Ternyata Aku Keturunan Sultan

Ternyata Aku Keturunan Sultan
Bab 29


__ADS_3

Adrian yang sudah mendudukkan bokongnya di atas kursi, kemudian Ia kembali menatap lekat kearah Rindu.


" Rin, sebenarnya gadis yang tadi itu siapanya kamu sih, apakah Ia benar-benar saudaramu?" tanya Adrian.


" Maksudmu Tania," tanya Rindu.


" Iya, aku sangat heran dengan sikap gadis itu, menurutku, ada yang aneh saat dirinya menatap wajahku!"


" Aneh bagaimana?" tanya Rindu. sambil mengerutkan keningnya.


" Ya aneh, kau lihat sendiri kan sikapnya tadi padaku seperti apa? Ia tiba-tiba datang, lalu menyambung laguku, dan ketika aku menghampiri dirinya, Ia malah memegang wajahku dan memanggilku dengan nama Albert, bukankah menurut kalian itu aneh?"


Kemudian Adrian menggeser posisi duduknya tepat ke arah Rindu.


" Rin, cobalah kau perhatikan baik-baik wajahku ini, apa menurutmu ada yang aneh, atau mungkin ada yang berubah?" ujar Adrian.


" Ah...! kau ini, masa wajah tampan begitu kau bilang aneh, ada-ada saja kamu," ucap Rindu sambil mengibaskan tangannya. Kemudian Ia tertawa sembari menutup mulutnya dengan kedua tangan.


Begitu juga dengan Robi, saat ini dirinya malah menertawakan Adrian, bahkan sampai terpingkal-pingkal. Sementara Adrian yang melihat kedua sahabatnya itu menertawakan dirinya, kemudian Ia mengambil sebuah buku menu yang berada di atas Meja, kemudian Ia melemparkannya ke pada Robi.


" Kau ini... Aku bertanya serius ke pada Rindu, kau malah ikut-ikutan menertawakan diriku," ucap Adrian dengan sangat kesal.


" Hei... bro, maafkan diriku, masa dirimu sendiri mengakui kalau kau ini aneh, kan lucu," ucap Robi. Sambil menahan diri untuk tidak tertawa lagi.


Kemudian Robi melirik sekilas kearah Rindu. Dan memberi isyarat kepada sahabatnya itu, untuk menenangkan hati Andrian yang sepertinya sedang mengalami bad mood.


" Adrian, aku juga minta maaf karena diriku juga telah menertawakan dirimu," ucap Rindu sambil memegang kedua telinganya.


Sedangkan Adrian yang mendengar permintaan maaf dari kedua sahabatnya itu, kemudian Ia mengalihkan pandangannya ke arah samping. Lalu Ia pura-pura ngambek, karena dirinya ingin mengerjai Robi dan Rindu.


" Hm...!" ucapnya kemudian.


Rindu yang melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Adrian, kemudian Ia kembali meminta maaf.


" Maaf, kami tidak akan mengulanginya lagi," ucap Rindu untuk kedua kalinya.

__ADS_1


Mendengar permintaan maaf dari Rindu. kemudian Adrian menatap wajah Robi dan Rindu secara bergantian. Lalu Ia menarik nafasnya dalam, karena Ia sendiri sebenarnya tidak tega untuk mengerjai kedua sahabatnya itu.


" Baiklah, kali ini aku akan memaafkan kalian berdua, tapi lain kali, aku tidak akan pernah mengampuni kalian berdua lagi, terutama kau Robi," ucap Adrian dengan sangat datar.


Namun, setelah selesai mengucapkan kalimat tersebut, kemudian Ia memegang kepalanya, yang terasa sedikit berdenyut.


" Aduh...! Kenapa kepalaku terasa sangat sakit," ucap Adrian sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Dan sejurus kemudian iapun menutup kedua matanya, dan tiba-tiba wajah Tania muncul sekilas di dalam pikirannya.


" Ada apa denganku, kenapa wajah gadis aneh itu muncul di dalam pikiranku? Ada apa ini sebenarnya." batin Adrian. kemudian Ia langsung membuka matanya dengan sangat cepat.


Sedangkan Robi dan Rindu yang melihat kejadian tersebut, kemudian mereka langsung berdiri dari tempat duduknya.


" Apa yang terjadi dengan mu Adrian?" tanya Rindu sambil mengusap punggung Adrian.


" Apakah kau baik-baik saja?" tanya Robi.


Tanpa menjawab pertanyaan kedua sahabatnya, Adrian malah Ia berteriak tidak karuan, sehingga membuat Robi dan Rindu merasa sangat panik.


" Bagaimana Robi, apa kita perlu membawanya ke rumah sakit, aku takut terjadi sesuatu dengannya," ujar Rindu.


