
Di Rumah Sakit
Tuan Simon yang berada didalam ruangan sang dokter. Dan saat ini dia sedang menyimak penjelasan dokter yang menangani Albert barusan.
" Tuan tidak perlu merasa khawatir, keadaan Albert saat ini baik-baik saja," ucap dokter itu kemudian.
Sedangkan Tuan Simon yang mendengar penjelasan dokter itu, akhirnya diapun bisa bernafas lega. karena Albert tidak mengalami luka yang serius. Namun, sejurus kemudian Tuan Simon kembali menatap kearah sang dokter.
" Dokter, bagaimana dengan luka yang ada di dahinya, apakah akan menimbulkan efek samping di kemudian hari," tanya Tuan Simon dengan sangat serius.
" Tenanglah Tuan, Justru saat ini aku ingin mengatakan bahwa sebelumnya kau kan bercerita padaku, bahwa cucumu itu sedang mengalami Amnesia atau lupa ingatan. Nah, kemungkinan besar dia akan mengingat kembali masa lalunya. Tapi, anda jangan terlalu senang dulu, sebab ini baru perkiraan saya," ujar sang dokter.
Sedangkan Tuan Simon yang mendengar hal itu, iapun kembali merasa sangat senang dan bahagia, sehingga dia langsung memanggil Will.
" Will," panggil Tuan Simon disertai dengan senyum bahagia.
Will yang mendengar panggilan Tuannya diapun segera bergegas masuk kedalam ruangan sang dokter.
" Ada apa Tuan," jawab Will.
" Will, silahkan kau pergi ke panti asuhan dan donasikan uang ini pada anak Yatim dan dhuafa," ucap Tuan Simon sambil menyerahkan selembar cek dengan jumlah Lima Milyar.
Will pun menerima cek yang diberikan oleh Tuan Simon padanya. Lalu dia melirik sekilas jumlah yang tertulis di atas kertas itu. Kemudian Will tersenyum. Sambil melihat ke arah Tuan Simon yang sejak tadi dia perhatikan wajahnya selalu memancarkan sinar kebahagiaan.
" Tuan, ada kabar gembira apa yang membuat anda sebahagia ini?" tanya Will kemudian.
Tuan Simon lagi-lagi memancarkan senyum kebahagiaan, lalu dia berdiri sambil menepuk pundak Will hingga beberapa kali.
" Kau tau Will, barusan Dokter memberi kabar gembira pada ku. Bahwa kemungkinan besar Albert akan sembuh dari penyakit Amnesia yang di deritanya selama ini," jawab Tuan Simon.
Will langsung tersenyum bahagia begitu mendengar ucapan Tuan Simon barusan. Lalu dia tanpa sadar hendak memeluk Tuannya. Namun, sejurus kemudian Will menghentikan aksinya, sambil cengengesan.
" Maafkan aku Tuan, aku terlampau senang mendengar kabar yang anda sampaikan padaku," ucap Will sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
Kemudian tanpa basa-basi, Tuan Simon langsung merentangkan kedua tangannya.
" Will, kemari lah... anda tidak perlu merasa sungkan untuk memeluk diriku," ucap Tuan Simon.
Mendengar hal itu, Will kembali mendekat ke arah Tuan Simon. Lalu dia memeluk Pria paruh baya yang Ia anggap sebagai orang tuanya sendiri.
" Selamat Tuan, akhirnya Tuan muda Albert bisa mengingat kembali masa lalunya," ujar Will. Kemudian dia melepaskan pelukannya terhadap Tuan Simon.
" Terima kasih Will, kalau begitu mari antarkan aku ke ruangannya, karena aku sudah tidak sabar menunggu cucuku Albert sadar," ucap Tuan Simon.
Mereka berdua serempak keluar dari ruangan itu, setelah sebelumnya pamit kepada sang dokter yang menangani Albert.
Namun, ketika Tuan Simon dan Will berada di tengah lorong menuju ruangan Albert. Tiba-tiba Tuan Simon mengingat sesuatu, sehingga dia menghentikan langkah kakinya dan kembali menatap ke arah Will.
" Will, kau tidak perlu mengantarkan aku keruangan Albert, dan sekarang lebih baik kamu pergi ke panti untuk memberikan cek itu kepada mereka . Dan satu hal lagi Will, kau jangan bilang ini dariku, tapi katakanlah kalau cucuku Albert lah yang memberikannya," ucap Tuan Simon.
