
Satu Minggu Kemudian
Keadaan Adrian kini sudah mulai membaik. Dan sekarang dia sedang berada di dalam kamar bersama Bundanya sambil berbincang dengan santai.
Sedangkan kakeknya Tuan Simon, sedang berbincang dengan Tuan Hadi, dan rencananya dia akan membawa Albert pulang ke Mension Keluarganya saat ini juga.
Mendengar hal itu, Tuan Hadi sempat meneteskan air mata, sebab dirinya sangat merasa sedih atas kehilangan anaknya Adrian.
" Tuan, tidak bisakah kau menundanya sampai besok pagi," ucapnya tanpa mampu melihat ke arah Tuan Simon.
Tuan Simon menarik napas dalam, ketika mendengar ucapan Tuan Hadi barusan. Sehingga membuat dirinya tidak tega memisahkan Albert dengan keluarga itu. Tapi apa boleh buat, Jika dirinya tidak membawa Albert pulang sekarang, dia takut nanti menantunya Amarta akan semakin berkuasa atas seluruh harta dan perusahaan yang telah dia bangun dengan susah payah, hingga menjadi perusahaan raksasa seperti sekarang ini.
" Maafkan aku Tuan Hadi, sebenarnya diriku tidak tega memisahkan cucuku Albert dengan kalian. Apa lagi aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri, kalau kamu dan istrimu sangatlah menyayangi Albert, tapi....!" ucapnya terpotong karena Tuan Hadi langsung memotong pembicaraannya.
" Tapi apa Tuan," tanya Tuan Hadi.
Kemudian Tuan Simon menundukkan wajahnya menghadap ke arah lantai. Lalu dia kembali menghembuskan napasnya. sambil menatap lurus ke depan.
" Aku sangat membutuhkan cucuku Albert, demi kelangsungan perusahaan yang aku bangun selama ini dengan susah payah, apa lagi saat ini, menantuku Amarta sangat ingin menguasai seluruh harta dan perusahaan ku. Jadi, aku minta maaf sekali lagi kepada kalian agar mengijinkan diriku untuk membawa Albert sekarang juga," ujar Tuan Simon dengan sangat pelan.
Sedangkan Nyonya Rianti yang baru saja turun dari kamar Adrian dan mendengar ucapan Tuan Simon barusan, kemudian dia langsung bergegas menghampiri Tuan Simon.
" T... Tuan, apa yang kau katakan barusan? apa mungkin aku salah dengar?" tanya Nyonya Rianti dengan terbata. Tanpa terasa air matanya sudah mulai menetes.
Tuan Simon dan Tuan Hadi yang sedang duduk di atas Sofa, begitu mendengar pertanyaan Nyonya Rianti, mereka berdua langsung berdiri. Lalu Tuan Hadi berjalan perlahan untuk menghampiri sang istri, kemudian dia memeluknya.
" Kau tidak salah dengar istriku, Tuan Simon memang berniat membawa cucunya sekarang juga," ujar Tuan Hadi.
__ADS_1
Mendengar hal itu, Nyonya Rianti langsung melepaskan pelukannya dari sang suami, kemudian dia membalikkan tubuhnya menghadap Tuan Simon, sambil menyatukan kedua tangannya.
" Tuan, jangan kau pisahkan aku dengan Adrian, aku benar-benar sangat menyayanginya," ucap Nyonya Rianti, dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
" Nyonya, aku tau kalau kamu sangat menyayangi Albert. Dan aku juga tidak berniat memisahkan mu dengannya. Jika anda berkenan, kamu boleh berkunjung ke Mension Keluarga kami, kapanpun anda mau," ujar Tuan Simon.
Tanpa mampu mengucapkan sepatah katapun, kemudian Nyonya Rianti membalikkan badannya menghadap suaminya. lalu dia kembali memeluknya dengan sangat erat.
" Tolong lakukan sesuatu Pah, aku benar-benar tidak sanggup berpisah dengan Adrian, dan kalau nanti dia meninggalkan kita, aku takut dirinya akan melupakan ku, dan aku tidak ingin hal itu terjadi," ucapnya, sambil menangis dengan tersedu.
