Terpaksa Di Madu

Terpaksa Di Madu
09 Malam Mingguan


__ADS_3

Bintang berdiri di ambang pintu sambil melihat abahnya yang sedang sibuk di depan laptopnya.


Bintang sebenarnya ragu untuk meminta ijin, tapi takut Tasya keburu datang ia harus segera bertanya.


Toktok...


"Abah..."


Abah menoleh dan melambaikan tangannya


"Kenapa cuma berdiri di sana, sini masuk nak"


Bintang duduk di kursi di sebelah abahnya sambil memperhatikan laptop.


"Abah lagi ngerjain apa?"


"Ini abah bikin kisi-kisi biar anak-anak semakin semangat belajarnya"


"Wah... Abah emang dosen idaman deh"


"Kamu, bisa aja"


"Iya, coba dosen-dosen Bintang di kampus seperti abah semua pasti temen temen Bintang ga akan ada lagi yang bolos bolos"


"Temen-temen kamu apa kamu itu?"


"Bintang kan ga pernah bolos ih abah, kecuali Bintang lagi sakit"


"Siapa suruh kamu kamu milih kampus lain, kalo satu kampus sama abah kan enak, bisa abah kasih bocoran dikit-dikit"


"Mana ada bocoran, yang ada abah makin tegas nyuruh Bintang belajar mulu. Pasti tiap hari Bintang di kasih soal mulu"


Pak Ahmad tertawa karena apa yang di katakan putri nya bisa di pastikan itu yang sebenarnya yang akan Bintang alami.


"Kamu ga nulis lagi?"


"Ngak, Bintang mau istirahat beberapa hari sampek pikiran Bintang benar-benar tenang"


"Oh gitu" pak Ahmad kembali menatap layar laptopnya dan lanjut mengetik.


"Abah..."


"Apa nak, kamu butuh sesuatu?"


"Sebenarnya Bintang kesini mau minta izin sama abah"


"Izin? Izin untuk apa!"


"Tasya barusan telfon, dia nagajakin Bintang keluar buat main bentar. Boleh?"


"Emangnya kamu ga papa kena angin malam?"


"Ya... Insya Allah ga papa sih bah. Lagian cuma bentar kok, jam 10 Bintang pulang"


"Terserah kamu, kalau kamu merasa baik-baik aja ya ga papa"


"Beneran bah?"


"Iya"


"Makasih ya abah, Bintang mau siap siap dulu takut Tasya keburu datang"


"Iya, sama-sama"


Tak lama suara mobil Tasya terdengar. Segera Bintang keluar untuk melihat nya.

__ADS_1


"Tunggu bentar ya aku mau pamit sama abah" ucap Bintang dari depan pintu


Tasya yang hanya mengeluarkan kepalanya dari pintu mobil mengacungkan jempol tanda setuju.


Setelah berpamitan Bintang pun masuk ke mobil Tasya dan segera berangkat.


"Apa aku bilang, pasti di izinin kan sama abah" ujar Tasya


"Iya, tapi tetep aja tadi aku sempet ragu soalnya kan aku baru aja sembuh. Emangnya kita mau kemana sih Sya?"


"Kita ke cafe *****. Aku denger di sana ada mini konser penyanyi yang kagi lagi viral itu loh"


"Oke"


Tak lama mereka pun sampai.


Di sana memang sudah ramai pengunjung karena sebentar lagi konser mininya akan di mulai.


Bintang dan Tasya mendapat kursi di bagian pojok karena semua kursi di depan panggung sudah mulai penuh.


"Yah, kan. Ga kebagian kursi di depan. Gimana bisa rekam coba" gerutu Tasya


"Udah ga papa lah, mending masih kebagian kursi dari pada berdiri kayak yang lain"


"Ya tapi nanti pasti blur kalo aku foto dan video in dari jauh"


"Ya udah, nanti kalo mau fotoin penyanyi nya kamu maju aja ke depan"


"Iya deh, dari pada nge blur hasil fotonya"


Kini konser mini nya itu sudah di mulai, sambil menikmati makanan dan minuman yang mereka pesan Tasya ikut bernyanyi bersama.


"Nanti aku bakal kasih lihat sama koko, dia aslinya yang ngajakin aku kesini tapi dia mendadak ga bisa karena ada urusan. Dia pasti nyesel nanti" kata Tasya


"Kak Justin suka sama penyanyi nya?" Tanya Bintang


"Meresap? Bumbu kali..."


"Ah kamu mana paham maksud ku. Aku mau video in dulu ke depan"


Bintang mengangguk, Tasya pergi ke depan panggung agar bisa menghasilkan foto dan video yang bagus.


