
Sulit di percaya, karena setahunya mama nya itu tidak mudah berubah pikiran hanya dalam kurun waktu yang singkat.
Baru tadi pagi mama nya sangat tidak setuju, tapi siang ini sudah berubah.
"Apa yang mama katakan barusan?"
Dimas seperti tidak percaya dan ingin mama nya untuk mengulangi perkataannya.
"Mama sudah menyetujui keputusan kamu untuk menikahi gadis itu" jawab bu Ririn sambil tersenyum
Tak hanya Dimas, bahkan pak Hendra pun juga di buat terkejut dengan pernyataan istrinya itu.
"Mama beneran udah restuin Dimas?" Tanya pak Hendra tak percaya
"Iya, emangnya kenapa? Papa ga percaya sama mama?"
"Bukannya ga percaya, tapi kayak aneh gitu. Mama berubah pikiran dalam waktu sekejap"
"Ya sejak papa dan Dimas pergi tadi, mama jadi kepikiran. Dimas sudah dewasa, dan ia akan menikah dengan wanita impian nya. Yang akan menjalaninya ya Dimas sendiri, jadi mama ga bisa berbuat apa-apa selain menyetujuinya"
Jelas bu Ririn
Dengan senyuman yang terus mengembang, Dimas langsung memeluk mama nya dengan erat.
"Makasih ma, makasih. Mama udah mau setuju dengan keputusan ku, aku yakin setelah mama mengenal Bintang nanti mama pasti bakal suka sama dia. Dia akan menjadi menantu terbaik buat mama"
"Iya iya, mudah-mudahan begitu"
Ujar bi Ririn dengan menepuk lengan Dimas yang memeluknya
"Oh iya, kamu sama papa belum cerita. Bagaimana tadi di rumah gadis itu, apa lamaran nya langsung di terima?"
Dimas melepas pelukannya lalu menggeleng kan kepalanya
"Belum ma, kita mau saling mengenal dulu satu sama lain lewat proses ta'aruf"
"Ta'aruf? Apa itu sayang"
"Mereka akan saling mengenal melalui biodata masing-masing, ya semacam gitu lah" saut pak Hendra
"Kalau memang masih mau saling mengenal dulu, kenapa ga pacaran aja?"
"Ish mama, Bintang mana mau pacaran ma" saut Dimas
"Ya kan dengan pacaran bisa saling mengenal, lebih akrab gitu"
"Ta'aruf juga gitu ma, tapi bedanya harus ada pendamping. Ga boleh kalo cuma berdua aku sama Bintang aja"
Bu Ririn mengangguk dan sudah mulai mengerti
"Oh gitu. Mulai kapan ta'aruf nya?"
"Gimana kalo lusa kita kesana buat kasih CV aku, mama mau ikut?"
__ADS_1
"Boleh, emang di kantor kamu ga sibuk?"
"Ya kak bisa lah ma di tunda dulu kerjanya. Kalo nunggu ga sibuk, kapan aku bisa nikah. Besok lusa aja ya pa, gimana?"
Pak Hendra mengangguk setuju
"Terserah kamu aja. Kamu atur kapan sebisanya nanti papa kabarin ustadz Hafid"
Bu Ririn terkejut karena ia tidak tau kalau papa dan Dimas tadi juga mengajak ustadz Hafid.
"Tadi papa sama Dimas ngajak ustadz?"
Dimas dan pak Hendra kompak mengangguk.
"Udah, besok lusa ga usah ajak dia lagi. Mama sama Hani juga mau ikut"
"Emangnya Hani mau?" Tanya pak Hendra
"Kalo urusan Hani serahkan saja sama mama, Hani pasti mau kok"
Ujar bu Ririn dengan percaya dirinya.
"Ya udah, aku mau ke kamar dulu ya ma, pa. Aku mau istirahat"
Papa dan mama nya mengangguk sambil tersenyum lalu Dimas pun naik ke lantai 2 dimana kamarnya ada di sana.
*****
Bintang bahkan tidak bisa menulis skripsi nya karena pikirannya tidak bisa konsentrasi.
Bintang duduk di meja belajar nya dengan pensil yang ia mainkan di jari-jarinya.
