Terpaksa Di Madu

Terpaksa Di Madu
10 Memasak Untuk Abah


__ADS_3

Tasya langsung pamit pulang tanpa duduk mengobrol dulu di rumah Bintang.


Alasannya karena Tasya sudah tidak sabar untuk melihat ekspresi Koko nya yang ga jadi nonton konser mini itu.


Keesokan harinya seperti biasa, setelah sholat subuh Bintang setoran hafalan Alquran nya sama abah.


Setelah matahari menunjukkan sinarnya abah melakukan sedikit olahraga peregangan di halaman depan, Bintang membuatkan abah segelas susu dan sebotol air mineral.


"Abah, ini minum nya" panggil Bintang sambil meletakkan minumannya di atas meja.


"Susu?"


"Iya, Bintang buatkan abah susu"


"Kayaknya kurang pas gitu kalo habis olah raga trus minumnya susu"


"Di pas pasin aja lah bah. Ini tuh susu baik buat abah, susu yang baik untuk tulang abah"


"Kamu ini ada aja alasannya"


"Oh ya, abah mau di masakin apa?"


"Abah tuh terserah yang masak, di masakin apa aja oke. Abah pasti makannya dengan lahap, masakan kamu pasti enak" kata abah sambil mengacungkan jempolnya pada Bintang


"Ya udah kalo gitu Bintang mau masak ayam goreng, sambal pete dan sop pentol. Abah suka?"


"Suka dong, udah lama juga abah ga makan sambal pete. Emangnya kamu udah belanja?"


"Hehe... Belum. Bintang mau nungguin tukang sayur lewat. Oh ya, sambil nunggu tukang sayurnya datang, Bintang mau nyapu rumah dulu ya bah. Nanti kalo udah datang, segera panggil Bintang, oke"


"Oke oke, nanti abah panggil"


"Makasih abah..."


Bintang masuk ke dalam rumah dan langsung mengambil kain lap, kemoceng dan sapu favoritnya.


Tak lupa ia sambil memutar sholawat favoritnya menggunakan speaker bluetooth mini miliknya.


Bintang langsung beraksi dengan alat-alat nya membersihkan rumah hingga nampak kinclong dan rapi.


Menyapu dan mengepel segera ia lakukan agar saat abahnya masuk rumah nanti lantai sudah kering dan aman untuk abah.


Baru saja ia meletakkan alat pel nya abah dari luar memanggil nya.


Tukang sayur langganan nya sudah datang dan menunggu di depan rumah.


Segera Bintang berlari ke kamarnya untuk mengambil dompet lalu berbelanja.


Abah juga ikut menemani Bintang memilih sayur dan bahan masakan lainnya.


Ibu-ibu pun mulai berdatangan untuk berbelanja juga.


"Assalamualaikum abah, Bintang..." Sapa bu Aini


"Wa'alaikum salam bu..."


"Mau masak apa cantik" tanya bu Aini


"Ini bu, Bintang mau masak sambal pete"


"Wah enak tuh, masih banyak ga Pete nya?"


"Ini masih banyak, bu Aini mau bikin juga?"


"Mau tak campurin sama udang, di masak balado hm... Pasti maknyus.."

__ADS_1


Bintang dan abah tertawa karena bu Aini ngomongnya seperti seorang pelawak.


Tak lama ibu-ibu yang lainnya juga datang, pak Ahmad kembali ke teras untuk meminum susunya.


Bintang anaknya memang ramah, berbicara dengan siapa saja pasti lawan bicara suka.


Ibu ibu di sana sangat menyukai Bintang, banyak dari mereka yang menginginkan Bintang untuk bisa menjadi menantunya.


Tapi mereka sadar, seorang gadis cantik dan sholeha seperti Bintang tidak cocok bersanding dengan anak mereka yang kalo sholat di masjid nunggu pas hari Jum'at saja.


"Berapa total belanjaan saya mang?" Tanya Bintang


"Semuanya 52 ribu neng"


Bintang mengeluarkan uang 55 ribu lalu membayar nya


"Yah neng, kembaliannya kurang. Ini cuma ada 5 ribu neng"


"Gimana sih amang ini, emang ga sedia uang receh buat kembalian?" Saut bu Sila


"Bukan ga sedia atuh bu, tapi uang receh nya sudah habis buat kembalian pembeli dari tadi. Habis yang belanja dari tadi pake uang besar semua" jelas amang penjual sayur


"Sudah mang ga papa. Kembaliannya pake penyedap aja deh"


"Oh.. baik neng. Ini ya neng, makasih..."


"Iya mang, sama-sama. Mari ibu-ibu..."