Sedangkan Adrian yang mendengar samar-samar tentang topik pembicaraan kedua sahabatnya itu, kemudian Ia menjawab pertanyaan Rindu.


Rindu dan Robi yang mendengar ucapan Adrian barusan, keduanya langsung bergegas dengan sangat cepat mengantarkan Adrian kerumahnya.


Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai ke rumah Adrian.


Bu Rianti langsung menghampiri anaknya Adrian, ketika sudah sampai di depan pintu.


" Nak, kau tidak apa-apa kan," ucapnya sambil memeluk Adrian dengan sangat erat. kemudian Ia memegang wajah Adrian yang tampak sedikit pucat.


" Iya Bunda, aku tidak apa-apa, mungkin diriku hanya sedikit lelah saja. Jadi, Bunda tidak perlu merasa khawatir," ucap Adrian. Sambil tersenyum kearah Bundanya.


" Tapi Nak, wajahmu terlihat sedikit pucat, apa perlu Bunda menelpon dokter pribadi keluarga kita," ujar Bu Rianti tampak khawatir dengan keadaan anaknya.


" Bunda, aku tidak apa-apa, percayalah, aku hanya butuh istirahat," ucap Adrian. meyakinkan Bundanya.

__ADS_1


" Baiklah Nak, kalau begitu Bunda akan mengantarkan mu, kedalam kamar," ujar Bu Rianti dengan sangat lembut.


Kemudian Bu Rianti memegang tangan Adrian. Dan menuntunnya masuk kedalam kamar.


💦💦💦


Sedangkan Tania yang sudah sampai di rumah pamannya, Ia langsung berlari menuju kamarnya.


Namun, pada saat dirinya hendak masuk kedalam kamar, tiba-tiba ibunda Rindu memanggilnya dari arah belakang.


" Tania sayang, kau kenapa bersedih nak," ucapnya langsung memeluk Tania.


Tania yang mendapat pelukan dari Ibundanya Rindu, langsung menumpahkan air mata kesedihannya, dan menangis sejadi-jadinya di dalam pelukannya.


Ibunda Rindu yang melihat hal itu, membuat hatinya merasa sangat iba atas apa yang menimpa keponakannya itu.


" Kau kenapa sayang, ayolah ceritakan kepada ku, siapa tau setelah menceritakan masalah mu padaku, hatimu merasa sedikit lega," ucapnya sambil mengusap rambut Tania dengan penuh kasih sayang.


Mendengar ucapan ibundanya Rindu, Tania pun menoleh sekilas kearah wajah ibunda Rindu, Lalu Ia menangis kembali.


Hei... Jangan menangis lagi," ucap Ibundanya Rindu sambil menuntun Tania untuk masuk kedalam kamarnya.


Di Dalam Kamar


Dengan desakan ibundanya Rindu, akhirnya Tania mulai menceritakan sedikit demi sedikit masalah yang dihadapinya.


" Tapi sekarang, apa yang terjadi denganmu? kenapa kau pulang tiba-tiba menangis, sebenarnya apa yang membuatmu jadi seperti ini Nak? Dan satu hal lagi, sekarang Rindu berada di mana, kenapa dia tega meninggalkan mu sendiri, apa itu yang membuatmu bersedih sayang?" tebak ibunda Rindu sambil mengangkat dagu Tania sedikit menghadapnya.


" B... bukan seperti itu, aku mohon jangan salahkan Rindu, sebab Ia tidak bersalah sama sekali dalam hal ini, aku menangis bukan karena dia, tapi ada sesuatu hal yang tidak ingin aku ceritakan terhadap siapapun," ujar Tania seraya menundukkan kepalanya.


Mendengar ucapan Tania barusan, membuat ibunda Rindu tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Ia hanya bisa pasrah, tanpa mau mendesak Tania, karena menurutnya, tidak ada gunanya memaksa seseorang bercerita, kalau orang tersebut tidak ingin menceritakannya.


" Baiklah sayang, lebih baik kau istirahat saja, siapa tau setelah beristirahat pikiran mu menjadi tenang," ucap Ibunda Rindu.


Kemudian Ia menuntun Tania ke atas ranjang. Dan setelah Tania membaringkan tubuhnya di atas ranjang, kemudian Ia langsung menyelimutinya.

__ADS_1


" Tidurlah dengan nyenyak sayang. Dan aku berharap setelah kau membuka matamu kembali semua masalah yang kamu hadapi akan hilang dari pikiranmu. Dan berganti dengan kebahagiaan," ucapnya sambil mengusap rambut Tania.


Setelah melihat Tania sudah tertidur pulas, kemudian Ia meninggalkan kamar Tania. Dan menutup pintunya dengan perlahan.


__ADS_2