Ternyata Aku Keturunan Sultan

Ternyata Aku Keturunan Sultan
Bab 41


__ADS_3

Setelah sepersekian menit menunggu, Botak akhirnya datang ke gudang dengan menjinjing seember air Es di tangannya. Kemudian dia langsung menyerahkan ember itu kepada Will.


Will langsung menerima air Es itu, lalu dia meletakkannya di samping Kursi. Sedangkan Botak, setelah dia menyerahkan ember yang berisi air Es itu kepada Will, diapun langsung pamit undur diri.


" Baiklah, terima kasih Botak, kau tunggulah di luar pintu, siapa tau aku akan membutuhkan mu lagi," ucap Will dengan sangat datar.


" Oke Bos," jawab Botak. lalu dia keluar dari dalam gudang itu dengan sangat tergesa.


Setelah kepergian Botak dari dalam gudang, kemudian Will kembali duduk di atas kursi, sambil memandang ke arah Nyonya Amarta yang sampai saat ini masih belum sadarkan diri.


Dengan seringai dingin, Will kembali menatap kearah Nyonya Amarta. Lalu dia memercikkan air Es itu ke wajahnya.


" Hei. Bangun kau wanita ular, aku tidak punya banyak waktu untuk bermain-main denganmu," ucapnya sambil terus menerus memercikkan air Es itu ke wajah Nyonya Amarta.


Sepersekian detik kemudian, Nyonya Amarta mulai membuka mata dengan perlahan. Sebab, saat ini dia merasakan kalau wajahnya sangat begitu dingin, sehingga membuat tubuh setengah tua itu menggigil hebat.


" Ada apa ini, bukankah tadi aku tidur di dalam kamarku, tapi kenapa aku bisa sampai disini," batinnya sambil memperhatikan seluruh ruangan itu yang tampak remang.


" Hei. apa ada orang? cepat kalian lepaskan ikatan tangan dan kakiku," teriaknya. Setelah menyadari kalau saat ini tangan dan kakinya di ikat dengan tali. Bahkan dia sampai tidak bisa bergerak, karena ikatan itu sangat kencang.


Namun, sekuat dan sekencang apapun dia berteriak, tetap saja tidak ada yang mendengar teriakannya. kecuali Will yang tampak menyunggingkan senyuman di dalam pojok ruangan itu.


Tanpa basa-basi lagi, Will segera mendekat kearah Nyonya Amarta. Setelah dia melihat kalau wanita itu sudah mulai putus asa.


Dengan gaya coolnya, Will berjalan perlahan sambil menyunggingkan senyuman.


" Aku akan memberikan mu pelajaran wanita ular," batin Will.

__ADS_1


Lalu dia kembali tersenyum saat melihat ke putus asaan Nyonya Amarta. Dan sejurus kemudian Will langsung bertepuk tangan ketika dia sudah berjarak sekitar tiga langkah lagi dari Nyonya Amarta.


Sedangkan Nyonya Amarta yang mendengar suara tepuk tangan itu, kemudian dia mengangkat kepalanya sambil menatap lurus ke depan.


" Will...!" ucapnya dengan sangat terkejut. Ketika dia sudah melihat tubuh Will sudah berdiri di hadapannya.


" Ya. Ini aku. apa kau terkejut melihat ku berada disini, Nyonya...!" ucap Will dengan sangat datar.


" Huh....! apa yang kau inginkan dariku? tanya Nyonya Amarta tanpa basa-basi. Kemudian dia menatap kearah Will dengan sangat tajam.


Kemudian Will tersenyum. Lalu dia berjongkok di hadapan Nyonya Amarta.


" Tidak banyak. Aku hanya ingin kau mengakui keterlibatan dirimu saat Tuan muda Albert tenggelam di pulau Bali. Dan satu hal lagi Nyonya. Aku dan Tuan Simon sangat berterima kasih padamu, karena Ide cemerlang mu mendorong Tuan muda Albert di tangga. Akhirnya penyakit Amnesia atau lupa Ingatannya kembali sembuh dengan total. Sekali lagi terima kasih banyak," ujar Will dengan sangat datar.


" Apa...! Albert sudah mengingat kembali masa lalunya?" ujar Nyonya Amarta dengan sangat terkejut. Bahkan bola matanya hampir keluar dari sarangnya. saat mendengar penuturan Will barusan.


" Iya. Tuan muda Albert sudah sembuh, itu adalah berkat anda."


