Ternyata Aku Keturunan Sultan

Ternyata Aku Keturunan Sultan
Bab 36


__ADS_3

Setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan. Kini tibalah mereka semua di depan Mension mewah keluarga Bridam. Will pun turun dari dalam Mobil Limousine warna hitam keluaran terbaru itu dengan sedikit tergesa. Lalu dia membuka pintu Mobilnya.


" Tuan muda Albert, kita sudah sampai di Mension keluarga Bridam," ucapnya sambil membungkuk hormat.


" Baiklah," jawab Albert singkat. kemudian dia langsung turun dari dalam mobil.


Sedangkan Tuan Simon yang berada di belakang Albert, ketika dia melihat cucunya keluar dari dalam mobil, Iapun langsung menghampirinya.


" Cucuku Albert, mari kita masuk ke dalam bersama," ucapnya sambil menggandeng tangan Albert.


" Baik Kakek."


Kakek dan Cucu itupun berjalan beriringan memasuki Mension mewah itu, dengan sesekali Tuan Simon memancarkan senyum kebahagiaan di wajah tuanya.


Namun, berbeda dengan Albert. Sejak, turun dari dalam mobil hatinya tidak bisa tenang, karena selalu terlintas dipikirannya bayangan-bayangan masa lalunya. Sehingga pas dia sampai di depan pintu dirinya langsung berteriak.


" Ah...!" teriaknya menggelegar di seluruh ruangan itu. sambil memegang kepalanya dengan kedua tangan. kemudian dia berjongkok di depan pintu.


Sedangkan Nyonya Amarta yang kebetulan berada di ruang tamu, begitu mendengar suara teriakan yang memekakkan telinga itu, diapun langsung berlari kecil untuk memeriksanya.


" Siapa yang berteriak di siang bolong begini, apa mungkin terjadi sesuatu diluar?" batinnya. sambil terus melangkah hingga akhirnya dia sampai di depan pintu.


Namun, ketika dirinya sampai di depan pintu. Dan melihat ayah mertuanya sedang berdiri bersama dengan seseorang diapun merasa dongkol, karena telah mengganggu aktifitasnya membaca majalah kesukaannya.


" Aku pikir siapa? ternyata Kakek tua itu yang membuat ulah," batinnya kemudian.


Lalu wanita paruh baya yang tampak awet muda nan anggun itupun kembali membalikkan badan, dan berniat melanjutkan kembali aktifitasnya. tapi baru juga dia melangkah hingga beberapa meter, kemudian dia berhenti.


" Eh... Tunggu sebentar! siapa gerangan yang bersama dengan ayah mertuaku itu," pikirnya dalam hati. lalu dia membalikkan badan. Dan berniat menyapanya.


Namun, ketika dia hendak bertegur sapa. Tiba-tiba saja datang Will mendahului langkahnya.

__ADS_1


" Tuan muda Albert, anda tidak apa-apa?" tanya Will terlihat sangat khawatir dengan keadaan Albert.


Begitu juga dengan Tuan Simon, dirinya juga tampak sangat cemas mendengar teriakkan Albert barusan. hingga dia mensejajarkan tubuhnya dengan Albert.


" Kau tidak apa-apa cucuku?" tanya Tuan Simon mengulangi pertanyaan Will barusan.


" Aku tidak apa-apa Kakek," jawab Albert. kemudian dia berdiri kembali. Lalu di ikuti oleh Tuan Simon dan Will.


Namun, berbeda dengan Nyonya Amarta yang tidak jauh dari tempat berdirinya Tuan Simon dan Albert. Ketika dia mendengar samar-samar pembicaraan Ayah mertuanya itu bersama dengan Will. Kemudian Ia kembali menajamkan pendengarannya.


" Aku tidak mungkin salah dengar? Nama Pemuda itu adalah Albert," batinnya. sambil melangkah dan memastikan kebenaran tentang apa yang dia dengar barusan.


Namun, baru juga Nyonya Amarta hendak melangkah. Tiba-tiba Tuan Simon dan Albert masuk ke dalam Mension di ikuti oleh Will di belakang mereka.


Melihat hal itu, Nyonya Amarta mulai menajamkan penglihatannya ke arah Pemuda yang berdiri di samping ayah mertuanya itu.


