
Tuan Simon melirik sekilas ke arah menantunya Amarta yang tampak menyunggingkan senyuman palsu. Lalu dia mendorong kursi itu ke belakang. kemudian Ia berdiri dari tempat duduknya.
" Bagaimana kalau dalam dua hari ini aku akan mendapatkan buktinya? apa kau sudah siap di penjara menantu," ujar Tuan Simon. sambil menatap tajam kearah Amarta.
Mendengar hal itu, Amarta semakin tidak dapat berkata apa-apa. Namun, sejurus kemudian diapun langsung tersenyum menanggapi ucapan ayah mertuanya.
" Hm... silahkan saja Ayah mertua mencari bukti tentang tenggelamnya Albert waktu itu, aku tidak takut sama sekali. sebab, diriku tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian yang menimpa Albert," ucapnya dengan sangat lantang. Namun, di dalam hatinya dia sudah merasa gemetar. Tapi walaupun begitu, ia masih mampu mengimbangi gerakan bibirnya agar tidak terbata.
Tuan Simon tersenyum tipis agak lama mendengar ucapan menantunya Amarta.
" Baiklah, jika dalam dua hari ini aku mendapat bukti tentang keterlibatan mu atas kejadian yang menimpa cucuku Albert, maka bersiap-siaplah masuk jeruji besi," ucapnya kemudian. lalu dia kembali duduk pada kursinya.
" Namun, jika sekarang kau mengakui keterlibatan mu, mungkin aku tidak akan memasukkan mu kedalam penjara, dan hanya memberikan mu hukuman yang setimpal. Jadi bagaimana? apa kau mengakuinya sekarang, atau aku harus mencari bukti dahulu," ujar Tuan Simon.
Amarta terdiam sejenak memikirkan tawaran Ayah mertuanya itu. Lalu dia menunduk sambil menautkan kedua alisnya dengan bingung.
" Apa yang harus aku lakukan, apa diriku harus mengakui keterlibatan ku? Tapi kalau aku mengakuinya itu sama saja dengan bunuh diri, tidak... lebih baik aku diam saja," batinnya sambil menarik nafas dalam.
Kemudian dia kembali menatap kearah ayah mertuanya itu sambil maju beberapa langkah.
" Aku sudah bilang berapa kali Ayah, diriku benar-benar tidak terlibat," ucapnya sambil membalikkan badan. kemudian dia meninggalkan ruang kerja ayah mertuanya itu tanpa permisi.
Sedangkan Tuan Simon yang mendengar ucapan menantunya itu yang belum mengakui keterlibatannya, dia hanya menarik nafas panjang. sambil meraih Ponselnya yang berada di atas meja kerjanya. Kemudian Ia men-dial nomor kontak seseorang.
" Aku ingin kamu menyelidiki tentang keterlibatan menantuku Amarta atas kejadian yang menimpa cucuku Albert. Tapi ingat, jangan sampai lebih dari dua hari," ucapnya pada seseorang yang berada di sebrang sana.
__ADS_1
" Baik Tuan."
Setelah itu barulah Tuan Simon menutup sambungan Ponselnya.
💦💦💦
Sedangkan Tania yang baru pulang dari luar negeri, beberapa Minggu yang lalu. Kini dia sedang berada di taman sambil memegang foto Albert di tangannya. Kemudian Ia mengusap foto itu dengan berderai air mata.
" Albert, andai saja kau mengingat kembali kenangan kita pada waktu pacaran dulu," batinnya sambil mendekap foto Albert dengan penuh kasih.
Sementara itu, Robert yang berada di dalam Mobil sportnya, dan kini dia sedang terjebak macet. kemudian Ia memutar lagu kesukaannya agar tidak terlalu bosan, sambil sesekali melantunkan lirik lagu kesukaannya. Dengan tanpa sengaja diapun menoleh sekilas kearah taman yang tampak ramai dengan pengunjung anak-anak.
Namun, betapa terkejutnya dia setelah sepasang netranya menangkap wajah seseorang yang begitu Ia rindukan selama ini.