Sedangkan Tuan Hadi yang mendengar pernyataan istrinya, tanpa sadar diapun sempat meneteskan air mata. kemudian Ia menutup mata sambil menarik napas dalam dan menghembuskan nya secara perlahan. berharap agar suasana hati dan pikirannya agar bisa tenang kembali.
" Sudahlah Mah, kau tidak perlu bersedih seperti ini, aku yakin anak kita Adrian tidak mungkin melupakanmu secepat itu, dan Papa juga akan berusaha agar kita nanti bisa selalu bertemu dengan Adrian," ujarnya sambil mengusap punggung istrinya dengan sangat lembut.
💦💦💦
" Tuan, Jet pribadinya sudah siap berangkat," ujar Will pada Tuan Simon.
" Tunggu sebentar lagi Will," ucapnya. sambil melirik ke arah Nyonya Rianti yang belum melepaskan pelukannya terhadap Albert.
Hingga beberapa menit berlalu, Nyonya Rianti masih enggan melepaskan pelukannya terhadap Albert, sehingga mau tidak mau Tuan Hadi pun akhirnya ikut andil dalam memisahkan Albert dengan Istrinya.
" Mah, sudahlah biarkan Albert pergi bersama dengan keluarganya, kalau Papa nanti ada waktu luang, aku janji akan membawa Mama untuk bertemu dengan Albert kembali," ujarnya.
Sedangkan Albert yang mendengar ucapan Ayahnya diapun hanya bisa menganggukkan kepala. sebab, tidak dapat di pungkiri bahwa dirinya juga sangat sedih meninggalkan Bundanya.
" Aku pamit Bunda, jaga dirimu baik-baik. Dan seperti Ayah bilang tadi kalau Bunda ada waktu luang, silahkan berkunjung ke Mension Keluarga Bridam," ucap Albert. sambil melepaskan genggaman tangan dari wanita yang dia anggap sebagai Bundanya itu.
__ADS_1
Tangis Nyonya Rianti semakin pecah, ketika Albert benar-benar meninggalkan dirinya.
" Albert anakku," panggil Nyonya Rianti dengan sedikit berteriak.
Namun, suaranya itu tak terdengar lagi oleh Albert, karena Albert sudah masuk ke dalam Jet pribadi itu. Dalam hitungan menit, akhirnya Jet pribadi itupun langsung mengudara di atas awan.
💦💦💦
Hingga beberapa Jam berlalu, kini Tuan Simon, Will dan juga Albert sudah sampai di Bandara yang dijemput oleh salah satu anak buahnya dengan nama Botak.
Botak pun turun dari dalam mobil mewahnya, dan berniat untuk menyambut kedatangan Tuan Simon yang baru saja melakukan perjalanan bisnis di luar negeri.
Namun, langkah kakinya tiba-tiba berhenti, ketika melihat seseorang yang sudah lama menghilang dan kini ikut bersama dengan Tuan Simon. Lalu dia menajamkan penglihatannya kearah Albert sambil sesekali mengucek kedua matanya. Berharap, Ia benar-benar tidak salah lihat. Dengan hati yang gembira, kemudian dirinya berjalan mendekat ke arah Albert.
" T... Tuan muda Albert. apakah itu benar-benar kau?" tanya Botak dengan terbata. kemudian dia hendak memeluk Albert sangking senangnya melihat kembali Tuan mudanya yang sudah di vonis mati. Tapi ternyata masih hidup dan kini keadaannya sehat tanpa ke kekurangan apapun.
Will yang melihat tindakan anak buahnya yang bernama Botak itu, lalu dia segera menarik kerah bajunya agar tidak bertindak macam-macam.
Sedangkan Botak yang mendapat perlakuan seperti itu dari Will, kemudian dia langsung tersadar atas tindakan yang dilakukannya barusan. Lalu Ia tersenyum manis kearah Will.
" Maafkan aku Tuan Will, diriku hanya terlampau senang melihat kembali Tuan muda kita Albert," ucapnya kemudian.
" Hm...Tidak masalah. Tapi lain kali jaga sikapmu, karena Tuan muda kita Albert belum sembuh total," ucap Will dengan sangat datar.
" Baik Tuan," ucap Botak. sambil menunduk dengan hormat.
Kemudian dia langsung mengarahkan rombongan itu, menuju tempat Mobilnya terparkir.
__ADS_1