
Bu Ririn dan Hani hanya terdiam karena pak Hendra tak mengijinkan mereka untuk berbicara.
Pak Hendra bertanya dengan detil dan mendalam tentang gadis yang akan menjadi menantunya itu.
Dengan mantap dan percaya diri Dimas menjawab semuanya dengan pasti.
"Papa ga bisa jawab sekarang, setuju atau tidak. Papa masih ingin mencari tahu sendiri tentang gadis itu lebih dalam"
"Dimas ga keberatan pa, papa silahkan cari tau tentang dia sesuka hati papa. Baru setelah itu papa kasih jawaban untuk ku, RESTU atau PENOLAKAN"
"Ya sudah papa mau ke ruang kerja papa dulu, besok akan ada meeting dan papa harus membaca dulu semua berkas-berkas nya"
Pak Hendra lalu naik ke lantai atas meninggalnya Dimas dan yang lainnya
"Dimas..." Panggil bu Ririn
"Apa ma, mama masih mau komplen karena dia gadis berhijab? Kalo mama udah ketemu langsung dan kenal sama dia, mama pasti akan sangat menyukainya. Ya sudah ma, Dimas mau ke kamar dulu"
Kini hanya tinggal bu Ririn dan Hani.
"Ya sudah lah ma, mau gimana lagi. Orang kakak udah ngebet banget sama tuh cewek. Kita tinggal tunggu keputusan papa aja nanti, jadi atau ngak"
"Padahal ya, mama udah ada niatan mau jodohin kakak kamu sama anaknya temen mama. Dia cantik, wanita karir, orang tuanya sudah sangat dekat dengan mama. Kehidupan nya juga sudah sangat mapan, tapi kakak mu malah memilih wanita lain"
"Hani juga ga ngerti sama kakak. Ya udah ma, Hani mau ke kamar masih banyak kerjaan yang harus Hani selesaikan. Bye ma..."
Hani mencium pipi bu Ririn dan pergi ke kamarnya.
*****
Di rumah Bintang
Subuh ini pak Ahmad sudah bangun bahkan sudah rapi dengan baju koko nya.
Beliau sudah siap pergi ke masjid untuk sholat subuh berjamaah.
Sebelum pergi ke masjid, pak Ahmad pergi ke kamar Bintang untuk melihatmu sudah bangun atau belum.
Pintu kamar Bintang yang sedikit terbuka membuat pak Ahmad tidak perlu untuk mengetuknya.
Terlihat Bintang yang memakai mukenah nya duduk di meja belajar nya.
Setelah itu pak Ahmad lalu pergi ke masjid.
Setelah pulang dari masjid pak Ahmad duduk di sofa sambil mengaji.
"Kok Bintang belum keluar kamar" Batin pak Ahmad
Biasanya setiap pak Ahmad pulang dari masjid, Bintang pasti sudah menunggunya di sofa untuk setor hafalan Alquran nya.
Tapi setelah cukup lama menunggu Bintang tak juga keluar kamar.
Pak Ahmad akhirnya pergi untuk melihat Bintang di kamarnya.
Bintang tetap duduk di meja belajar nya, pak Ahmad mendekat dan memegang pundaknya.
"Bintang... Kamu tidur nak? Sudah sholat subuh belum?"
Bintang bangun dan mengucek matanya.
"Abah, abah mau ke masjid?"
"Udah dari tadi nak, memangnya kamu ga denger adzan subuh?"
__ADS_1
Bintang melihat jam di depannya dan ternyata sudah jam 5 pagi.
"Astaghfirullah, sudah jam 5. Bintang belum sholat subuh abah. Bintang ketiduran"
Pak Ahmad tertawa dan mengelus kepalanya.
"Cepat wudhuk sana, terus sholat. Takutnya kesiangan"
"Iya bah"
Pak Ahmad keluar dari kamar Bintang, dan Bintang segera mencuci muka lalu berwudhu.
Setelah selesai melaksanakan sholat subuh Bintang keluar menghampiri abah yang sedang duduk di sofa.
"Abah, maafin Bintang ya. Pasti abah sudah nungguin Bintang dari tadi"
"Ga papa kok. Kamu capek banget ya sampe adzan subuh ga kebangun?"
"Iya mungkin bah, tadi habis tahajjud Bintang nulis skripsi eh taunya malah ketiduran"
"Ya udah ga papa, sekarang mau setor?"
