Ternyata Aku Keturunan Sultan

Ternyata Aku Keturunan Sultan
Bab 48


__ADS_3

Albert terdiam, begitu juga dengan Will. keduanya sama-sama berkutat dengan pikiran masing-masing.


Namun, hal itu tak berlangsung lama, sebab Botak tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Albert, karena pintu itu memang tidak di tutup oleh Will sebelumnya. Dan begitu Albert dan Will melihat Botak yang masuk dengan tergesa. Lalu


keduanya saling melirik satu sama lain.


" Ada apa Botak?" tanya Will dan Albert serempak.


Tanpa mempedulikan gelagat Albert dan Will, Botak pun langsung melaporkan pekerjaannya.


" Lapor tuan Albert, tuan Will. Saat ini aku sudah menangkap orang yang membuat ricuh saat melaksanakan rapat tadi, dan sekarang avku mengikatnya di dalam gudang," ujar Botak.


Albert yang mendengar hal itu langsung berdiri dari kursi kebesarannya. kemudian dia berjalan keluar yang diikuti oleh Will dan juga Botak.


Di Dalam Gudang


Cukup lama Albert dan Will mengintrogasi Pria paruh baya yang diketahui namanya adalah Rendra.


Rendra pun bersikeras tidak mengetahui apa-apa. Namun hal ini tidak berlangsung lama karena Albert mengetahui kelemahannya dengan mengancam akan menyingkirkan semua keluarga pak Rendra, jika dia belum belum buka mulut juga.


Albert mulai menghitung mundur, sehingga Pak Rendra mulai merasa cemas, dan mau tidak mau akhirnya dia membuka suara.


" Baiklah, baiklah. aku akan mengatakannya, tapi kalian janji tidak akan membahayakan keluargaku," ucapnya dengan sedikit terputus-putus, karena Botak sejak tadi menghujani dirinya dengan bogem mentah.


" Aku janji," ucap Albert.


Kemudian Pak Rendra mulai menceritakan kalau perusahaan Bagaskara dan Zero lah yang telah bekerja sama menjatuhkan saham perusahaan keluarga Bridam.


Albert yang mendengar pengakuan Pak Rendra mulai memahami kalau ini adalah ulah dari Dion. Sebab, setahu Albert perusahaan Bagaskara adalah pemiliknya Ayah Dion. Kemudian dia terdiam beberapa saat, sambil memikirkan apa yang Ia lakukan sekarang.


" Apa mungkin ini adalah balasan, karena aku telah menahan adiknya Gani?" batin Albert. Sambil mondar-mandir ke kiri dan ke kanan.


Namun, Ia tiba-tiba menghentikan tindakannya, Lalu dia kembali mengalihkan pandangan ke arah Will dan juga Botak.


" Will, aku perintahkan kau untuk menghancurkan perusahaan Zero sekarang juga," ucap Albert datar.


Kemudian Albert berpindah ke arah Botak.


" Dan kau Botak, aku perintahkan kau untuk membawa Gani, dan letakkan dia di depan pintu keluarga Bagaskara," ucap Albert dengan sangat tegas.


" Baik Tuan muda."

__ADS_1


Kemudian Albert meninggalkan gudang itu.


Namun, baru saja dia melangkahkan kakinya, Botak tiba-tiba menghentikan dirinya. Albert pun kembali membalikkan badannya.


" Apa lagi Botak."


" Tuan muda, bagaimana dengan pria penghianat ini?" tanya Botak.


Albert menyunggingkan senyuman.


" Buang saja ke pulau****** biar dia di makan binatang buas," jawab Albert.


" Baik," ujar Botak.


Sedangkan Pak Rendra yang mendengar hal itu, dia mulai berteriak tak karuan. Tapi, apa yang dia lakukan hanya sia-sia belaka, karena Botak sudah mengikatnya dengan tali yang sangat kencang, bahkan sekarang mulutnya juga sudah di lem oleh Botak, sebab Botak merasa sangat risi mendengar teriakkan pak Rendra.


Di Kantor


Will, mulai melakukan apa yang diperintahkan oleh Albert. Karena sebenarnya pekerjaan seperti ini sangatlah mudah baginya.


" Beres," ucap Will kemudian. Lalu dia kembali menemui Albert dan melaporkan bahwa apa yang diperintahkan oleh Albert padanya sudah selesai ia kerjakan.