" Baik Tuan, aku permisi," jawab Will sambil menunduk dengan hormat.
Kemudian dia pergi melaksanakan tugas yang diberikan oleh Tuan Simon padanya.Sedangkan Tuan Simon, begitu melihat Will sudah menjauh darinya Ia kembali melanjutkan langkah kakinya menuju ruang rawat Albert.
" Albert, kau sudah sadar," ucapnya sambil memeluk tubuh Albert yang masih berbaring lemah di atas ranjang pasien.
Sedangkan Albert yang mendapat pelukan erat dari sang kakek. Diapun pura-pura sedikit sesak, sehingga Tuan Simon yang menyadari hal itu, kemudian langsung melepaskan pelukannya dari sang cucu.
" Kau tidak apa-apa?" tanya Tuan Simon sambil memeriksa seluruh tubuh Albert.
Albert kemudian tersenyum tipis, menyadari ke khawatiran kakeknya terhadap dirinya.
" Aku tidak apa-apa, diriku hanya sedikit sesak karena tadi Kakek memelukku terlalu erat," jawabnya sambil tersenyum.
Sedangkan para perawat yang mendengar ucapan Albert, mereka semua pun menahan tawa dengan meletakkan tangannya di depan mulut masing-masing. Namun, ketika Tuan Simon melirik mereka, para perawat itupun kembali melanjutkan pekerjaannya. Dan pura-pura tidak mendengar apapun.
Tidak lama berselang, datanglah sang Dokter untuk memeriksa keadaan Albert. Dan diikuti oleh Pelayan Eric di belakangnya.
__ADS_1
" Maaf Tuan Simon, aku akan memeriksa keadaan Albert dulu," ucapnya.
" Silahkan Dokter," jawab Tuan Simon sambil sedikit menjauh dari ranjang pasien Albert.
Dokter itupun langsung memeriksa keadaan Albert, sambil mengajukan beberapa pertanyaan.
" Namamu siapa?" tanya sang Dokter.
" Namaku Albert Bridam. Dan nama kakekku adalah Simon Bridam," jawab Albert dengan sangat santai.
" Oh... begitu ya, kalau nama sanak keluargamu yang lainnya, apa kau masih mengingatnya," tanya Dokter itu kembali.
" Ya. ingatlah dokter. masa sama nama keluarga sendiri lupa," jawab Albert. kemudian dia melirik ke arah kakeknya.
Sedangkan Tuan Simon yang mengerti dengan arti tatapan Albert, kemudian dia tersenyum.
" Jawablah pertanyaan dokter itu, dan kau jangan merasa sungkan untuk menyebut namanya satu persatu," ujar Tuan Simon.
Albert kembali menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Dokter itu padanya dengan sangat fasih, sehingga membuat sang dokter menatap kearah Tuan Simon.
" Tuan, benarkan yang aku katakan, kalau cucu anda sudah mengingatkan kembali masa lalunya," ucap sang Dokter.
Lalu dokter itu pun menjabat tangan Tuan Simon. sambil memberi selamat atas kesembuhan Albert.
Sedangkan Tuan Simon yang terlampau gembira mendengar penjelasan Dokter itu mengenai kesembuhan cucunya Albert, kemudian dia meraih cek yang ada di saku celananya. lalu Ia menulis jumlah yang lumayan fantastis.
" Tunggu sebentar dokter, dan ini untuk anda," ucap Tuan Simon sambil menyerahkan selembar cek itu kepada sang Dokter.
" Ini apa Tuan?" tanya sang Dokter sambil mengulurkan tangannya untuk meraih selembar cek itu dari tangan Tuan Simon.
" Lihatlah, dan aku harap dokter jangan menolaknya, karena itu adalah sebagai tanda ucapan terima kasihku pada mu, sebab kau sudah memberi kabar yang sangat menggembirakan kepada keluarga kami," ucap Tuan Simon.
Namun, ketika selembar kertas itu berada di tangannya. lalu dia melihat jumlah yang tertera di atasnya.
__ADS_1
" Tiga Milyar," batinnya kemudian. lalu dia kembali menatap kearah Tuan Simon.
" Tuan, bukankah ini terlalu banyak. Dan anda tidak perlu memberikan ini padaku, lagi pula jumlahnya terlampau banyak hingga aku tidak pantas menerimanya," ujar sang dokter sambil menyerahkan kembali cek itu kepada Tuan Simon.