Terpaksa Di Madu

Terpaksa Di Madu
23 Pertemuan Dua Keluarga


__ADS_3

Bintang duduk di depan cerminnya sambil menyisir rambut nya yang sedikit basah.


Melihat jam di dindingnya yang terus berdetak.


Pak Ahmad mengetuk pintu kamar Bintang dari luar Toktoktok.... "Bintang...." Panggil pak Ahmad dari luar


Bintang langsung beranjak dan membuka pintunya.


"Iya abah..."


"Kamu sudah siap? Mungkin sebentar lagi mereka akan datang"


Bintang mengangkat ujung bibirnya dan tersenyum "Sebentar lagi abah, ini Bintang udah mau pake hijab"


Pak Ahmad memegang pundak Bintang sambil tersenyum padanya lalu pergi ke luar dan duduk di teras.


Bintang kembali masuk ke kamarnya, ia mengambil hijabnya di lemari.


Bintang duduk di depan cermin dengan segala perlengkapan untuk hijabnya di depannya.


Bintang mengikat rambut nya yang hanya sebahu lalu memakai dalaman untuk hijabnya.


Bintang lalu mulai memasang hijabnya dan menyematkan jarum pentul di bawah dagunya.


Hijab pashmina berwarna merah yang ia gunakan berwarna senada dengan abaya yang ia gunakan.


Tak lupa juga Bintang menyematkan bros bunga kecil berwarna putih di bagian dada kanannya.


Setelah rapi dengan hijabnya Bintang tetap duduk memandangi dirinya sendiri.


Ia lalu memgambil CV di depannya dan meraba-raba.


"Ya Allah, hamba pasrahkan takdir hamba kepada Engkau. Apa dan bagaimana nanti kedepannya semoga semuanya baik-baik saja" batin Bintang.


Sambil menunggu Dimas dan keluarga nya datang, Bintang membaca buku di dalam kamarnya.


15 menit kemudian, terdengar suara mobil di teras depan rumahnya.

__ADS_1


Seketika jantung Bintang berdegup dengan kencang.


Tangannya mulai bergetar karena ia mulai merasa gugup.


Pak Ahmad yang masih duduk di teras langsung menyambut kedatangan Dimas dan keluarga nya.


Beliau lalu mempersilahkan masuk.


Setelah Dimas dan keluarga nya duduk pak Ahmad lalu memanggil Bintang ke kamarnya.


Begitu pak Ahmad membuka pintu kamar Bintang dengan pelan.


Bintang yang sedang duduk di tepi kasurnya menatap wajah abahnya.


Pak Ahmad melangkahkan kakinya masuk ke dalam dan duduk di samping Bintang.


"Mereka sudah datang, ayo keluar" ajaknya


Bintang mengangguk lalu berdiri. Berjalan keluar di belakang abahnya dengan memegang lengannya.


Tapi begitu sampai di ambang pintu langkah kaki Bintang terhenti.


"Bintang mau membuatkan mereka minuman dulu di dapur abah"


"Abah sudah membuatnya, kamu tinggal ambil dan bawa ke meja"


Bintang mengangguk dan langsung pergi ke dapur sedangkan pak Ahmad kembali ke ruang tamu.


Hani dan mamanya yang baru pertama kali ke sini melihat ke semua sudut ruangan.


Ternyata rumah nya Bintang tidak seburuk yang mereka kira.


Hani dan mama nya mengira Bintang adalah gadis yang berasal dari kalangan orang miskin dengan rumah kumuh, tapi ternyata rumah Bintang meski tidak terlalu besar namun nyaman, bersih dan asri.


Tak lama Bintang pun keluar dengan membawa nampan di tangannya.


Bintang lalu meletakkan gelas yang berisi teh itu di depan Dimas dan keluarga nya.

__ADS_1


Setelah itu pak Ahmad menepuk kursi di samping nya agar Bintang duduk di sebelah nya.


Mata Dimas tak henti menatap Bintang, bola matanya tidak mengizinkan kelopaknya untuk berkedip.


Bintang dengan kulit nya yang putih bersih memakai abaya merah semakin membuat warna kulit nya terpancar cerah.


Bu Ririn dan Hani tidak menyangka ternyata Bintang yang asli lebih cantik dari pada yang ada di foto.


Penampilan bu Ririn dan Hani berbanding 90° dengan Bintang.


Bintang yang tampak cantik, anggun dan sholeh dengan pakaian tertutup nya, sedangkan bu Ririn dan Hani hanya menggunakan dress lengan pendek dengan panjangnya yang hanya se betis mereka.


Pak Ahmad lalu mempersilahkan Dimas dan keluarga nya meminum teh yang sudah di sediakan, dan barulah setelah itu perkenalan pun di mulai.


Dengan pak Hendra yang mengenalkan istri dan anaknya bungsunya yaitu bu Ririn dan Hani pada pak Ahmad dan Bintang.


Taaruf pun di mulai dengan saling bertukar CV antara Dimas dan Bintang.


Pak Hendra menyerahkan CV milik Dimas pada pak Ahmad dan begitu pula sebaliknya, pak Ahmad memberikan CV milik putrinya pada pak Hendra.


Dimas dan Bintang sama-sama saling membaca CV di tangan mereka.


Dimas tidak perlu waktu lama untuk membaca semua biodata milik Bintang karena Dimas sudah mengetahui semuanya.


Hani dan bu Ririn yang penasaran lalu mengambil CV Bintang dari tangan Dimas dan mulai membacanya.


Hani dan bu Ririn tidak menaruh ekspektasi lebih pada Bintang karena menurut mereka gadis dengan pakaian seperti itu memiliki keterbatasan dalam semua hal dan kegiatan, terlebih lagi Bintang yang lulusan dari pesantren.


Namun setelah membaca biodata Bintang mereka pun di buat terkejut dan keheranan.


Bagaimana tidak, Bintang yang terlihat biasa saja di mata mereka ternyata mempunyai banyak kemampuannya di berbagai bidang.


Selain gelar hafizah yang Bintang dapat, banyak juga prestasi yang Bintang miliki seperti menulis buku, pandai dalam bahasa arab dan Inggris, membuat pola design, bahkan juga Bintang mahir dalam olahraga karate.


Hani melirik ke mama nya karena prestasi yang Bintang miliki lebih banyak dari dirinya.


Begitu pun bu Ririn yang di buat kagum dengan segala prestasi Bintang.

__ADS_1


Setelah selesai membaca CV masing-masing, pertemuan dua keluarga itu terus berlanjut dengan saling melempar pertanyaan.


☀️☀️☀️☀️☀️


__ADS_2