Terpaksa Di Madu

Terpaksa Di Madu
13 Setuju untuk Ta'aruf


__ADS_3

Sambil menepuk tangan Bintang yang ada di genggaman nya, pak Ahmad mulai memberi tahu Bintang tentang maksud dari kedatangan tamu nya saat ini.


"Mereka datang karena ingin melamar mu, nak" ucap pak Ahmad


Bintang terkejut dan membulatkan matanya.


Seketika jantungnya berdetak kencang, ia langsung merasakan panik, takut dan bingung yang bersamaan.


Ini memang bukan pertama kalinya Bintang rasakan, sudah ada beberapa pemuda yang datang ke rumah untuk meminangnya namun belum abah terima karena usia Bintang yang terlalu muda.


Abah meletakkan tangannya di bahu Bintang lalu mengusapnya dengan lembut.


"Tidak usah panik, abah belum menerimanya kok"


Bintang yang awalnya pandangannya kebawah langsung memutarkan korneanya menatap sepasang mata milik abahnya.


"Belum? Berarti abah masih akan menerimanya?"


Abah tersenyum dan kembali menepuk tangan Bintang


"Abah tidak tau, keputusan nya ada di tangan kamu sendiri. Dulu memang abah yang memutuskan karena usia kamu yang masih kurang. Sekarang kamu sudah dewasa, dan ini adalah tentang kehidupan mu di masa depan. Abah tidak bisa main terima lamaran orang begitu saja tanpa mempertanyakan bagaimana keputusan mu"


Bintang menunduk kan kepalanya dan terdiam.


Ia tidak tau harus menjawab dan berbuat apa.


"Apa yang harus Bintang lakukan abah?"


"Abah hanya ingin menyampaikan niat mereka, dan keputusan nya ada di tangan mu. Kamu mau atau tidak bertaaruf dengan nak Dimas?"


Pak Ahmad akhirnya mengajak Bintang untuk keluar dan menemui orang yang melamar nya.


Meski tadi Bintang sempat keluar untuk memberikan minuman, tapi Bintang sama sekali tidak melirik ke arah ke tiga tamu nya.


Pak Ahmad meminta Bintang untuk duduk di sampingnya.


Dimas tak bisa memalingkan pandangannya dan terus memandangi bidadari cantik yang ada di depannya.


Kini giliran ustadz Hafid yang bertanya pada Bintang "Apakah kamu mau untuk menjalani ta'aruf dengan Dimas?"


Dengan perasaan nya yang campur aduk, Bintang menunduk dengan memainkan jemari tangannya.


"Jika abah setuju, saya mau menjalani ta'aruf ini"


Jawab Bintang dengan lembut.


Suara Bintang yang lembut mengalun merdu di telinga Dimas.


Matanya yang sayu karena harap-harap cemas kini langsung berbinar mendengar jawaban Bintang.


"Baiklah, sekarang sudah jelas. Pertemuan ini membuahkan hasil yang baik. In sya Allah besok kami akan datang lagi dengan membawa CV dari Dimas untuk nak Bintang" kata ustadz Hafid


Pertemuan itu akhirnya selesai.


Pak Hendra, ustadz Hafid dan Dimas berpamitan untuk pulang.


Mereka bersalaman dengan pak Ahmad sedangkan Bintang tetap menunduk di belakang tubuh abahnya.

__ADS_1


Abahnya mengantar kepulang Dimas hingga ke teras depan, sedangkan Bintang kembali duduk dan mulai kepikiran dengan jawabannya sendiri tadi.


Setelah Dimas pulang pak Ahmad kembali masuk.


Melihat wajah Bintang yang gelisah beliau duduk di samping nya.


"Ada apa nak?"


"Ga tau abah. Bintang gelisah"


Dengan memegang tangan Bintang abah memegang tangan Bintang


"Jangan terlalu cemas dan gelisah, paarahkan semuanya pada Allah. Mintalah petunjuk dari Nya. Melakukan proses ta'aruf bukan berarti harus menikah, tergantung bagaimana kedepannya. Apakah kalian ada kecocokan atau sebaliknya"


Bintang menyandarkan kepalanya di bahu abahnya.


Ia memejamkan matanya dan mencoba menghilangkan gelisahnya di pelukan abahnya.


"Jalan jalan nya, jadi?" Tanya pak Ahmad


Bintang mengangkat kepalanya lalu menggeleng.


"Ga jadi deh, udah siang abah. Tanggung, bentar lagi udah mau dhuhur"


"Terus sekarang kamu mau ngapain?"


