Ternyata Aku Keturunan Sultan

Ternyata Aku Keturunan Sultan
Bab 38


__ADS_3

Robert semakin terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Tania terhadap dirinya. Namun, sejurus kemudian Robert memegang tangan Tania dan melepaskan pelukannya. Kemudian dia membalikkan badan menghadap Tania.


" Tania, sepertinya aku harus pamit untuk pergi ke kantor, karena pekerjaan ku masih banyak. Dan kau pulanglah ke rumah. Sebab, langit sudah mulai mendung dan itu menandakan kalau sebentar lagi akan turun hujan," ucap Robert. sambil melirik sekilas ke arah Jam yang berada di pergelangan tangannya.


Tania menundukkan kepala begitu mendengar ucapan Robert tersebut. Lalu dia menutup mata sambil menarik nafas dalam.


" Robert. kau benar-benar tidak marah padaku kan?" tanya Tania kembali.


" Tidak, mana mungkin aku bisa marah terhadap dirimu," jawab Robert.


" Hm... baiklah. kau memang sahabat terbaikku."


" Kalau begitu, aku permisi."


Robert pun akhirnya meninggalkan Tania di taman itu, lalu dia masuk ke dalam Mobilnya. Dari jauh Robert kembali memandang kearah Tania yang saat ini masih setia duduk di kursi taman. Dan sejurus kemudian Iapun meneteskan air mata. Namun, dengan sangat cepat Robert menghapusnya.


" Tidak. Aku tidak boleh bersedih seperti ini, hanya karena seorang gadis," ucapnya. lalu dia melajukan mobilnya menuju sebuah tempat yang selama ini, selalu dikunjungi olehnya, sebelum mengenal Tania.


Ya, itu adalah sebuah tempat dimana lampu yang selalu berkelap-kelip dan juga wanita yang selalu melenggak-lenggokan tubuhnya, dan juga di setiap meja selalu tersedia minuman yang mengandung alkohol.


💦💦💦


Sedangkan Di Mension Keluarga Bridam. Tepatnya di sebuah kamar Nyonya Amarta, saat ini wanita paruh baya itu sedang mondar-mandir tak karuan, memikirkan bagaimana cara agar dirinya tidak dilibatkan dalam kasus yang menimpa Albert beberapa bulan lalu.


" Bagaimana ini?" ucapnya sambil mengetuk kepalanya dengan jari telunjuknya hingga beberapa kali. Namun, dirinya belum juga mendapatkan Ide sama sekali. Hingga membuat dia cukup kesal dan marah. Lalu Ia mengambil Vas bunga yang berada di atas meja dan melemparkannya ke sebuah meja riasnya.


Tidak berselang lama, terdengarlah sebuah suara khas kaca pecah yang cukup memekakkan telinga, lalu di barengi dengan suara teriakan kesal dari Nyonya Amarta.


Setelah memecahkan meja riasnya, Nyonya Amarta pun keluar dari dalam kamar, sambil membanting pintu itu dengan sangat keras.

__ADS_1


Namun, baru saja dia berjalan dua langkah, tiba-tiba matanya langsung membulat sempurna, ketika melihat Albert saat ini sedang berada di tangga, dan sepertinya Albert mau turun ke bawah untuk makan siang.


Nyonya Amarta pun menajamkan penglihatannya ke seluruh sudut penjuru ruangan, tapi dia tidak melihat satupun Bodyguard ataupun Pelayan yang menemani Albert. Sehingga muncullah sebuah Ide yang menurutnya sangat brilian.


Dengan tersenyum licik. Kemudian Nyonya Amarta berjalan perlahan sambil mengawasi daerah sekitar. Lalu dia kembali memastikan kalau Albert saat ini benar-benar sendirian.


" Kesempatan tidak datang dua kali, dan aku akan menggunakan kesempatan ini dengan sebaik baiknya," batinnya senang.


Lalu dia membuka sepatunya agar tidak menimbulkan suara. kemudian Ia kembali berjalan setapak demi setapak, untuk menuju tempat Albert yang saat ini sedang menuruni anak tangga dengan santai.


Sepersekian detik kemudian, terdengarlah suara teriakan minta tolong dari mulut Albert.


" Ah... Kakek... tolong aku...!" teriak Albert bergema di seluruh penjuru Mension mewah itu, dengan tubuh yang berguling-guling menuruni anak tangga satu persatu.


