selama ini.
" Oh... ternyata Tania dan Dion sudah lama putus, tapi kenapa aku sampai tak mengetahuinya, apa mungkin aku terlalu sibuk membenci gadis itu. Tapi untuk apa juga aku memikirkan dirinya, bukanlah aku sudah tidak punya hubungan lagi dengannya," batin Albert.
Namun, berbeda dengan Will, saat karyawan itu berkata tidak pantas kepada Albert, kemudian dia mendekat dan langsung melayangkan sebuah tamparan keras tepat di pipi sebelah kanan karyawan yang bernama Gani itu.
" Berani sekali kau berkata seperti itu kepada tuan muda kami, memangnya dirimu siapa, hah..!" bentak Will. Kemudian dia menarik rambut Gani kebelakang.
Kini Botak mulai tampak emosi, karena mendengar perkataan Gani yang menurutnya sangat tidak etis, belum lagi uang perusahaan yang di gelapkan oleh Gani secara diam-diam, membuat tangannya gatal dan ingin segera memberikan pelajaran kepada Gani.
Albert tidak mengatakan apapun, karena dirinya juga sebenarnya mau memberikan pelajaran kepada Gani. Namun, keinginannya itu dia urungkan karena Ia tidak mau mengotori tangannya saat ini. Bukankah sudah ada Will dan Botak yang siap selalu memberikan pelajaran kepada Gani?
Kemudian Botak berjalan kearah Albert yang masih setia duduk di atas kursi kebesarannya.
" Tuan muda, apa yang harus kita lakukan padanya? Apa aku akan mencabut nyawanya sekarang juga?" tanya Botak.
__ADS_1
Albert berpikir sejenak, kemudian dia berdiri sambil berjalan menuju kearah Gani yang tampak meringis kesakitan.
" Apa kau tidak berpikir sebelum melakukan penggelapan uang perusahaan, dan apakah kamu sadar tindakan mu ini sangatlah diluar batas. Kalau sudah jadi begini apa yang harus aku lakukan, apa aku harus...!" ucap Albert tiba-tiba berhenti. Karena Gani memotong pembicaraannya.
" Harus apa? Jika kau ingin membunuhku saat ini juga aku sudah siap," jawab Gani dengan sangat lantang.
Kemudian Albert menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis.
" Sebenarnya aku tidak tega melakukan hal seperti itu padamu, apa lagi kakakmu Dion dulu pernah menjadi sahabatku di bangku SMA. Tapi, jika kamu menginginkannya apa boleh buat," ucapnya datar. kemudian dia membalikkan badan dan ingin kembali duduk pada kursi kebesarannya.
Namun, baru juga Albert berjalan beberapa langkah, tiba-tiba dia kembali membalikkan badannya.
" Kematian seperti apa yang kau inginkan?" tanya Albert kemudian.
Bukannya takut ataupun ngeri mendengar pertanyaan Albert barusan, Gani malah mengejek Albert dengan tertawa terbahak-bahak.
Sedangkan Will yang melihat kelakuan Gani, kini dirinya semakin geram, dan hendak melayangkan kembali Lima jarinya ke pipi Gani.
Namun, Albert yang melihat hal itu. Kemudian dia segera menghentikan tindakan Will.
" Berhenti Will," sarkas Albert. Kemudian dia kembali mendekat ke arah Gani, sambil memasang wajah tanpa ekspresi. Dan sekarang Albert benar-benar sudah tak mampu lagi menahan amarahnya.
" Kamu pikir aku ini lemah dan tak mampu melakukan apapun, hah...!" bentak Albert.
Kemudian dia melayangkan satu tamparan keras di pipi kanan Gani, dan hal itu membuat gigi Gani rontok seketika dengan diiringi mengalirnya darah segar dari sudut bibir Gani.
Gani langsung berteriak kesakitan, dan dia tidak menyangka kalau Albert yang Ia kenal dulu dengan kelemah lembutan hatinya. Mampu berbuat kasar seperti itu.
__ADS_1
" Bawa dia ke gudang, dan siksa dia sampai merasakan sakit yang tiada tara," teriak Albert. Yang masih menahan sisa amarahnya.
Kemudian Albert mengibaskan tangannya, karena dia merasakan sedikit kebas.