"Ga ada sih. Mau nonton TV aja sambil nunggu adzan"


"Ya sudah, abah ke kamar dulu ya. Mau istirahat sebentar"


Meski kedua bola matanya menatap khusuk ke TV, tapi pikirannya melayang entah kemana.


Mau tidak mau ia harus menerima ajakan ta'aruf ini, karena jika mengingat tentang omongan tetangga 2 tahun yang lalu.


Pernah tidak sengaja Bintang mendengar omongan tidak enak beberapa ibu ibu tentang abahnya.


Mereka bilang kalo pak Ahmad hanya pura-pura sok agamis, terlalu pilih pilih untuk mencari menantu.


Dan yang paling menggores di hatinya ketika salah satu dari mereka bilang "Sok sok an pilah pilih mantu, kayak anaknya yang paling sempurna aja. Padahal mah biasa aja, banyak kol anak gadis yang lebih cantik dari Bintang tapi orang tuanya ga kek pak Ahmad gitu"


Kalimat itu masih sangat jelas teringat di benak Bintang.


Bintang khawatir abahnya akan mendengar itu lagi jika lamaran kali ini masih di tolak.


Karena pikirannya yang terus meracau kemana-mana, Bintang mematikan TV nya dan pergi ke kamarnya.


Ia lalu mengambil wudhu, memakai mukenahnya lalu mengambil Al-Qur'an nya dari atas meja.


Ia mencoba menenagkan pikirannya dengan membaca ayat suci Al-Quran.


Hingga adzan dhuhur di kumandangkan segera ia berdiri untuk melaksanakan sholat dhuhur.


Di sujud terakhir nya, Bintang bersujud dengan cukup lama.


Ia berdoa dalam sujud nya meminta agar Allah selalu mendampingi nya dalam semua keputusan yang ia ambil.


Selepas salam, Bintang lanjut dengan berdzikir barulah setelah itu ia menengadahkan tangan nya dan kembali berdo'a.

__ADS_1


Ia meminta petunjuk atas ta'aruf yang akan ia jalani.


"Ya Allah ya Rabb, jika keputusan hamba saat ini memang benar maka jangan lah Engkau persulit jalannya. Dan jika ini bukanlah yang terbaik bagi hamba, mohon segera lah beri hamba petunjuk. Hamba tidak mau jika hamba sampai menaruh rasa jika akhirnya tak kau izinkan untuk bersama..."


Ucap Bintang di akhir doa nya sebelum ia menyapu wajahnya dengan kedua tangannya.


Bintang lalu merebahkan tubuhnya yang masih memakai mukenah di atas sajadah nya.


Ia menatap langit-langit kamar nya dan perlahan mulai memjamkan matanya dan dengan cepat Bintang terlelap tidur dengan nyenyak.


*****


Di rumah Dimas


Dimas dan papa nya baru saja sampai di rumah, setelah sebelumnya mengantar ustadz Hafid pulang lebih dulu karena ada urusan.


Dimas dan papa nya masuk ke rumah dan di sambut oleh mama nya yang duduk dengan wajah muram di sofa.


Dimas dan papa nya saling tatap dan seperti nya mereka berbicara lewat telepati.


Pak Hendra menghampiri bu Ririn dan duduk di samping nya, sedangkan Dimas berjalan terus menuju kamarnya.


"Dimas... Sini!" Panggi bu Ririn dengan datar.


Dimas menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap mama nya.


Papa nya mengedipkan mata memberi isyarat pada Dimas agar mendekat.


"Ada apa ma" tanya Dimas


"Duduk sini" bu Ririn menepuk sofa di sebelahnya agar Dimas duduk di sana.


Dimas membuka jas nya dan duduk di samping mamanya.


"Kamu marah sama mama?"


Tanya bu Ririn sambil menatap wajah Dimas


Sambil membuka jam tangannya Dimas menjawab "Ngak"


"Kalo ga marah kenapa kamu bersikap dingin sama mama"


"Aku gak marah sama mama, aku hanya memilih diam karena keinginan ku tak se jalan dengan keinginan mama"


Bu Ririn memegang tangan Dimas sambil menepuknya.


"Mama minta maaf karena mama sempat tidak setuju dengan keputusan kamu"


Dimas yang sedari tadi melihat ke arah lain, kini bola matanya mulai melirik ke arah mama nya.


"Ya, awalnya mama memang sempat tidak setuju. Tapi sekarang mama setuju dengan keputusan kamu"


Seketika telinga Dimas langsung mekar dengan matanya yang bersinar.


Ia terkejut karena mama nya yang sangat tidak setuju kini sudah berubah.


☀️☀️☀️☀️☀️

__ADS_1


__ADS_2