Ternyata Aku Keturunan Sultan

Ternyata Aku Keturunan Sultan
Bab 40


__ADS_3

Tuan Simon tersenyum, saat mendengar ucapan dokter itu barusan, lalu dia mendekat ke arah sang Dokter.


Sedangkan dokter itu yang melihat kalau saat ini Tuan Simon mendekat ke arahnya, lalu dia sedikit khawatir. Sebab dirinya takut telah menyinggung perasaan Tuan Simon, karena Ia telah menolak pemberiannya.


" Apa mungkin dia marah padaku," batin sang dokter. hingga Iapun langsung menunduk ketika melihat Tuan Simon semakin dekat dengannya.


" Ambillah dokter, aku tau kau sangat membutuhkan uang itu, karena saat ini anakmu sedang sakit dan membutuhkan biaya yang sangat besar," ucap Tuan Simon.


Dokter itupun langsung menunduk, ketika mendengar ucapan Tuan Simon barusan, lalu dia menarik nafas dalam dan membuangnya secara perlahan. Dan sejurus kemudian Iapun kembali menatap Tuan Simon.


" Terima kasih banyak Tuan," ucapnya kemudian. lalu dia pergi meninggalkan Tuan Simon dengan perasaan yang bahagia.


💦💦💦


Dua Minggu Kemudian


Albert pun kembali beraktifitas seperti biasa, setelah Dokter yang merawatnya memperbolehkan dia pulang dari rumah sakit Dua Minggu yang lalu. Ingatannya pun sudah pulih total dan luka yang berada di keningnya juga sudah hilang tak berbekas. Dan sekarang dia sedang berada di restoran mewah bersama dengan adik tirinya Robert. Mereka berdua tampak akrab, seperti saudara kandung.


Namun, berbeda dengan Tuan Simon, saat ini dirinya bersama dengan Will. sedang merencanakan untuk mengintrogasi menantunya Amarta.


" Will, cepat kau desak wanita itu, dan buat dia mengakui kesalahannya, kalau dia masih bersikeras untuk tidak mengakui keterlibatan dirinya, aku perintahkan engkau untuk membawanya pergi ke pulau terpencil yang ada di kaki gunung*****," ucap Tuan Simon dengan sangat serius. Bahkan saat ini matanya tidak berkedip sama sekali melihat Will.


" Baik Tuan," jawab Will sambil membungkuk dengan hormat.


Kemudian dia langsung pergi meninggalkan ruangan Tuan Simon, dan segera menyuruh Botak untuk menculik Nyonya Amarta nanti malam. Sambil menekankan pada Botak agar aksi mereka itu jangan sampai ada yang tau.


" Aku tekankan sekali lagi, jangan sampai ada yang tau," ujar Will dengan sangat serius.


" Baik Tuan," jawab Botak.


Malam pun tiba

__ADS_1


Si Botak mulai bersiap siap sambil memasangkan kain penutup warna hitam di wajahnya. Dan tanpa basa-basi, Botak langsung menjalankan apa yang diperintahkan oleh Will padanya tadi siang.


" Semoga misi ini berjalan dengan lancar, kalau tidak, aku sendiri yang akan habis di hajar oleh Tuan Robert," batinnya kemudian.


Lalu dia memperhatikan seluruh ruangan yang tampak remang, sambil memastikan kalau saat ini benar-benar sudah aman.


Setelah memastikan keadaan sudah aman, barulah Botak menjalankan misinya sambil mengendap-endap menuju kamar Nyonya Amarta yang berada di atas. Dengan sesekali membungkukkan badannya ketika ada satu pelayan yang hendak menuju ke arah dapur.


" Aman...!" batinnya sambil mengelus dada hingga beberapa kali. setelah itu barulah dia kembali menjalankan misinya.


Di Dalam Kamar Nyonya Amarta


Wanita paruh baya itu tampak sangat pulas tidur di atas ranjang. Sehingga tanpa bersusah payah Botak langsung membiusnya, dan segera mengangkat tubuh wanita itu keatas punggungnya.


" Ternyata, tubuh Nyonya Amarta berat juga, apa mungkin dia kebanyakan dosa ya," pikir Botak.


" Ah... Sudahlah, aku tidak usah memikirkan dosa orang lain, biarkan saja dia menanggungnya sendiri, lagi pula Ia sendiri yang akan mempertanggung jawabkan nanti di hadapan Tuhan," batin Botak. kemudian dia kembali melanjutkan pekerjaannya.