Di tengah jalan, Will tiba-tiba menghentikan langkahnya sejenak, karena dia melihat Tania yang hendak memasuki ruangan Albert.


💦💦💦


Di Perusahaan Zero


Suasana yang awalnya sangat tenang dan damai, tiba-tiba mengalami keributan. Dimana setiap para petinggi perusahaan itu sedang mondar-mandir tak karuan. Melihat saham mereka yang turun drastis.


Bahkan ini lebih parah dibandingkan dengan suasana di kantor Albert tadi pagi.


Sehingga membuat pemilik perusahaan itu murka, dan segera menghubungi perusahaan Bagaskara.


Namun, apa yang dia alami ternyata tidak terjadi di perusahaan Bagaskara.


Hingga dia murka dan melemparkan Vas bunga yang berada di atas meja kerjanya ke sembarang arah.


" Ah...!! Kalau saja aku tidak membantu Dion, ini semua tidak akan terjadi," teriaknya sambil menjambak rambutnya sendiri.


" Ini tidak bisa di biarkan, aku harus membalasnya," ujarnya kemudian.

__ADS_1


Kedua perusahaan yang tadinya bersahabat baik itupun sekarang saling menyerang satu sama lain.


💦💦💦


Di Rumah Keluarga Bagaskara


Saat Dion hendak pergi berkunjung ke kantor, tiba-tiba dia mendapat telpon dari Ayahnya.


" Apa...!! Bagaimana mungkin," ucap Dion dengan bibir yang bergetar, dan tanpa sadar ponsel Android mahal yang dipegangnya tiba-tiba terjatuh ke atas lantai.


Sedangkan di perusahaan Albert.


Will tampak senyum-senyum sendiri melihat pergerakan saham mereka yang mulai pulih kembali.


Namun, Will belum bisa tenang, karena sepertinya saham perusahaan Bridam tampak masih naik turun.


" Mungkin besok pagi, baru bisa kembali normal, karena tadi sempat anjlok," batin Will sambil terus memantaunya.


💦💦💦


Pagi Hari


Seperti yang dijanjikan oleh Albert sebelumnya, bahwa dia akan memulihkan saham perusahaan, begitu para kolega bisnisnya membuka mata. Dan janjinya itupun ternyata tidak meleset, sehingga membuat para koleganya itu merasa sangat kagum dengan kemampuan Albert.


" Aku tidak menyangka kalau pemimpin perusahaan Bridam yang baru itu ternyata sangat pandai, dan omongannya juga bisa dipercaya," ucap salah satu kolega bisnis Albert yang baru saja melihat berita di dalam ponsel pintarnya, begitu dia membuka mata dan melihat kalau saham Bridam sudah kembali normal seperti sedia kala.


Lain halnya di rumah keluarga Bagaskara


Dion yang tidak bisa tidur nyenyak semalaman, memikirkan perusahaan Zero yang terus saja menyerang perusahaan milik keluarganya. tampak memijat kepalanya yang sedikit berdenyut.


Kemudian dia berjalan perlahan menuju pintu dan berniat untuk menghirup udara segar di pagi hari, berharap setelah ini pikirannya akan kembali tenang. Namun, baru saja Pintu itu ia buka lebar, tiba-tiba Dion di kejutkan dengan sebuah karung besar bertengger di hadapannya.


Dion mengerutkan kening, dan bertanya di dalam hati. Siapa gerangan yang menaruh karung besar itu di depan pintu rumahnya.


Dion pun mulai memanggil para pelayan dan memerintahkan untuk memeriksanya.


Namun, begitu karung besar itu di buka, semua mata terkejut melihat seseorang yang sangat mereka kenal.


Ya. itu adalah Gani yang sudah tidak bernyawa lagi.


" Gani...!!!" teriak Dion menggelar di seluruh wilayah rumah mewah itu. Dan membuat para penghuni yang mendengar teriakan Dion mulai berdatangan.

__ADS_1


Begitu juga dengan Tuan Baskara Iapun berlari dengan sekuat tenaga saat mendengar teriakan anaknya Dion.


Namun, begitu tuan Baskara sampai dan melihat keadaan Gani yang sudah tidak bernyawa lagi, Ia langsung memegang dadanya karena Ia tidak sanggup melihat kematian Gani yang begitu tragis. Dan sejurus kemudian, akhirnya diapun langsung pingsan.


__ADS_2