Bintang pun masuk ke rumah dan langsung mengeksekusi apa yang ia beli tadi.


*****


Di rumah Dimas


Hani turun dari tangga dengan pakaian olah raga nya serta earphone di telinganya.


"Ma, pa. Hani mau joging dulu ya"


"Iya sayang..." Jawab bu Ririn


Baru saja Hani pergi, Dimas datang.


"Selamat pagi pa, ma..." Sapa Dimas lalu duduk bersama mereka


"Hani mana ma?"


"Dia baru aja pergi, katanya mau joging"


"Joging, halah gaya gayaan aja dia ma. Paling juga cuma buat foto foto terus di upload di Instagram nya"


"Ya namanya juga Hani, mana mau dia keringetan banyak"


Dimas membuka hp nya dan benar saja Hani baru saja memposting foto dirinya dengan caption "Hidup sehat itu mahal"


Dimas menunjukkan foto postingan Hani pada papa dan mama nya.


Pak Hendra hanya tersenyum kecil lalu kembali membaca korannya.


"Tuh kan ma, bener kan aku bilang. Hahaha... Dasar artis seleb, apa-apa selalu di post"


"Sudah Dimas, kamu ya kebiasaan selalu gitu sama adik kamu. Biar gitu, dia udah bisa cari penghasilan sendiri loh" ujar bu Ririn


"Iya iya ma, mama ini pasti fans Hani ya"


"Bukan cuma fans, tapi sangat fans fanatik" saut pak Hendra lalu tertawa bersama Dimas.

__ADS_1


Bu Ririn memukul paha pak Hendra dan mencubit pipi Dimas


"Kalian ini ya emang selalu kompak kalo di suruh ngecengin orang"


"Aduh ma, sakit ma. Ampun ampun..." Rintih Dimas


Di tengah-tengah tawa pak Hendra dan Dimas, pembantunya datang menghampiri


"Permisi bapak ibu aden. Sarapan nya sudah siap" ucap bi Lastri


"Kami sarapan nunggu Hani aja bi, bibi tutup kembali ya" suruh bu Ririn


"Baik bu"


"Eh jangan di tutup bi, aku mau sarapan sekarang" saut Dimas


"Ayo, papa juga mau sarapan sekarang. Ayo ma" ajak pak Hendra


"Loh kalo semuanya sarapan sekarang nanti Hani sarapan sama siapa?"


"Mama mama, Hani tuh bakal lam pulang nya. Orang saat ini dia bukannya olah raga, malah live di Instagram nya. Nih liat..."


Dimas memperlihatkan live nya Hani yang sedang menikmati bubur di pinggir jalan bersama temannya


"Haha... Mama mama, udah ayo sarapan sama kita aja. Kalo mama nunggu Hani nanti, namanya bukan sarapan tapi makan siang. Ayo"


Pak Hendra menarik tangan bu Ririn membawanya ke meja makan


Mereka pun sarapan hanya bertiga.


"Pa, hari ini jadi kan?" Tanya Dimas mengawali percakapan


"Jadi? Kalian mau kemana?" Tanya bu Ririn


"Papa belum bilang sama mama?"


"Oh ya ma, papa semalam lupa mau kasih tau mama"


"Apa pa?"


Pak Hendra lalu mengatakan keinginan Dimas untuk meminang Bintang hari ini.


Seketika bu Ririn terkejut bukan main, ia bahkan sampai tersedak makanan di mulutnya.


"Uhuk uhuk..."


Pak Hendra segera memberikan segelas air pada istri nya dan Dimas menepuk-nepuk pundak mama nya itu.


"Mama ga papa kan?" Tanya Dimas


"Ga papa apanya mama tersedak gini masih nanya" jawab bu Ririn ketus


"Makanya mama makannya pelan-pelan dong" kata pak Hendra


"Bukan makanan yang membuat mama tersedak, tapi perkataan papa barusan. Kalian ini kenapa sih mengambil keputusan dengan seenaknya tanpa melibatkan mama maupun Hani?!"


"Kan Dimas udah bilang sebelumnya ma, kemari juga Dimas udah bilang sama papa tapi papa nya aja yang lupa ngasih tau mama" jawab Dimas


"Papa ini juga gimana sih, mau melamar anak orang dengan tiba-tiba. Kita ga boleh asal menikah kan Dimas pa, kita harus cari tau dulu babat, bebet dan bobot nya gadis itu"


Bu Ririn merasa kesal karena keputusan mendadak ini.


Apa lagi sejak Dimas memberi tahu bu Ririn memang agak kurang setuju.


☀️☀️☀️☀️☀️

__ADS_1


__ADS_2