Bintang duduk sendirian menikmati makanan nya, tiba-tiba seorang pria datang menyapa nya.


"Bintang...." Sapa pria itu


Bintang hanya diam menatap pria itu, karena ia merasa tidak kenal.


"Kamu Bintang kan?" Tanya nya


"Iya, saya Bintang. Kamu siapa?"


"Kamu pasti sudah lupa, aku Arif. Tetangga kamu dulu"


Bintang mencoba mengingat Arif siapa, karena saat ini ia tidak memiliki tetangga yang bernama Arif.


"Kamu masih ga ingat, aku Arif anaknya pak Antok dan bu Intan. Dulu kita tetanggaan sebelum aku pindah ke jogja"


Bintang akhirnya ingat. Ya dia dulu memang punya tetangga bernama Arif.


Bintang tidak mengenalinya saat ini karena Arif begitu tinggi dan wajahnya sudah berubah lebih tampan dan menawan.


"Oh... Ya aku ingat. Maaf tadi sempat lupa"


"Ya aku tidak heran, karena semua teman kecil ku di sini hampir tidak bisa mengenali ku. Katanya wajah ku sudah banyak berubah"

__ADS_1


"Iya kamu udah berubah, dulu kamu sangat tembem sampe hidung kamu ketarik sama pipi"


"Ya, cuma kamu yang dari kecil sampai sekarang ga pernah berubah. Tetap cantik dan manis" puji Arif


Bintang tersenyum malu mendengar nya.


"Kamu sendirian di sini?" Tanya Arif


"Ngak, aku sama temen aku. Dia lagi di depan katanya mau video in"


"Oh gitu"


"Kamu sendiri kok ada di sini?" Tanya balik Bintang


"Em... Aku boleh duduk ga nih. Biar lebih enak ngobrolnya"


"Oh boleh boleh, silahkan..."


Bintang menggeser tas Tasya ke kursi di dekatnya agar Arif bisa duduk.


"Aku di sini karena tugas"


"Tugas? Emangnya kamu kerja apa sekarang?"


"Alhamdulillah aku sudah jadi dokter. Dan aku di tugaskan di salah satu rumah sakit di sini. Alhamdulillah banget bisa kembali mengingat kenangan masa kecil"


"Wah... Kamu ternyata udah jadi dokter di usia muda. Keren kamu" puji Bintang


Mereka sama asyik mengobrol, hingga Tasya datang dan ia terkejut karena Bintang duduk bersama pria yang tak ia kenal.


"Bintang..." Panggil Tasya lalu duduk di sebelah nya "Dia siapa?" Tanya Tasya


"Oh kenalin dia Arif teman masa kecil ku dulu. Dan Arif, ini Tasya sahabt ku" Bintang memperkenalkan mereka berdua agar bisa mengobrol dengan lebih santai.


Kini sudah hampir jam 10, Bintang langsung mengajak Tasya untuk pulang.


"Arif, maaf ya aku sama Tasya mau pulang duluan. Kamu ga papa kan duduk di sini sendirian?" Kata Bintang


"Oh ya udah ga papa. Aku ga lama lagi juga mau pulang kok"


"Oh gitu, ya udah kita pulang duluan ya. Assalamualaikum..."


"Wa'alaikum salam... Eh Bintang, tunggu" panggil Arif


"Ada apa. Kalo boleh besok aku mau ke rumah kamu, mau ketemu sama abah"


"Boleh, main aja ke rumah"


"Oke, sampai jumpa besok" ucap Arif


Bintang hanya tersenyum lalu pergi.


Di perjalanan pulang Bintang meminta Tasya untuk berhenti di salah satu penjual terang bulan.


"Tumben mau beli terang bulan?" Tanya Tasya


"Iya, buat abah. Abah lagi sibuk buat kisi-kisi mahasiswa nya di kampus"


"Wah, enak tuh. Kenapa kamu ga kuliah di kampus tempat abah ngajar Bin, kan enak bisa dapat bocoran terus langsung dari dosennya"


"Ya ga tau ya. Aku kuliah di universitas ini tuh karena pilihan abah"


"Eh tapi kalo kamu 1 kampus sama tempat abah ngajar, pasti abah bakal jadi dosen killer buat kamu di rumah. Apa lagi kalau nilai kamu sampe anjlok"


"Nah itu tuh alasan pribadi ku, tapi Alhamdulillah abah nyuruh aku kuliah di kampus yang lain"

__ADS_1


Setelah membeli terang bulan nya kini mereka langsung pulang.


☀️☀️☀️☀️☀️


__ADS_2