Terpaksa Di Madu

Terpaksa Di Madu
17 Bercerita pada Tasya


__ADS_3

Sontak Tasya menjadi terkejut dan tersedak kuah ramennya.


"Uhuk... Uhuk..."


Bintang segera berdiri dari kursinya dan memberikan minuman pada Tasya, membantunya dengan menepuk punggung nya.


"Kamu ga papa Sya?"


Tasya segera minum agar tenggorokan nya merasa lebih baik.


"Baik apanya, orang hampir pingsan gini" jawab Tasya


"Kok bisa sampe keselek gini sih?"


"Kamu sih"


Tasya menyalah kan Bintang lalu kembali minum.


Bintang kembali ke kursinya dan kembali makan.


"Kok jadi nyalahin aku?" Tanya Bintang dengan polosnya.


"Eh Bin, itu bener yang kamu bilang barusan?" Tanya Tasya memastikan


Sambil menyendok mi ramennya Bintang mengangguk.


Tasya mengangkat alisnya sambil mendekatkan wajahnya di depan Bintang.


"Siapa yang ngelamar kamu?" Tanya nya dengan sedikit berbisik.


Setelah menelan mie nya Bintang melanjutkan ceritanya.


Bahwa yang datang melamar nya ke rumah adalah laki-laki yang ia temukan dompet dulu.


Tasya kembali tersedak mendengar itu, karena pertemuan saat Bintang mengembalikan dompet itu memberikan kesan buruk bagi Tasya.


Kesan buruk karena sikap dan respon dari Dimas yang menurut Tasya tidak sopan.


"Terus gimana? Kamu terima lamaran dia?" Tanya Tasya sambil membuka matanya lebar-lebar.


Dengan santai Bintang menggeleng "Belum"


"Belum? Berarti pasti di terima?" Tanya Tasya lagi


Bintang meletakkan sendoknya dan meminum jus nya.


"Aku ga tau nanti nya akan di terima apa ngak. Kita mau ta'aruf dulu"


Tasya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Habis ta'aruf trus di terima, gitu?"


"Ya gak tau juga Sya. Abah meminta ku untuk mengenalnya lebih dulu, dan selanjutnya yang lihat kedepannya aja nanti" jelas Bintang


"Eh Bin, dengerin aku. Kalo menurut aku lebih baik kamu ga usah ta'aruf an deh sama dia. Ga usah buka pintu apapun untuk dia"

__ADS_1


Saran Tasya pada Bintang


"Kenapa Sya, kamu seperti nya sangat ga suka sama dia?"


Tasya menggelengkan kepalanya karena ia tidak habis pikir, bagaimana mungkin bisa Bintang di lamar sama dia.


Tasya tidak suka dengan Dimas karesn menurut nya Dimas itu orangnya cuek, dingin dan kasar.


Tapi Bintang sendiri mengatakan kalau Dimas itu orang nya ga gitu, memurutnya ya biasa aja seperti orang pada umumnya.


"Kamu lupa saat kamu mengembalikan dompet nya dulu? Dia cuek bebek gitu. Masak bilang terima kasih aja berat banget, padahal kamu udah nemuin barang berharganya"


Tasya mencoba mengingatkan Bintang saat pertama kali mereka bertemu.


Bintang mengangguk karena ia juga masih sangat ingat bagaimana dinginnya sikap Dimas saat itu.


"Ya gimana lagi Sya, aku udah bilang iya sama abah dan juga keluarga nya dia"


"Aduh Bintang.... Kamu gimana sih! Bisa bisanya kamu setuju?"


Melihat Tasya sahabat nya itu kesal Bintang mencoba untuk menenangkannya.


"Tasya... Jadi orang jangan terlalu membenci, nanti berubah jadi cinta loh..." Goda Bintang


Bukannya tersenyum karena candaan Bintang, Tasya malah menye menye dengan memajukan bibirnya lalu pura-pura tertawa


"Hehe... Gak lucu!"


Karena tidak mempan Lia mencoba membuat ekspresi aneh dan lucu dengan wajahnya.


Akhirnya Bintang menyerah dan meminta maaf pada Tasya.


"Iya deh aku minta maaf udah bikin kamu bete gini. Padahal niat ku cerita sama kamu untuk mengurangi beban pikiran ku, tapi ternyata malah menambah masalah..." Ungkap Bintang dengan wajahnya yang lemas.


Tasya yang awalnya cuekin Bintang kini menatapnya dengan tulus lalu memegang tangan Bintang.


