
Pak Ahmad meraih tangan Dimas dan menyatukannya dengan tangan Bintang.
aku Ahmad hampir kesulitan untuk berkata karena salivanya menolak untuk di telan, tatapannya yang tulus pak Ahmad menitipkan putrinya pada Dimas.
"Mulai hari ini, putri ku adalah tanggung jawabmu. Aku titip putri ku, jaga dia dengan baik, cintai dan sayangi dia seperti engkau menyayangi dirimu sendiri. Dan jika..."
Kalimat pak Ahmad terhenti karena air matanya yang mengalir
Pak Ahmad mengatur nafasnya dan menghapus air mata di pipi nya sebelum kembali melanjutkan kalimatnya
"Dan jika nanti kamu sudah tak lagi mencintai nya, jangan beri tau dia. Kembalikan dia pada ku dengan keadaan baik sebagaimana aku menyerahkannya pada mu dengan baik"
Tangis Bintang kembali pecah mendengar itu.
Bahkan pak Hendra pun juga menitikkan air matanya karena ia juga mengerti apa yang besannya itu rasakan, karena pak Hendra juga memiliki seorang putri yang nantinya juga akan hidup dengan pasangannya dan pergi dari rumah.
Dimas mengangguk ia, air matanya yang hampir jatuh sekuat mungkin Dimas tahan.
"Abah jangan khawatir, aku akan menjaga putri abah dengan baik. Aku janji..."
"Pak Ahmad tenang saja, mulai saat ini putri bapak tidak hanya menjadi menantu di keluarga kami tapi menjadi putri kami. Kami akan menjaga nya sebagaimana kami menjaga putri kami sendiri" ucap pak Hendra
Pak Ahmad tersenyum pada besan nya
"Aku percaya kalian akan menjaganya dengan baik"
__ADS_1
Pak Ahmad dan pak Hendra pun saling berpelukan.
Tasya yang menyaksikan itu menjadi terharu dan tidak dapat membendung air matanya.
Bahkan Tasya mengabaikan telfonnya yang berulang kali berdering di dalam tasnya.
Mereka lalu melangkah keluar bersama.
Di tangan kanannya Bintang menggenggam tangan abahnya, dan di tangan kirinya tangan Dimas.
"Pergilah nak, jaga diri baik-baik di sana. Sering sering telfon abah" ucap pak Ahmad
Bintang mengangguk lalu memeluk abahnya
Pak Ahmad tersenyum lalu mencium kening putri nya itu.
Dimas lalu meraih tangan ayay mertuanya itu untuk berpamitan dengan menyalami tangannya.
Pak Ahmad tidak hanya memberikan tangannya namun juga memeluk Dimas.
Tak lupa Bintang juga memeluk Tasya karena mungkin setelah ini mereka tidak akan lagi bisa bermain sesuka hati seperti dulu.
Setelah semua selesai berpamitan kini Bintang pun masuk ke dalam mobil bersama dengan suaminya.
Sedangkan papa, mama dan Hani di mobil lainnya.
__ADS_1
Bintang membuka kaca mobil dan melambaikan tangannya pada abahnya.
Meski bibirnya terasa sulit untuk tersenyum namun Bintang paksakan untuk tersenyum demi bisa sedikit membuat abahnya tenang.
Pak Ahmad dan Tasya memperhatikan mobil pengantin itu yang kini sudah melaju menjauh.
Pak Ahmad mengelap sisa air mata di wajahnya dan mencoba tersenyum.
"Abah yang sabar ya" ucap Tasya
"Iya nak, makasih ya kamu udah nemenin Bintang sampai saat ini"
"Sama sama abah, Bintang itu udah Tasya anggap seperti saudara sendiri. Oh ya bah, Tasya pamit pulang ya"
"Iya nak, makasih ya udah datang di hari bahagia Bintang. Sampaikan salam dari abah buat mami sama papi kamu, makasih karena sudah meluangkan waktunya"
"Iya bah, nanti Tasya sampein. Assalamualaikum abah..."
"Wa'alaikum salam warahmatullah..."
Rumah kini sudah kembali sepi, hanya ada beberapa orang dari tetangga yang membantu berkemas.
Pak Ahmad masuk ke kamarnya dan duduk di tepi kasurnya sambil memerhatikan bingkai foto dirinya dengan putrinya yang terpajang rapi di dinding.
☀️☀️☀️☀️☀️
__ADS_1