Ternyata Aku Keturunan Sultan

Ternyata Aku Keturunan Sultan
Bab 81


__ADS_3

Tania dan Albert langsung bergegas untuk pulang, karena hari sudah menjelang sore. Tania juga sudah mempertimbangkan kembali kepetusannya bahwa hari ini adalah hari terakhir dia melakukan kursus memasak.


Sedangkan Albert dia sangat senang mendengar keputusan istrinya itu, lalu iapun mengecup kening Tania dengan sangat lembut.


" Terima kasih sayang, kau sudah memahami keinginan ku," ucap Albert. Kemudian dia kembali mengecup kening Tania.


" Baiklah, kalau begitu mari kita pulang," ajak Albert sambil menggandeng tangan Tania menuju Mobil.


Setelah sampai di depan mobil, Albert langsung membuka pintunya dan menyuruh Tania untuk segera masuk.


Tania pun masuk ke dalam mobil, begitu juga dengan Albert. Dengan demikian Albert pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju Mension Keluarga Bridam.


Dalam perjalanan, Tanpa Albert dan Tania sadari ternyata ada seseorang yang mengikuti Mobil mereka sejak tadi dari arah belakang. Dan orang itu benar-benar sangat sakit hati ketika melihat kedekatan Albert dan Tania. Apalagi jika sekarang Tania sudah resmi menjadi istrinya Albert.


Memikirkan hal itu saja sudah membuatnya sangat dendam terhadap Albert, belum lagi saat dia mengingat kematian adiknya Gani dulu, ingin rasanya ia langsung menghabisi nyawa Albert. Tapi sampai sekarang dia belum tau apa yang harus dia lakukan. Karena Albert yang sekarang sangatlah berbeda dengan Albert yang dulu.


Kalau Albert yang dulu mungkin dia hanya perlu menjentikkan jarinya, Albert sudah tersingkir jauh dari muka bumi ini.

__ADS_1


Sedangkan Albert yang sekarang, sangat sulit untuk mendekatinya, karena dia adalah salah satu orang yang berpengaruh di kota ini.


" Apa yang harus aku lakukan? bagaimana caraku agar bisa membalaskan dendam adikku Gani," batin Dion sambil terus mengikuti kemana arah mobil Albert berhenti.


Namun disaat dirinya sedang sibuk mencari ide, tiba-tiba saja seseorang menyalip kendaraannya. Dan orang itu adalah salah satu anak buah Zen yang masih menaruh dendam atas kematian Bosnya.


Dion pun langsung memberhentikan mobilnya dengan cara mendadak. Dan dia sangat merasa kesal karena telah kehilangan jejak Albert dan Tania.


" Sial," umpatnya sambil memukul-mukul setir mobilnya dengan kedua tangan.


Dengan memasang wajah merah padam, karena buruannya telah pergi jauh membuat Dion merasa sangatlah kesal. Bahkan kekesalannya sudah sampai di ubun-ubun.


Dion pun keluar dari dalam mobil sambil membanting pintu mobil itu dengan sangat kencang.


" Siapa kau? apa yang kau inginkan dariku? apa aku punya masalah denganmu, sehingga kau menyalip Mobilku dengan tiba-tiba, dan apa kau tau, karena ulah mu ini telah membuat diriku kehilangan jejak seseorang," ujar Dion dengan berapi-api.


Namun, orang yang berada di hadapannya tidak mengucapkan sepatah katapun, melainkan dia hanya menyunggingkan senyuman. Dan hal itu membuat Dion merasa sangat kesal.

__ADS_1


" Ah... sudahlah, lagi pula tidak ada gunanya aku memberitahukan padamu panjang lebar, karena kau sendiri tidak akan mengerti," ujar Dion lagi.


Kemudian diapun kembali membuka pintu mobil, dan memerintahkan orang tersebut agar segera menyingkirkan mobilnya.


" Singkirkan Mobilmu dari hadapan Mobilku, kalau tidak kau akan menyesal," ancam Dion. Kemudian dia hendak masuk ke dalam mobil.


Namun, disaat Dion hendak masuk ke dalam mobil, anak buah Zen langsung menghentikan langkahnya.


" Tunggu anak muda, aku ingin membicarakan sesuatu yang penting denganmu, apakah kamu bersedia," ujar anak buah Zen datar.


Sedangkan Dion yang mendengar hal itu, kemudian dia kembali menutup pintu mobilnya.


" Sebenarnya apa yang kamu inginkan dariku," ujar Dion. Kemudian dia menghampiri orang yang tidak ia kenal sama sekali itu. Dan hendak melayangkan bogem mentah tepat kearah wajah anak buah Zen.


Namun, tindakannya itu langsung di halau oleh anak buah Zen dengan satu tangannya.


" Tenangkan dirimu Dion, Jika kau ingin membalaskan dendam kematian adikmu Gani bukan seperti ini caranya, kau hanya mengantar nyawamu dengan sia-sia belaka," ujar anak buah Zen sambil melepaskan tangan Dion dengan sangat kasar.

__ADS_1


__ADS_2