
" Kau siapa? kenapa ponsel Botak ada bersama denganmu? apa kau ini adalah pencuri?" tebak Albert.
" Kalau kau adalah pencuri, cepat berikan ponsel itu pada pemiliknya, ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengannya, cepatlah...!" teriak Albert cukup keras.
Hingga membuat orang yang menerima panggilan telpon dari Albert sampai menjauhkan Ponsel itu dari telinganya.
Kemudian Albert kembali memarahi orang tersebut habis-habisan.
Namun, berbeda dengan orang yang menerima panggilan telpon dari Albert, Ia cukup tenang tanpa mau membalas perkataan Albert sedikitpun.
" Mungkin dia terlalu khawatir dengan seseorang hingga dia tak mampu mengontrol emosinya," batinnya kemudian.
Cukup lama Albert mengoceh tak karuan, namun yang membuat dia merasa bingung, kenapa orang yang dia bentak sejak tadi itu tidak pernah membalas perkataannya sedikitpun. Apakah dia tuli? tapi itu tidak mungkin, bukankah dia tadi sempat mendengar suara orang tersebut.
Albert terdiam cukup lama.
Hingga suara orang yang memegang ponsel Botak memecah lamunan Albert.
" Tuan, apakah kau sudah selesai menumpahkan emosimu padaku? jika kau sudah selesai biarkan aku bicara dan dengarkan perkataan ku."
" Aku jelaskan padamu Tuan, bahwa aku memang mengambil ponsel ini dari saku celana seseorang yang sedang pingsan, dan sekarang dia sedang berada di d*epan toilet perempuan, dan saat ini laki-laki yang terlihat berotot itu belum juga sadarkan diri," ujarnya kemudian.
Albert semakin khawatir mendengar penjelasan orang yang tidak dia kenal tersebut. Lalu dia menanyakan apakah seorang perempuan terlihat bersama dengan laki-laki yang pingsan tersebut.
" Tidak ada Tuan, dia hanya sendiri dan aku menemukannya tergeletak di lantai begitu saja," ucap orang itu apa adanya.
" Ya sudah, terima kasih informasinya. Maafkan aku yang telah berkata kasar padamu tadi," ujar Albert.
" Tidak apa-apa Tuan," jawab orang tersebut.
Lalu Albert mematikan sambungan Ponselnya, dan sejurus kemudian dia langsung berlari kecil menuju meja dimana dia dan Will sedang melaksanakan meeting bersama dengan klien.
__ADS_1
Albert yang sudah sampai, kemudian dia duduk di atas kursi. Lalu dia melihat para kolega bisnisnya yang saat ini sedang menatap dirinya dengan serius.
Sedangkan Pak Hasan yang melihat ekspresi wajah Albert, kemudian dia memberanikan diri untuk bertanya.
" Tuan muda Albert, apa terjadi sesuatu denganmu? perasaan sejak tadi kau terlihat sangat khawatir?" tanya Pak Hasan.
Albert menarik nafas dalam, sebenarnya dia tidak tega melakukan hal ini, tapi mau bagaimana lagi? Tania istrinya sedang berada dalam bahaya saat ini.
" Pak Hasan, bisakah meeting kita kali ini ditunda dulu, karena saat ini istriku sedang berada dalam masalah," ujar Albert jujur. Sebab, dia juga tidak ingin kehilangan proyek yang bernilai milyaran rupiah tersebut.
Pak Hasan tersenyum lembut.
" Jika itu menyangkut istri Tuan, aku tidak mempermasalahkan hal itu. Pergilah! karena istri anda lebih penting dari apapun," jawab Pak Hasan.
Albert yang mendengar ucapan pak Hasan barusan, kemudian dia langsung berdiri dari tempat duduknya.
Begitu juga dengan Will, pria yang cukup berkarisma itupun berdiri dari tempat duduknya.
" Tidak apa-apa Tuan Will," jawab pak Hasan.
Setelah Will memberikan penjelasan pada pak Hasan, kemudian iapun pamit undur diri. Dan langsung mengejar Albert menuju Mobil.
Albert masuk kedalam mobil yang diikuti oleh Will dari belakang. Sebenarnya Will sangat penasaran pada Albert, kenapa tiba-tiba Tuan mudanya itu menunda rapat dengan pak Hasan? sebenarnya apa yang terjadi?
Di Dalam Mobil
Will melajukan mobil itu dengan cukup kencang, setelah Albert mengatakan kalau tujuan mereka adalah Mall terbesar di kota itu.
Mobil terus saja melaju dengan kecepatan tinggi, tapi Will belum berani bertanya pada Albert tentang apa yang terjadi sebenarnya.
Will sesekali melirik sekilas ke arah Tuan mudanya itu dari kaca spion, dan dia merasa kalau masalah ini pasti ada hubungannya dengan Tania.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama, akhirnya Mobil itupun berhenti tepat di depan Mall tersebut.
Albert langsung keluar dari dalam mobil, kemudian dia berlari kencang membelah keramaian pengunjung Mall tersebut.
Setelah sampai di depan toilet wanita, Albert langsung menghampiri wanita yang sedang duduk santai di atas kursi sambil memegang ponsel yang dia yakini itu adalah ponsel Botak.
" Apakah kau adalah wanita yang berbicara denganku di telpon tadi," tanya Albert.
Wanita itu berdiri dari tempat duduknya, lalu dia mengangguk dan membenarkan kalau dirinyalah yang berbicara di telepon tadi. Kemudian dia menyerahkan ponsel itu pada Albert.
Albert menerima ponsel milik Botak, lalu dia memasukkan ke dalam kantongnya. Kemudian dia kembali bertanya pada wanita tersebut.
" Dimana pria yang kau katakan sedang terbaring di atas lantai," tanya Albert sambil celingukan mencari keberadaan Botak. Tapi dia tidak menemukannya sama sekali.
" Oh... pria itu, dia sudah di bawa ke rumah sakit oleh pihak Mall," ucapnya kemudian.
Kemudian Albert bertanya lagi.
" Apakah kau melihat seorang wanita bersama dengannya," tanya Albert.
" Aku tidak melihatnya sama sekali, tapi saat aku masuk ke dalam toilet wanita aku menemukan barang-barang ini tercecer di lantai," ujar wanita itu apa adanya. Kemudian dia menyerahkan tas itu pada Albert.
Albert seketika memeriksa tas tersebut, Kemudian tangannya langsung bergetar hebat saat memegang Ponsel dan dompet milik Tania.
" Ini adalah barang-barang milik istriku, apa yang terjadi dengannya?" ucap Albert sambil mendudukkan bokongnya di atas kursi dengan sangat lemas.
" Aku tidak tau Tuan, tapi kalau menurut pendapatku, mungkin istri anda di culik oleh seseorang, yang mungkin...menaruh dendam terhadap anda," tebak wanita tersebut.
Albert seketika menatap wanita itu dengan sangat tajam.
Sedangkan wanita yang melihat tatapan mata Albert, iapun sampai bergidik ngeri. Lalu dia pun permisi meninggalkan Albert.
__ADS_1