Bintang mengangguk kemudian mulai membaca ayat Alquran.
Dengan suara lembut dan merdu Bintang membaca kan ayat-ayat Alquran dengan lagu yang indah.
Menjadikan Bintang seorang hafizah adalah impian besar almarhumah umi nya Bintang.
Pak Ahmad kini berhasil mewujudkan impian almarhumah istrinya itu.
Hari ini seperti biasanya Bintang pergi kuliah.
Kini Bintang sudah mulai di sibukkan dengan membuat skripsi.
Hari ini kelas pertama di mulai Bintang merasa tubuhnya agak meriang dan kepalanya sedikit pusing.
Ia sering memegang kepalanya sambil terus menyimak dosen di depan.
Tasya notice Bintang yang hari ini terlihat beda.
Bintang yang biasanya selalu ceria dengan senyum nya yang tak pernah hilang dari bibirnya kini seperti bunga layu.
"Kamu kenapa Bin?" Bisik Tasya
"Aku ga papa kok Sya, cuma merasa sedikit pusing aja"
"Aku antar ke UKS yuk"
"Ga usah, nanggung. Bentar lagi kelas selesai kok"
Bintang berusaha menahan sakit kepalanya sampai kelas berakhir.
Barulah setelah dosen keluar Tasya segera mengajaknya ke UKS.
Wajah Bintang mulai pucat dan seperti nya Bintang semakin lemas.
"Kita ke rumah sakit aja yuk Bin, aku khawatir liat kamu pucat gini"
"Ga papa kok Sya, aku cuma butuh istirahat aja"
"Kamu yakin?"
Bintang mengangguk sambil berusaha tersenyum.
__ADS_1
"Ya udah kamu istirahat dulu di sini, aku beliin teh manis sama roti dulu di kantin"
Bintang tiduran sambil terus memijat kepalanya.
Semakin lama pandangannya semakin kabur, badannya kini terasa panas dingin.
Dengan terus Beristigfar Bintang sekuat tenaga menahan, tapi matanya semakin buram hingga akhirnya ia tidak sadarkan diri.
Tak lama Tasya pun datang dengan membawa makanan dan minuman di tangannya.
"Bintang, minum teh nya dulu ya"
Tak ada respon dari Bintang, ia tetap menutup matanya dan nafasnya mulai melambat.
"Bin, Bintang... Bintang bangun Bin...."
Tasya mencoba menggoyang goyangkan tubuhnya namun Bintang tak juga bangun.
Tasya meraba keningnya dan suhu tubuh Bintang sangat panas.
"Ya Tuhan, Bintang panasnya tinggi banget, terus kol ga bangun bagun ya. Apa jangan jangan Bintang pingsan?"
Benar, Bintang pingsan.
Tasya segera mencari bantuan untuk membawa Bintang ke mobilnya untuk di bawa ke rumah sakit.
Sesampainya di UGD, dokter mengatakan bahwa Bintang tekanan darahnya menurun.
Anemia hingga membuatnya jatuh pingsan.
Di tambah lagi Bintang juga demam.
Tasya yang menunggunya sendiri kebingungan harus apa.
"Apa aku harus telfon abah ya, tapi kan jam segini biasanya abah sedang mengajar. Tapi, kalo ga kasih tau abah gimana? Ah nunggu Bintang siuman dulu deh"
Tasya masuk ke kamar Bintang dan ternyata Bintang sudah siuman.
"Bin, gimana keadaan kamu sekarang?"
"Alhamdulillah, aku sudah lebih baik" jawab Bintang
Tasya memegang kening Bintang dan ternyata masih sangat panas.
"Kamu bohong ya, ini kamu masih panas banget loh"
"Iya, tapi sudah ga se pusing tadi sih"
"Apa aku telfon abah aja ya Bin?"
"Jangan Sya, jangan telfon abah. Nanti abah hmjadi khawatir dan malah ga konsentrasi ngajarnya. Ga usah..."
"Ya udah, tapi habis dari sini aku langsung antet kamu pulang ya"
Bintang mengangguk dan tersenyum
"Iya, makasih ya. Dan maaf udah ngerepotin"
"Sama-sama"
Setelah dokter meresepkan obat untuk Bintang, Tasya segera menebusnya.
Dengan menuntun Bintang, dengan pelan mereka berjalan menuju mobil.
__ADS_1
☀️☀️☀️☀️☀️