
Meski ada abah di rumah nya namun Dimas harus tetap pergi ke kantor.
Pagi hari Dimas pun sudah rapi dengan jas nya dan bersiap pergi ke kantor.
Bintang lalu mengajak abahnya turun untuk sarapan bersama.
"Abah betah di sini?" tanya Dimas memulai pembicaraan
"Bagaimana abah tidak betah nak, abah di sini bersama dengan anak anak abah, abah sangat bahagia"
"Kalau begitu, abah mau tinggal di sini sama kita?"
Pertanyaan Dimas tidak hanya membuat abah yang terkejut, Bintang pun sama.
"Maksud mas Dimas?"
Dimas tidak ada membicarakan tentang ini sebelumnya dengannya, dan tiba tiba saja langsung menawari abah untuk tinggal di sini.
"Ya kalau abah mau, abah bisa tinggal di sini bersama kita dari pada sendirian di rumah" jelas Dimas
"Kamu beneran mas minta abah tinggal di sini?"
"Iya sayang, aku hanya kepikiran aja saat abah sendirian di rumah"
"Tidak nak, tidak. Abah akan tinggal di rumah abah saja, ini rumah kalian, rumah tangga kalian. Ini sudah menjadi jalan abah, abah tidak merasa kesulitan meski hidup sendirian" tukas abah
Bintang memegang tangan abahnya dan menatapnya dengan sendu
"Abah yakin ga mau tinggal di sini?"
"Nak, kalian tidak perlu memikirkan abah, hidup lah dengan bahagia. Sesekali kunjungi abah jika kalian rindu, tidak perlu abah harus tinggal di sini. Abah janji, jika ada sesuatu terjadi atau pun abah sedang membutuhkan sesuatu kalian akan menjadi orang pertama yang abah beri tahu"
Sedih saat mendengar jawaban abahnya namun Bintang juga paham alasannya.
Saat Dimas sudah pergi ke kantor, Bintang di rumah dengan abahnya.
Mereka duduk berdua menghabiskan waktu bersama di taman dengan menikmati secangkir minuman dan camilan.
Bintang menceritakan bagaimana ia menghabiskan waktu di rumah barunya, pun dengan abah.
"Sebenarnya Bintang mulai merasa sedikit bosan abah" ujar Bintang
"Bosan? Bosan kenapa nak?"
"Ya seharian Bintang cuma duduk, makan, nonton dan tidur menunggu mas Dimas pulang dari kantor. Bintang ga di bolehin ngapa ngapain sama mas Dimas. Masak dan segala kegiatan rumah sudah ada si mbok, Bintang benar-benar menjadi pengangguran di sini...." jelas Bintang
Abah tersenyum karena putri yang mengatakan dirinya adalah pengangguran.
__ADS_1
"Itu tandanya Dimas tidak ingin kamu sampai kecapekan, dia sayang sama kamu dan hanya mengizinkan kamu bekerja untuk melayaninya saja"
"Iya sih, tapi aku ingin juga punya kesibukan abah. Kalo aku kerja, menurut abah gimana?"
"Kerja? Boleh, kalo abah si boleh boleh aja tapi kan kamu harus tanya dulu sama suami kamu"
"Mas Dimas bakal setuju apa ngak ya bah"
"Ya mana abah tau, coba aja nanti kamu tanyain. Emangnya kamu mau kerja apa?"
"Ga tau, hehehe...."
Bintang tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal hingga membuat abah pun juga ikut tertawa.
Dua hari abah menginap di sana dan hari ini hendak kembali.
Sejak pagi abah sudah bersiap, namun Bintang memohon agar abahnya pulang sore saja.
Ia masih rindu dan masih ingin bersama.
Abah mencubit pipi Bintang yang kini wajah nya mulai murung "Kamu ini masih aja kayak anak kecil, abah nanti harus ngajar, abah ada kelas siang nak"
"Ya pulang nanti siang aja abah dari sini langsung ke kampus"
"Terus buku buat materi abah ngajar gimana?"
"Betul itu kata suami kamu. Dia memang masih seperti anak kecil kalo soal ngambek, kamu harus sabar ya ngadepin putri abah"
"Iya bah, aku sudah siapin stok sabar yang banyak buat putri abah" jawaban Dimas sontak membuat abah tertawa, begitu pun dengan Bintang yang kini pun juga ikut tersenyum.
