
Di perjalanan menuju rumah baru baginya, Bintang hanya terdiam dengan menundukkan pandangannya.
Matanya masih basah dengan air mata yang masih ingin keluar dari kelopak matanya.
Dimas mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dan mengulurkan nya pada Bintang.
"Pakai ini..."
Bintang melirik sapu tangan putih itu lalu melihat wajah Dimas dan kembali menunduk.
Bintang mengambil sapu tangan itu dan menggunakannya untuk mengelap air matanya.
"Aku tidak akan melarang mu menangis. Menangis lah sepuas hati mu, aku tau ini pasti sangat sulit bagi mu" ucap Dimas
Bintang mengangkat wajahnya lalu memangdang Dimas "Aku minta maaf, aku..."
"Tidak perlu minta maaf, aku mengerti" saut Dimas sebelum Bintang menyelesaikan perkataan nya
Meski sudah halal namun Bintang masih sangat malu untuk menatap Dimas lama-lama, sesekali ia hanya melirik dari ekor matanya.
Pernikahan Bintang membuat sesak dua laki-laki yang memendam rasa padanya, siapa lagi kalau bukan Arif dan Justin.
Arif memilih untuk tidak hadir di acara pernikahan Bintang karena ia tidak sanggup melihatnya.
Begitu pun dengan Justin, meski sudah dengan penampilannya yang rapi, namun di perjalanan menuju rumah Bintang ia berubah pikiran.
Ia memilih memutar balik dan berdiam diri di rumah.
__ADS_1
*****
Kini Bintang sudah sampai di rumah barunya, yaitu rumah dari keluarga suaminya.
Rumah yang berbanding terbalik dengan keadaan rumahnya yang sederhana.
Rumah Dimas begitu besar dengan pagar berwarna hitam membentang luas di halaman.
Rumah mewah dan megah itu membuat Bintang takjub melihatnya.
Ia memang sudah tau kalau Dimas itu berasal dari orang berada, namun Bintang tidak menyangka bahwa kenyataan nya hunian Dimas lebih mewah dari yang ia bayangkan.
Dimas turun lebih dulu lalu membukakan pintu mobilnya untuk Bintang.
Saat ia menginjakkan kakinya untuk pertama kali semilir angin menerpanya.
"Ayo..." Ajak Dimas
Bintang memberikan tangannya menerima uluran tangan Dimas.
Dengan menggenggam tangan Dimas, Bintang melangkah kan kakinya masuk ke dalam rumah.
"Selamat datang di rumah baru mu. Mulai hari ini rumah ini juga rumah mu" ujar pak Hendra
Bintang tersenyum dan mengangguk.
"Ajak lah istri mu ke kamar, dia pasti capek" sambung bu Ririn
__ADS_1
Sedang kan Hani ia langsung naik ke lantai 2 menuju kamarnya.
Kamar Dimas sangat lah luas, bahkan mungkin 4 kali luas kamarnya di rumah.
Bintang duduk di sofa sedangkan Dimas meletakkan koper milik Bintang di dekat lemari.
Bintang menyapu seluruh ruangan dengan matanya, sejak masuk ke rumah ini, hatinya tak henti mengucapkan maasya Allah.
Kamar yang begitu luas dengan di lengkapi dengan sofa di dalamnya seperti kamar yang memiliki ruang tamu.
tidak banyak aksesoris yang menghiasi dinding, hanya ada beberapa foto dan 2 lukisan.
Warna dari cat nya yang putih dan juga dinding kaca yang semakin menambah kesan luas di dalamnya.
Kamar ini sengaja Dimas tata ulang karena ia akan memulai hidup bersama seorang wanita pujaannya.
Dari menambah meja rias, lemari yang lebih besar juga dengan dinding kaca nya.
Satu yang membuat mata Bintang fokus hingga menatap dengan menyipitkan matanya.
Fotonya yang terpajang rapi di atas nakas tepat di samping tempat tidur.
"Itu fotoku? Bagaimana mungkin?" Batin Bintang
Ia merasa heran karena seingatnya ia tidak pernah memiliki foto dengan pose seperti itu.
Ingin ia bertanya pada Dimas namun ia masih malu.
__ADS_1
☀️☀️☀️☀️☀️