" Sudahlah Nyonya, anda tidak perlu merasa terkejut seperti itu, Dan sekarang lebih baik kau mengakui keterlibatan dirimu, kalau tidak...!" ucap Will tiba-tiba menghentikan kata-katanya. karena Nyonya Amarta langsung memotong perkataannya.


" Kalau tidak, apa Will? apa kau dan Tuan mu itu akan membunuhku. Huh...! Aku tidak takut sama sekali dengan ancaman murahan kalian," jawab Nyonya Amarta sambil menarik ujung bibirnya ke arah samping.


Will langsung tertawa terbahak saat melihat keberanian yang di tunjukkan oleh Nyoba Amarta. Namun, sejurus kemudian Will langsung meraih air Es yang berada di samping Kursinya. Lalu dia mengguyur sekujur tubuh Nyonya Amarta dengan air Es itu.


" Kau pikir ini hanya guyonan. Hah...! kalau kau tidak mengakui keterlibatan dirimu sekarang, aku akan mengirimmu ke kaki gunung*****. Dan Nyonya tau sendiri kan di sana itu cuacanya sangat ekstrim. Apa lagi aku sempat mendengar kabar, kalau di tempat itu banyak hewan buas yang siap mencabik-cabik tubuh mu itu," ucap Will.


Seketika tubuh Nyonya Amarta menggigil hebat, menahan dinginnya air Es itu. Apa lagi saat Will mengatakan kalau dirinya akan di kirim ke kaki gunung***** . Namun, walaupun begitu dia belum juga menyerah.

__ADS_1


" Jika aku mengakuinya, kompensasi apa yang aku dapat," ucapnya kemudian.


" Akhirnya, aku tidak perlu mengotori tanganku ini dengan darahnya," batin Will.


Kemudian dia tersenyum.


" Nyonya. Jika Anda mengaku sekarang, syaratnya sangatlah gampang. kau hanya perlu meninggalkan Mension untuk selama-lamanya. Robert juga akan aman berada di Mension. Dan dia juga akan mendapat kasih sayang yang sama dengan Tuan muda Albert," ujar Will.


Nyonya Amarta terdiam sejenak memikirkan tawaran yang disampaikan oleh Will ke padanya. Sambil mempertimbangkan apa yang harus dia lakukan sekarang. Namun, tiba-tiba. Dia kembali menajamkan pandangan matanya ke arah Will.


" Jika aku tetap tidak mengakuinya bagaimana, apakah kamu akan melepaskan diriku?" tanya Nyonya Amarta.


" Tidak semudah itu Nyonya, anda mau mengakuinya atau tidak, aku akan tetap mengurang mu di dalam gudang ini selama-lamanya, kalau perlu anakmu Robert akan ikut bertanggung jawab atas kesalahan yang tidak pernah dia lakukan. Jadi, silahkan kau pilih. mau di kurung di dalam gudang, di buang ke kaki gunung*****, Atau bebas, ke manapun kau pergi, asal jangan tinggal di kota ini lagi," ucap Will dengan penuh tekanan.


Nyonya Amarta langsung terdiam mendengar ucapan Will barusan. Dengan tubuh yang mulai menggigil hebat, dia langsung mengakui kalau dirinyalah dalang di balik tenggelamnya Albert waktu di Pulau Bali.


" Aku sudah mengakuinya, dan sekarang lepaskan aku Will," ujar Nyonya Amarta dengan bibir yang mulai bergetar, karena menahan dinginnya air Es.


" Tunggulah sebentar lagi Nyonya, kau kan belum menjawab semua pertanyaan dariku," ujar Will dengan seringai dingin.


" Apa lagi yang kau inginkan dariku Will."


Will, langsung tersenyum tipis. kemudian dia mengambil sebatang***** dari dalam saku celananya, dan menyalakannya di depan Nyonya Amarta dengan sangat santai.


" Santai lah sedikit Nyonya....! Aku hanya ingin mengetahui, kelompok mana yang bekerja sama denganmu, dan begitu berani untuk mencelakai cucu kesayangan Tuan Simon," ucap Will.


Nyonya Amarta langsung terkejut mendengar ucapan Will.

__ADS_1


" Bagaimana ini? aku tidak mungkin mengatakan kalau kelompok serigala hitam lah yang membantu diriku," batinnya kemudian.


Lalu dia menundukkan kepalanya dengan perasaan yang mulai berkecamuk.


__ADS_2