" Bukankah itu adalah Tania," ucapnya sambil memastikan sekali lagi. apakah yang dia lihat itu adalah Tania.
Setelah cukup lama Robert memperhatikan gerak gerik Tania, diapun akhirnya menyadari kalau orang yang di cintainya dalam diam itu ternyata sedang bersedih.
Sehingga dia memutuskan untuk keluar dari dalam Mobil, dan berniat untuk menghampiri Tania. Agar dapat menghiburnya.
Robert terus berjalan perlahan menuju tempat duduk Tania.
Sedangkan Tania yang duduk di atas kursi taman. Saat ini dia sedang menatap lurus ke depan, sambil sesekali mengusap air mata yang sejak tadi tidak berhenti menetes.
Namun, tiba-tiba sebuah tepukan lembut mendarat di pundaknya, sehingga membuat Tania menoleh seketika.
__ADS_1
" R... Robert," ujarnya dengan terbata. kemudian Tania memperbaiki posisi duduknya sambil menghapus air mata.
Robert tersenyum tipis. Kemudian dia duduk di samping Tania.
" Tania... Sejak kapan kau datang dari luar negeri, dan kenapa kau tidak memberi kabar padaku? apa dirimu sudah tidak menganggap ku sebagai sahabat lagi," tanya Robert dengan pura-pura ngambek. Sebab dia berpikir kalau dirinya pura-pura ngambek, Tania akan melupakan kesedihannya dan fokus terhadap dirinya.
Tania langsung menoleh ke arah Robert, begitu mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Robert padanya. Lalu dia memandang lekat ke arah Robert yang menatap lurus ke depan. Dan sejurus kemudian Tania menyandarkan kepalanya di bahu Robert.
" Bukan begitu Robert, aku hanya tidak ingin mengganggu pekerjaan mu, dan inikan hanya masalah sepele. Jadi, aku mohon jangan marah padaku ya," ucap Tania sambil tersenyum paksa.
Robert hanya terdiam mendengar ucapan Tania barusan. Lalu dia memandang manik mata Tania dengan sangat lekat.
" Sepertinya trik yang aku gunakan ini berhasil," batinnya senang.
Namun, sejurus kemudian dia kembali menarik nafas dalam, dan menghembuskannya dengan perlahan. lalu Ia menoleh ke arah Tania dan ingin mengusap rambut panjang Tania. Tapi baru juga dirinya hendak mengusap rambut Tania. Tiba-tiba saja Tania menoleh ke arahnya. hingga membuat Robert mengepalkan tangannya sambil pura-pura memperbaiki posisi tempat duduknya. kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arah samping.
Sedangkan Tania yang melihat hal itu, diapun sangat heran dengan tindakan Robert tersebut. Lalu Ia bangkit dari posisi duduknya, sambil berjongkok di hadapan Robert. Kemudian Tania meraih tangan Robert dan menggenggamnya.
" Hei. apa kau marah padaku, sehingga dirimu tidak ingin memandang wajahku," tanya Tania.
" Tidak," jawab Robert dengan cepat. Lalu dia memandang manik mata Tania dengan sangat dalam. Begitu juga dengan Tania, gadis cantik itu membalas tatapan mata Robert, dan sesekali dia tersenyum manis, sehingga membuat Robert kalang kabut dibuatnya.
" Andai saja kau menyadari kalau aku sangatlah mencintai dirimu Tania," batin Robert. Lalu dia kembali mengalihkan pandangannya ke arah samping. sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Sebab Robert takut kalau dia tidak bisa menahan perasaan yang bergejolak di dalam dirinya.
Sehingga dia memutuskan untuk berdiri dari tempat duduknya, dan membalikkan badannya ke berlainan arah, berharap Tania tidak melihat kalau wajahnya saat ini sedang merona merah.
__ADS_1
Tania semakin heran atas sikap yang ditunjukkan oleh Robert padanya.Lalu dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Apa mungkin Robert, masih marah padaku," batin Tania sambil berdiri. kemudian dia menghampiri Robert. Lalu Tania memeluk tubuh Robert dari arah belakang.