
Cukup lama baku hantam antara dua kubu itu terjadi. Namun, untuk saat ini keduanya terlihat sama-sama unggul. Hingga membuat Albert yang melawan Zen sudah tampak kelelahan. Tapi walaupun begitu Albert tidak akan menyerah sebelum dia menghabisi nyawa Zen.
Dengan semangat yang menggebu, kemudian Albert langsung melayangkan kaki kanannya tepat ke wajah Zen, hingga membuat Zen terpental beberapa langkah kebelakang.
Zen berteriak kesakitan. Sambil memegang wajahnya yang kini sudah mengalir darah segar dari sudut bibirnya.
" Bocah tengik, ternyata tenagamu cukup kuat," sarkas Zen. Sambil menghapus darah segar yang mengalir dari sudut bibirnya dengan sangat kasar.
Lalu Zen mulai mengambil sikap ancang-ancang untuk membalas tendangan Albert barusan.
" Hiat..."
Zen mulai melayangkan kakinya tepat ke arah Albert. Namun usahanya kali ini tidak membuahkan hasil, Kakinya langsung ditahan oleh Albert dengan kedua tangan. Kemudian dia mendorongnya ke arah samping, sambil melayangkan bogem mentah tepat ke arah hidung Zen.
__ADS_1
" Argh...! Zen kembali berteriak kesakitan. Sambil memegang hidung mancungnya dengan kedua tangan, kali ini diapun sudah mulai tak bisa menahan ke seimbangan tubuhnya, dan lambat laun dirinya sudah mulai sempoyongan.
Albert tidak mau kehilangan kesempatan itu, kemudian dia kembali melayangkan kakinya ke punggung Zen, dan Zen pun akhirnya langsung tumbang ke atas lantai.
Melihat hal itu, Albert kemudian menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis. Lalu dia mendekat ke arah Zen dan menarik kerah baju Zen.
" Ternyata Mafia yang sangat di takuti hampir di seluruh negara Asia, kemampuannya seperti ini, aku pikir kamu itu kuat, sehingga kau berani menenggelamkan diriku waktu itu," ucap Albert datar, kemudian dia melepaskan kerah baju Zen dengan sangat kasar.
Dengan berjalan santai, Albert kemudian mengambil Senjata yang digunakan oleh Zen untuk mengancamnya tadi, lalu dia mengarahkan senjata api itu tepat di bagian kening Zen.
Albert kemudian tertawa terbahak mendengar ucapan Zen barusan. Sebab, dia merasa sangat lucu. Karena seorang mafia yang di takuti di seluruh Asia telah memohon kepada dirinya.
Sedangkan Zen, saat ini dia sudah pasrah akan hukuman yang diberikan oleh Albert padanya.
__ADS_1
Hingga sepersekian detik kemudian, Albert yang tertawa terbahak, kini wajahnya berubah menjadi sangat serius.
" Aku tidak akan membiarkan dirimu berbuat kejahatan lagi, dan aku akan membalaskan dendam ku saat ini juga," ujar Albert sambil menarik pelatuk senjata api yang berada di tangannya.
Namun, belum sempat Albert menarik pelatuk senjata api yang berada di tangannya, Will tiba-tiba datang dan menghentikan tindakan Albert.
" Tuan muda, jangan kau nodai tanganmu dengan darah kotornya, biarkan aku dan Botak saja yang membunuhnya," ucap Will menatap Albert dengan sangat serius.
" Tapi Will.... Ini adalah masalah antara aku dan Zen, jadi biarkan aku yang menyelesaikannya sendiri, dan aku harap kalian jangan ikut campur," ucap Albert datar.
Will yang mendengar ucapan Albert barusan, sekarang dia sudah tak mampu berbuat apa-apa. Karena Will tau sendiri, bagaimana sifat Tuan mudanya itu.
Sedangkan Albert, kini dirinya sudah mulai menarik perlahan pelatuk pistol api yang berada di tangannya, kemudian dia menutup mata, dan tidak lama kemudian terdengarlah suara tembakan.
__ADS_1
Dor...Dor...Dor
Kini tubuh Zen pun sudah berlumuran darah, dan sekarang dia tergeletak tak bernyawa di atas lantai.