Abah pulang ke rumah di antar oleh Dimas sekalian ia pergi ke kantor, Bintang hanya mengantar abahnya hingga ke teras depan rumahnya.
"Dah abah, dah mas Dimas...." ucap Bintang dengan melambaikan tangannya
Bintang tetap berdiri di teras bahkan setelah mobil nya keluar dari gerbang dan tak lagi terlihat oleh kedua matanya.
Saat ia membalikkan badannya dan hendak masuk ke rumah nya, ada mobil lagi yang datang.
Bintang tetap berdiri di sana karena ia penasaran siapa yang datang bertamu ke rumah nya se pagi ini.
Dan ternyata saat pintu mobil itu terbuka, yang keluar adalah mama mertuanya.
"Mama...."
Bintang melangkah mendekat menghampiri mama nya dan hendak menyalami tangannya, namun niat Bintang tak di hiraukan. Tangannya malah di tepis oleh mamanya.
"Di mana putra ku" tanya bu Ririn dengan ketus
__ADS_1
"Mas Dimas udah berangkat ke kantor ma. Ayo masuk ma" ajak Bintang yang hendak membukakan pintu
Bu Ririn mendorongnya tubuh Bintang dan membuka sendiri pintunya, beliau masuk begitu saja seperti di rumah sendiri.
Bu Ririn melihat lihat isi perabotan rumah, beliau menyentuh meja dengan ujung kukunya memastikan bersih atau tidak nya.
Bu Ririn sebisa mungkin akan terus mencari kesalahan Bintang agar bisa membuat citra buruk di mata Dimas.
"Enak ya jadi nyonya" celetuk bu Ririn
Bintang diam dan bingung maksud dari perkataan mama nya "Maksud mama...?"
Bu Ririn duduk di sofa dengan menyilangkan kakinya dan meletakkan tas mahal nya di atas meja
"Kamu pura-pura ga ngerti apa memang ga mau ngerti"
Bintang semakin bingung, ia duduk di sofa di samping bu Ririn namun bu Ririn memintanya untuk berdiri.
"Tujuan kamu sedikit demi sedikit sudah mulai tercapai ya, target kamu mendapatkan berapa persen dari kekayaan putra ku?
Bintang begitu terkejut mendengar itu, ia tidak menyangka mama mertuanya akan tega mengatakan itu padanya.
"Kenapa mama ngomong nya gitu?"
"Kenapa, kamu masih tanya kenapa? Ga usah belaga polos deh kamu, sebutin aja berapa nominal yang kamu mau akan aku berikan. Tapi setelah itu tinggalkan putra ku!"
Bintang mengelus dadanya karena tuduhan kejam dari mama nya membuat sesak dadanya.
"Astaghfirullah mama.... Kenapa mama busa kepikiran hal seburuk itu, aku menikah dengan mas Dimas murni lillahi ta'ala untuk beribadah bersama. Bukan untuk mengejar harta ma"
"Alah... Ga usah sok suci kamu. Wanita miskin seperti kamu itu ga ada tujuan lain menikahi pria kaya selain hanya untuk harta. Putra ku saja yang bodoh karena sudah termakan oleh tipuan sihir kamu"
Bintang menangis karena tak sanggup mendengar semua tuduhan dari mama nya.
"Belum puas kamu udah memisahkan aku dengan anakku? Kehadiran kamu di keluarga ku hanya menambah buruk hubungan dalam keluarga ku!"
Bu Ririn terus saja menyudutkan Bintang menyalahkan dirinya atas renggangnya hubungannya dengan putra nya.
Semua perkataan bu Ririn membuat panas telinga Bintang hingga ia tidak sanggup lagi untuk mendengarnya
"Cukup ma, cukup!"
Dengan segala keberanian Bintang meninggikan suaranya
"Sudah cukup mama menuduhku tentang semua hal yang tidak aku lakukan. Aku tau mama tidak suka dengan aku, tapi bukan berarti mama bisa seenaknya menuduh ku"
Bu Ririn terkejut karena baru kali ini menantu yang ia anggap bodoh dan polos itu bisa juga berteriak padanya.
__ADS_1
☀️☀️☀️☀️☀️