"Maafin aku Bin, aku ga maksud buat kamu jadi tambah terbebani. Aku, aku cuma ga suka aja sama dia. Aku ga mau kamu nikah sama dia"


Dengan tersenyum Bintang membalas genggaman tangan Tasya.


"Tasya.... Aku mau ta'aruf dengan nya bukan berarti aku mau menikah dengannya. Ta'aruf itu hanya perkenalan"


"Iya, tapi kan..."


"Sya, mereka yang bertunangan saja bisa batal nikah. Apa lagi aku yang hanya akan ta'aruf saja. Makanya aku cerita ini sama kamu karena aku mau minta kamu buat doain aku agar aku ga salah pilih langkah. Kamu sahabat ku, jika aku akan menikah selain minta restu dari abah aku juga akan minta restu dari kamu"


Mendengar apa yang Bintang katakan setidaknya bisa membuat Tasya lebih tenang.


Tasya akhirnya setuju jika Bintang Ta'aruf an sama Dimas, dan biar waktu yang menjawab semuanya.


Apakah Dimas itu benar seperti saat pertama mereka bertemu atau mungkin Dimas yang asli sifatnya terbalik dari yang mereka temui dulu.


"Kapan kalian akan mulai ber ta'aruf?" Tanya Tasya


"Aku ga tau kapan pastinya. Katanya dia akan kembali ke rumah bersama orang tuanya dengan membawa CV nya dia" jawab Bintang

__ADS_1


Meski Tasya adalah sahabat baiknya Bintang, tapi Bintang tidak pernah bercerita tentang tetangganya yang sering mengolok abah dan dirinya.


Itu Bintang lakukan karena ia tidak mau memberikan kesan jelek para tetangga nya di mata sahabatnya.


Apa lagi sahabat itu tipe orang yang tidak bisa menahan emosinya.


Selesai makan selesai pula cerita dari Bintang.


Kini mereka lanjut nonton.


Meski tubuhnya ada di sana, namun pikiran Bintang berjalan entah kemana.


Jam 1.15 siang barulah mereka keluar dari mall.


Sebelum mereka pulang Bintang mengajak Tasya untuk mampir di masjid terlebih dahulu karena Bintang akan melakukan sholat dhuhur.


Kini mereka sudah sampai di masjid, Bintang segera turun dari mobil dan pergi masuk ke dalam masjid.


Sedangkan Tasya menunggu Bintang dengan tetap di dalam mobilnya sambil memainkan hp nya.


Tasya masih saja kepikiran dengan sahabatnya itu, bagaimana jika sampai Bintang menikah dengan Dimas.


Tasya takut Dimas akan bersikap dingin pada Bintang yang hangat dan lembut itu.


Meski hanya bertemu sekali dengan Dimas, menurut Tasya sifat Dimas dan Bintang itu berbanding terbalik.


Tapi ia hanya bisa memberikan saran saja sebagai sahabat, tentang keputusan Bintang nanti itu di luar kendalinya.


Tugas seorang sahabat hanya memberikan masukan dan saling mengingatkan, dan jika keputusan sudah di ambil tugas sahabat adalah memberikan dukungan dan semangat.


Tak lama Bintang pun kembali ke mobil.


Tasya yang sedang asyik menonton langsung mematikan hp nya.


"Lama ya nunggu nya?" Tanya Bintang saat membuka pintu mobilnya


Tasya menggelengkan kepalanya dan meletakkan hp nya di saku bajunya.


"Ngak kok, habis ini kita mau kemana? Apa kamu mau langsung pulang?"


Sambil memasang safety belt nya Bintang berpikir. "Kaya nya iya deh aku mau langsung pulang aja. Kasian abah di rumah ga sendirian"


"Emangnya abag udah pulang jam segini?"


"Iya, kata abah tadi dia ga ngajar cuma mau ke pertemuan aja. Pasti abah udah ada di rumah"


"Ce elah, Bintang. Kek abah ga pernah sendiri aja. Selama kamu di pondok emangnya abah sama siapa di rumah kalo ga sendirian?"


Tanya Tasya


Bintang tertawa memperlihatkan giginya yang rapi. "Hehehe... Iya juga ya Sya. Abah kan emang udah terbiasa sendiri"


Tasya lalu menyalakan mesin mobilnya dan keluar dari area parkiran masjid.


Segera Tasya mengantar kan Bintang pulang sebelum ia sendiri pulang ke rumahnya.

__ADS_1


☀️☀️☀️☀️☀️


__ADS_2