
" Reyboy, tanpa aku kasih tau juga aku rasa kamu sudah tau bagaimana tugasmu," ujar Albert datar.
" Iya Tuan."
Kemudian Reyboy melirik kearah anak buahnya sambil mengibaskan tangan. Kemudian Reyboy masuk kembali ke dalam mobilnya, begitu juga dengan Albert dan Will.
Dalam perjalanan menuju markas besar Tuan Hans, tampak sebuah mobil sport berwarna hitam menghalangi jalan mereka. Hingga membuat Reyboy merasa sangat kesal. Lalu dia pun akhirnya menyalip mobil tersebut.
Kemudian dia turun dari dalam mobil dan menghampiri orang yang berpakaian terlihat biasa itu.
" Kau siapa? berani menghalangi jalan kami, hah...!" bentaknya dengan sangat kencang.
" M... maaf saya Tuan, aku ini hanyalah orang biasa, dan tidak mengenal Tuan," ucapnya terbata.
" Hm... untuk kali ini aku maafkan, tapi lain kali aku akan memberikan mu pelajaran, dan sekarang lebih baik kamu singkirkan mobil butut mu ini dari hadapan kami," ujar Reyboy sambil menghempaskan tubuh orang tersebut dengan sedikit kasar. Kemudian dia kembali masuk kedalam mobilnya.
__ADS_1
Albert yang melihat kejadian tersebut, lalu dia menggelengkan kepala. Hanya karena perjalanan Reyboy di halangi sedikit saja dia sampai berbuat seperti itu.
Setelah kejadian tersebut, Reyboy bersama rombongannya kembali melanjutkan perjalanan menuju markas besar Tuan Hans.
Namun, berbeda dengan orang yang di tegur oleh Reyboy sebelumnya. Setelah Reyboy meninggalkan tempat itu bersama rombongannya, Tampak saat ini dia sedang menyunggingkan senyuman tipis. lalu dia meraih ponsel yang berada di saku kantong celananya. Kemudian dia men-dial nomor telepon seseorang.
Tanpa butuh waktu lama, orang tersebut langsung menerima panggilan telponnya.
" Hallo ada apa Gery?" tanya Zen. Ya, orang yang di tegur oleh Reyboy sebelumnya adalah anak buah Zen.
" Apa...?" teriak Zen.
Zen sangat terkejut mendengar laporan anak buahnya barusan. Hingga membuat dirinya sampai terperanjat.
" Siapa yang telah memberitahukan kepada mereka tempat persembunyian ku," teriak Zen. Hingga membuat Gery sampai menjauhkan Ponsel itu dari alat pendengarannya.
__ADS_1
" Aku tidak tau Bos, tapi aku pikir lebih baik kita secepatnya pergi dari kota ini, sebelum Albert dan Will datang ke rumah Nyonya Amarta itu," ucap Zen mengingatkan.
" Baiklah, aku akan bersiap-siap, dan tunggu aku diluar gerbang, dan aku harap jangan sampai ada yang curiga, bersikaplah seperti biasa," ucap Zen. Lalu dia mematikan sambungan Ponselnya.
Tidak butuh waktu lama, mobil Gery pun sudah sampai di depan gerbang pintu masuk rumah Nyonya Amarta, kemudian dia memakai masker agar tidak ada yang mengenali dirinya. Lalu Gery kembali menghubungi Zen.
" Bos, aku sudah sampai. Dan aku menunggumu di luar pintu gerbang," ucap Gery.
" Baik, Lima menit lagi aku sampai," jawab Zen. Kemudian dia langsung mematikan sambungan Ponselnya.
Gery yang menunggu kedatangan Zen di luar gerbang, sampai harap-harap cemas. Pasalnya di tengah perjalanan menuju rumah Nyonya Amarta, dia melihat kalau Albert dan Will sudah dalam perjalanan menuju ke arah rumah Nyonya Amarta.
Untung Gery mengetahui jalan pintas, hingga dirinya bisa mendahului rombongan Albert.
Sesuai janji Zen, Lima menit kemudian, akhirnya dia pun sampai di luar pintu gerbang. Dan tanpa basa-basi Zen dan Gery pun langsung meluncur secepat kilat meninggalkan rumah Nyonya Amarta.
__ADS_1