Sedangkan Nyonya Amarta yang sudah menyelesaikan misinya, kemudian dia kembali masuk ke dalam kamar, dan tidak lupa pula dia meraih sepatunya yang sempat dia lepaskan tadi saat melaksanakan Ide cemerlangnya.


Namun, berbeda dengan Tuan Simon. Begitu dia mendengar teriakkan cucunya Albert barusan, kemudian dia langsung berlari tergopoh-gopoh menuju ke arah sumber suara.


" Albert....!" teriak Tuan Simon sambil menangis dengan tersedu. begitu melihat keadaan Albert yang tergeletak di atas lantai, dengan darah yang mengucur deras dari dahinya.


Sedangkan Will dan juga Eric yang melihat keadaan Albert sudah tidak sadarkan diri, dan juga dahinya yang sejak tadi tidak berhenti mengeluarkan darah segar, Will pun memerintahkan Eric untuk segera menyiapkan mobil.


" Eric. Cepatlah kau siapkan Mobil, kita akan membawa Tuan muda ke rumah sakit, karena kalau kita menelpon ambulan waktunya sudah tidak memungkinkan lagi. Sebab keadaan Tuan muda Albert sepertinya cukup kritis," ucap Will. sambil mengangkat tubuh Albert yang sudah tidak berdaya itu.


Sedangkan Eric. begitu mendengar perintah Will, diapun langsung berlari dengan secepat kilat, untuk menyiapkan Mobil.


Di Dalam Mobil


Tuan Simon tak henti-henti menangisi keadaan Albert. Sehingga membuat Will yang mendengarnya sampai meneteskan air mata.

__ADS_1


Namun, walaupun begitu Will tetap fokus pada jalanan yang dia lalui. Sehingga tanpa butuh waktu lama, akhirnya Mobil yang Ia kendarai itupun berhenti didepan sebuah rumah sakit terbesar di kota itu.


Sedangkan Dokter dan perawat yang sudah menunggu kedatangan Will sejak tadi, begitu melihat Will keluar dari dalam mobil. mereka semua pun menghampiri Will dengan sangat tergesa. sambil mendorong sebuah brankar.


Tanpa basa-basi lagi, Dokter dan perawat itupun langsung mendorong brankar Albert masuk ke dalam ruang IGD.


💦💦💦


Di saat semua penghuni Mension mewah itu sedang bersedih dengan keadaan Albert. Namun, berbanding terbalik dengan Nyonya Amarta. Saat ini dia sedang tertawa terbahak-bahak di dalam kamarnya.


Ha...ha..ha...


" Aku tidak pernah menyangka, kalau kesempatan untuk menyingkirkan cucu kesayangan Kakek tua itu datang begitu cepat," ucapnya di sertai dengan tawa bahagia.


Namun, ketika dia sedang tertawa bahagia, tiba-tiba Nyonya Amarta terdiam. Karena Ia mengingat suatu kesulitan yang dirinya hadapi dikemudian hari.


" Bagaimana pun caranya aku harus bergegas masuk ke ruangan itu. Kalau tidak...! Tamatlah riwayatku," ucap Amarta cukup khawatir, kemudian dirinya langsung bergegas menuju ruangan yang dia maksud.


Ketika dirinya sampai di depan ruangan itu, Nyonya Amarta langsung tertawa bahagia, saat melihat kalau ruangan itu sedang tidak dijaga sama sekali oleh para Bodyguard Tuan Simon.


" Sungguh... hari ini memang hari keberuntungan ku," ucapnya sambil tertawa terbahak.


Kemudian dia langsung masuk ke dalam ruangan itu dan merusak semua CCTV yang menyangkut kejadian hari ini.


Setelah selesai merusak CCTV kemudian Nyonya Amarta langsung bergegas kembali masuk ke dalam kamarnya.


Di Dalam Kamarnya.


Nyonya Amarta kembali tertawa terbahak-bahak, mengingat semua kejadian yang Ia hadapi cukup mudah, tanpa ada kendala sama sekali.

__ADS_1


" Dewi Fortuna, benar-benar ada di pihakku," ucapnya. Lalu dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil memejamkan mata. Berharap semua yang dia lakukan hari ini tidak ada yang mengetahuinya.


__ADS_2