Sedangkan di sebuah gudang yang kedap suara, tampak Will sudah menunggu kedatangan Botak sejak tadi. Dan dia terlihat sedikit cemas memikirkan, apakah Botak akan berhasil melakukan tugas yang ia berikan.


" Aku yakin itu adalah Botak," ucapnya sambil berdiri. kemudian Will pun membuka pintu itu.


Sedangkan Botak yang berada di luar pintu, dia tampak sedikit kesal, karena Will cukup lama membuka pintunya.


Begitu pintu terbuka. Botak langsung mengoceh tidak karuan.


" Bos, kenapa kau lama sekali membuka pintu, wanita ini sangat berat, bahkan tulang punggung ku hampir mau patah, saat memaggul dirinya," seloroh Botak. Kemudian dia langsung masuk ke dalam dan mengikat tubuh Nyonya Amarta di atas kursi.


Will tampak terdiam sejenak melihat tingkah Botak yang mengoceh tidak karuan itu. Namun, sejurus kemudian dia langsung menajamkan matanya. Sehingga membuat Botak langsung terdiam di tempat ketika menyadari arti dari tatapan Will terhadap dirinya.


Namun, tidak dapat di pungkiri. Bahwa nyali Botak tampak menciut ketika menyadari apa yang dia ucapkan barusan. Hingga membuat dirinya bergidik ngeri, saat melihat tatapan tajam dari Will.

__ADS_1


" Maafkan aku Tuan Will, aku benar-benar tidak sengaja berkata seperti tadi, dan mungkin diriku terlalu lelah. Hingga tanpa sadar mengoceh tak karuan seperti itu. Sekali lagi maafkan aku Tuan Will," ucapnya sambil membungkukkan kepalanya menghadap lantai.


Mendengar hal itu, Will langsung mengubah ekspresi wajahnya dengan tersenyum tipis. Lalu dia berjalan perlahan menuju kearah Botak, kemudian Ia menepuk pundak Botak dengan sangat lembut.


" Untuk kali ini aku memaafkan dirimu, sebab aku tau kalau kau memang kelelahan. Tapi selanjutnya, jangan coba-coba bertingkah seperti tadi," ucap Will sambil berbisik di telinga Botak.


" B.. Baik Tuan Will," jawab Botak dengan terbata.


" Hm.... Bagus," ujar Will dengan pelan. Sambil memperbaiki Jas hitam Botak, lalu dia menepuk pundak Botak dengan kedua tangannya.


Sedangkan Botak yang mendapat perlakuan seperti itu dari Will, dia hanya menunduk tanpa berani melihat kearah Will sama sekali.


Setelah itu, Will langsung merogoh kantong Jasnya, sambil men-dial nomor telepon Tuan Simon.


" Hallo Tuan, semuanya sudah beres dan berjalan lancar," ucap Will.


" Hm... Bagus Will, kau memang bisa di andalkan. Dan seperti yang aku katakan kemaren, buat dia mengakui keterlibatannya," ucap Tuan Simon datar.


" Baik Tuan."


Setelah itu sambungan telepon itupun terputus.


Botak yang mendengar pembicaraan Will di telpon, kemudian dia berniat keluar dari dalam gudang itu.


" Sepertinya sifat menakutkan Tuan Will, sudah mulai kambuh. Jadi, lebih baik aku keluar dari dalam gudang ini secepat mungkin," batin Botak. Kemudian dia hendak meninggalkan gudang itu. Namun, baru juga dia berjalan beberapa langkah. Tindakannya itu langsung diketahui oleh Will.


" Botak, mau kemana kamu?"


" A... Aku tidak kemana-mana Tuan," jawab Botak sambil membalikkan badannya kembali ke arah Will.


" Hm.... Ambilkan aku seember air Es," seloroh Will kemudian.

__ADS_1


" Baik Tuan," ucap Botak dengan sangat cepat. kemudian dia langsung keluar dari dalam gudang itu, dan segera melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Will kepada dirinya.


Sedangkan Will yang berada di dalam gudang itu, kemudian dia duduk di atas kursi. Sambil menatap kearah Nyonya Amarta yang sebelumnya diikat oleh Botak di atas kursi.


__ADS_2