Abah mengetuk pintu dan memanggil nya berulang kali namun Bintang tetap tidak sadar.
karena pintunya tidak di kunci abah langsung saja masuk dan duduk di tepi kasur.
Hingga beberapa menit abah di sana, Bintang tetap tenggelam dalam lamunannya.
Abah lalu mendekatinya dan memegang pundaknya.
Seketika Bintang langsung tersadar dan menjatuhkan pensilnya ke lantai.
"Astaghfirullah hal adzim... Abah. Abah ngagetin aja" seru Bintang
Dengan mata yang sudah sedikit layu itu abah mengangkat kedua sudut bibirnya untuk tersenyum.
"Lagi ngelamunin apa sih, sampe dari tadi abah ketok ketok pintu ga denger"
"Ee... Itu maaf abah, Bintang lagi mikirin skripsi. Mumet abah" jawab bintang dengan sedikit tertawa memperlihatkan giginya yang rapi dengaj satu lesung pipi tepat nya di pipi kanannya.
Abah mengambil beberapa kertas yang ada di atas meja lalu membacanya.
"Abah coba lihat ya bagaimana skripsi mu"
__ADS_1
Bintang mengangguk setuju.
Sejujurnya bukan masalah skripsi yang ia pikir kan melainkan tentang lamaran kemarin.
Tapi Bintang malu untuk mengatakannya pada abah.
"Ini skripsi nya bagus kok, tinggal di lanjutin aja. Ya meski ada beberapa kosa kata yang perlu kamu perhatikan lagi. Yang ini, ini juga"
Abah memberi masukan tentang skripsi yang di buat oleh Bintang sambil menunjuk bagian mana saja yang perlu di perbaiki, meski Bintang mengangguk seolah sedang mendengar kan, namun nyatanya tidak.
"Nak..." Panggil abah dengan memegang pundak Bintang.
Bintang langsung menoleh dan menatap mata orang yang sangat ia sayang itu.
"Iya abah" jawabnya lembut
"Jika kamu merasa bimbang, cobalah untuk sholat istikharah. Minta petunjuk sama Allah agar kamu di berikan pilihan yang terbaik. Abah tidak akan memaksa kamu, jika kamu mau ya terima saja dan jika tidak, abah akan bilang pada mereka dengan baik-baik" tutur pak Ahmad
Bintang menunduk berpura pura merapikan bukunya.
"Jangan memaksa kan diri mu nak, tak apa jika kamu belum siap. Abah akan bantu kamu untuk mengatakan nya pada mereka"
Bintang langsung memeluk abahnya dengan memejamkan matanya.
"Makasih ya bah, abah selalu ngerti perasaan Bintang meski Bintang tidak memberi tahu abah. Maafin Bintang yang sudah sering merepotkan abah..."
"Ga boleh ngomong gitu, kamu ga pernah merepotkan abah. Justru kamu adalah sumber dari kebahagiaan yang Allah kirim kan untuk abah"
Setelah merasa lebih tenang berada di pelukan abahnya, kini Bintang sudah bisa tersenyum lagi.
Karena ini audah jam 9 malam abah lalu menyuruh nya untuk segera istirahat.
Bintang mengangguk, lalu pak Ahmad keluar dari kamarnya.
Meski matanya kini sudah merasa sepet karena mengantuk, Bintang berusaha untuk menahannya.
Ia lalu pergi ke kamar mandi untuk mensucikan dirinya sebelum tidur dengan cara berwudhu.
Ia terus menahan kantuknya demi melakukan sholat istikharah.
Setelah sholat, Bintang kembali berdoa dengan cukup lama.
Meminta petunjuk dan juga menjaga dirinya.
Doa yang sangat panjang dengan mata terpejam saking khusyuk nya.
Barulah setelah itu Bintang merebahkan dirinya, menutupi selimut hingga ke dadanya lalu perlahan menutup matanya.
Meski begitu Bintang tidak langsung tertidur.
Ia masih menghafal kan bacaan Alquran nya dari dalam hati, hingga akhirnya ia tertidur dengan pulas.
☀️☀️☀️☀️☀️
__ADS_1