" Albert. kau adalah Albert, aku tidak mungkin salah lihat, karena penglihanku ini masih normal," ucapnya dengan sangat terkejut. Bahkan bola matanya hampir keluar dari sarangnya, melihat Albert berdiri di hadapannya. Namun, sejurus kemudian diapun baru menyadari satu hal.


" B...b... bukankah kau sudah mati," tunjuknya terhadap Albert dengan terbata.


" Amarta.... Jaga bicaramu, Albert cucuku masih hidup, dan sekarang dia sedang berdiri di sampingku," bentak Tuan Simon terhadap menantunya itu.


Nyonya Amarta yang mendapat tatapan tajam sekaligus bentakan keras dari Ayah mertuanya itu. kemudian dia menunduk. Walaupun sebenarnya di dalam hatinya dia merasa sangat kesal, marah, benci, bercampur aduk di dalam benaknya. tapi, kalau dihadapan Tuan Simon dia tidak bisa berbuat apa-apa.


Melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh menantunya itu, kemudian dia memanggil kepala Pelayan Eric.


" Eric... Eric," panggil Tuan Simon dengan sangat keras, karena dirinya saat ini sangat marah mendengar apa yang di katakan oleh Menantunya itu barusan.


" Apa Tuan," jawab Eric menghampiri Tuan Simon.


" Cepat antarkan Cucuku Albert ke dalam kamarnya, karena aku ingin bicara empat mata dengan menantuku Amarta saat ini juga," ucapnya masih mengandung ke marahan di setiap kalimatnya.

__ADS_1


Sedangkan Eric yang mendengar ucapan Tuan Simon barusan, kemudian dia mengerutkan keningnya. Lalu dia memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya menghadap Tuan Simon.


" Tu....," ucapnya tiba-tiba berhenti. karena dirinya melihat Albert berdiri di samping Tuan Simon.


" Apa lagi Eric, apa kau juga kaget melihat melihat keberadaan cucuku, dan apa kau juga berpikir kalau selama ini Albert sudah mati," ujar Tuan Simon.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Tuan Simon, kemudian Eric kembali menundukkan kepalanya.


" Aku tidak berani berpikir seperti itu Tuan," jawabnya kemudian.


" Baguslah, kalau begitu cepat kau antarkan Albert masuk ke dalam kamarnya dan urus dia dengan baik, sedangkan kau menantuku Amarta, cepat temui aku di ruang kerja," ucapnya sambil berlalu pergi meninggalkan Albert bersama dengan Eric.


Eric yang sudah melihat kepergian Tuan Simon, kemudian dia menghampiri Albert dan membawanya masuk ke dalam kamar seperti yang dikatakan oleh Tuan Simon.


Sedangkan Nyonya Amarta, dirinya mulai bergegas menuju ruang kerja ayah mertuanya itu.


" Will, buka pintunya," pinta Nyonya Amarta terhadap Will, ketika dia sudah sampai di depan pintu ruang kerja ayah mertuanya itu.


" Baik Nyonya, silahkan masuk," ucap Will dengan sangat ramah.


Nyonya Amarta yang melihat ke ramahan yang ditunjukkan oleh Will terhadapnya, kemudian dia hanya menatap Will dengan sangat kesal.


" Awas kau Will, kalau ada kesempatan. aku juga akan melakukan sesuatu terhadapmu," batin Nyonya Amarta. sambil berjalan anggun masuk ke dalam ruang kerja ayah mertuanya itu.


Di Dalam Ruang Kerja Tuan Simon


Nyonya Amarta langsung duduk di atas kursi yang berhadapan dengan Tuan Simon.


" Katakan ayah, apa yang membuatmu marah tentang apa yang aku ucapkan barusan, bukankah itu kenyataan kalau Albert sebelumnya sudah kita anggap sudah mati," ujarnya.


" Aku marah bukan karena hal sepele itu, tapi aku marah, karena mendapat informasi barusan, kalau kau yang merencanakan untuk membunuh cucuku Albert, apakah benar apa yang aku tuduhkan itu padamu?" tanya Tuan Simon.

__ADS_1


Seketika, Nyonya Amarta langsung berdiri dari tempat duduknya, saat mendengar tuduhan ayah mertuanya itu terhadap dirinya.


" Ayah mertua, apakah kau punya bukti, sehingga dirimu dengan mudahnya menuduhku melakukan hal keji seperti itu," kilah Nyonya Amarta sambil tersenyum. menutupi kegugupan dirinya.


__ADS_2