
"Abah..." Panggil Bintang lalu duduk di damping abahnya
Pak Ahmad terkejut karena di tangan Bintang ada obatnya.
"Ini obat apa abah? Abah sakit? Sakit apa? Sejak kapan abah sakit, kenapa tidak memberi tahu Bintang?"
Banyak pertanyaan yang Bintang ajukan hingga membuat suami dan abahnya bingung.
"Kalo nanya itu satu-satu dong sayang, kasihan abah. Abah pasti bingung mau jawab yang mana" ujar Dimas
Bintang melirik suaminya lalu kembali menatap abahnya.
"Abah sakit?"
Pak Ahmad menggeleng lalu mengambil obat dadi tangan putrinya
"Abah ga papa kok, ini itu cuma vitamin"
Bintang mengangkat alisnya tidak percaya.
Ia kembali mengambil obat itu dan membaca merek nya.
"Abah, ini bukan vitamin. Aku memang bukan lulusan farmasi tapi aku tau kalau ini obat, bukan vitamin"
Pak Ahmad menghembuskan nafasnya dengan pelan lalu berkata jujur.
"Iya, itu memang obat. Kemarin abah sempet ga enak badan dan pusing, tapi sekarang abah sudah ga papa kok, abah udah sehat"
"Bener abah udah sehat?"
"Iya nak, kalo abah tidak sehat ga mungkin tadi abah menghadiri acara di kampus"
Bintang akhirnya bisa bernafas dengan lega, ia memegang tangan abahnya lalu mencium nya.
__ADS_1
"Lain kali kalo abah ada apa apa, langsung kabari Bintang. Bintang ga mau abah kenapa-kenapa"
Pak Ahmad memegang pundak Bintang dengan melempar senyumnya.
"Ga perlu mikir yang aneh aneh, abah di sini baik baik aja. Kamu fokus sama suami dan keluarga baru mu"
Bintang langsung memeluk abahnya dengan erat, ia merasa sakit karena harus meninggalkan abahnya sendiri di sini.
Namun ia tidak punya pilihan lain karena ia harus ikut di mana suaminya tinggal.
Saat ini Bintang melepas mukenah nya dan mengambil hijabnya.
Ia mulai bersiap siap untuk pulang ke rumah suaminya.
Melihat tadi istrinya yang tampak sangat bahagia di pelukan abahnya, Dimas berencana untuk menginap di sini meski hanya 1-2 hari.
Dimas memeluk Bintang dari belakang membuatnya kesulitan untuk memakai hijabnya.
Dimas mengambil jarumnya dan meletakkan di atas meja.
"Kamu masih kangen sama abah?" tanya Dimas
Dengan memandang wajah suaminya dari cermin di depannya Bintang balik bertanya
"Kenapa mas?"
"Kalo kamu masih kangen sama abah kita menginap aja di sini 1/2 hari"
Mendengar usulan Dimas senyuman langsung mengembang di bibirnya dengan matanya yang langsung berbinar.
"Beneran mas?" tanya nya tidak percaya dan Dimas pun langsung mengangguk.
Bintang merasa sangat senang bisa menginap di sini, apa lagi abahnya yang baru sembuh dari sakit.
__ADS_1
"Tapi mas, bagaimana dengan kamu? Besok kan kamu harus kerja ke kantor?"
Dimas membalikkan badan Bintang menghadap dirinya, dengan menarik pinggangnya hingga membuat tubuh mereka saling berdempetan.
"Sayang, kamu lupa ya. Aku ini pemilih kantor itu, jadi aku bebas mau datang atau tidak. Siapa yang berani memarahi ku?"
Bintang tersenyum lalu membalas memeluk Dimas
"Aku lupa, kalau suami ku bukan karyawan melainkan pemilik. Makasih ya mas udah mau menginap di sini"
Bintang lalu memeluknya dengan erat menempelkan wajahnya di dada bidang Dimas.
Pagi harinya Pak Ahmad duduk di teras rumah sambil menikmati cahaya hangat dari mentari di pagi yang cerah ini.
Bintang di dapur sedang membuatkan susu untuk abahnya dan kopi untuk suaminya.
Karena saat ini Dimas sedang mandi, Bintang memberikan susu itu lebih dulu pada abahnya.
Begitu Bintang keluar ternyata abahnya sedang duduk berbincang dengan Arif.
"Loh, kok Bintang ada di sini?" tanya Arif yang terkejut melihat Bintang
"Iya, Bintang menginap di sini" sahut abah
"Aku ga tau kalo ada kamu di sini, jadi aku cuma bawa satu gelas ini" ujar Bintang
"Ga papa kok Bin, aku udah minum susu juga kok tadi" kata Arif dengan sedikit tertawa
Dimas yang baru keluar dari kamarnya mendengar suara laki-laki yang sedang berbicara dengan menyebut nama istrinya.
Dimas mengernyitkan dahinya dan mengintip keluar melalui celah gorden di jendela.
☀️☀️☀️☀️☀️
__ADS_1