Terpaksa Di Madu

Terpaksa Di Madu
57 Memutuskan Pindah


__ADS_3

Bintang hanya terdiam, ia terus memandangi dua manik bola mata suaminya yang kecoklatan itu, terlihat di sana bagaimana suaminya begitu mengkhawatir dirinya.


"Kamu sungguh-sungguh dengan ini, mas?"


"Iya sayang"


"Apa kamu sudah bertanya pada papa dan mama? Apakah mereka setuju jika kita pindah dari rumah ini?"


Dimas menggenggam tangan Bintang lalu menciumnya


"Dengar sayang, ini sudah menjadi keputusan ku, dan ini sudah final. Aku tidak perlu bertanya apa pendapat dari papa dan mama"


"Tapi mas...."


"Sudah sayang, tidak perlu kamu pikirkan lagi. Aku sudah menerima amanat dari abah untuk menjagamu, jika sampai abah tau apa yang terjadi pada mu kemarin, aku tidak tahu akan bagaimana reaksinya"


"Mas, aku tau mama memang salah. Aku bahkan sama seperti mu yang juga marah pada mama, tapi bukan berarti kita harus pergi meninggalkan rumah ini"


"Kenapa? Kamu masih mau nunggu mama berbuat yang lebih dari kemarin?"


"Bukan gitu mas, aku ngerti kamu marah sama mama, tapi jangan lah berlarut-larut dalam kemarahan. Bagaimana pun mama adalah surga bagi mu, aku tidak mau menjauhkan dirimu dengan surga mu, mas"


Dimas memegang pipi Bintang dan membelai bekas tamparan mama nya


"Aku tau sayang, surga ku memang ada pada mama. Tapi aku tidak akan masuk surga jika aku membiarkan istri ku tersiksa, apa lagi oleh mama. ku sendiri. Sudah cukup apa yang kamu alami selama ini, apa kamu pikir sekarang aku tidak tau? Aku sudah melihat semua perlakuan mama sama kamu di belakang ku dari rekaman cctv, dan aku tidak mau itu terjadi lagi. Keputusan ku sudah bulat, dan kamu sebagai istri harus menurut pada suami mu, oke"


Bintang akhirnya mengangguk setuju dengan senyuman di bibirnya.


Apapun yang di lakukan oleh suaminya itu semata-mata karena menginginkan kebaikan untuk nya.


Seharian mereka berdua tidak keluar dari kamar, mereka langsung mengemasi barang-barang mereka untuk pindahan besok.


Dimas sudah meminta anak buahnya untuk menyiapkan rumah barunya yaitu akan langsung di tempati besok.


Dimas saat ini sedang ada di ruang kerjanya karena harus melakukan meeting virtual dengan kliennya yang dari Australia.


Sedangkan Bintang masih sibuk dengan berkemas.


Selesai menutup resleting kopernya, hp nya berdering.


Segera Bintang mengambil hp nya di atas meja dan tersenyum saat melihat nama dari penelfon di layar hp nya.


"Assalamualaikum, Tasya..." sapa Bintang begitu wajah sahabatnya muncul di layar hp nya


"Wa'alaikum salam, Bin. Apa kabar?..."


"Alhamdulillah, aku baik. Bagaimana dengan mu?"


"Aku kurang baik"

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Bintang khawatir


"Aku kangen sama kamu, Bin...."


Mereka memang sudah lama tidak bertemu setelah wisuda kemarin.


Bintang yang sudah menikah tak lagi memiliki waktu bebas untuk keluar rumah begitu pun dengan Tasya yang sudah di sibukkan dengan dunia kerjanya.


Ia langsung memegang kendali di perusahaan papi nya.


Mereka hanya bisa mencurahkan rasa rindunya dengan menghabiskan waktu melalui telefon.


Sebenarnya Tasya menelfon bukan hanya karena merindukan Bintang, ia juga ingin memastikan bagaimana keadaannya sekarang.


Mendengar cerita dari mami nya kemarin, Tasya menjadi cemas dan khawatir.


Tapi melihat sahabatnya yang tetap ceria dengan senyumnya, Tasya akhirnya bisa sedikit lega.


"Ada apa Sya, kok kamu diem?" tanya Bintang karena Tasya hanya diam memerhatikan dirinya


"Ga papa Bin, aku ingin senyuman kamu itu tidak pernah hilang dari wajah mu. Aku berharap kamu akan selalu bahagia bersama suami mu" ujar Tasya yang membuat hati Bintang terenyuh.


"Tante Nita pasti udah cerita ya sama kamu?"


Tasya mengangguk "Sebenarnya mami ga mau cerita, tapi aku yang maksa"


"Ga papa, tapi aku mohon sama kamu, jangan sampai abah mendengar ini, ya"


Dari raut wajah Tasya sudah sangat menjelaskan bagaimana dirinya begitu mengkhawatir Bintang.


"Tasya, kami ga perlu cemas begitu. Aku di sini baik-baik aja kok" ujar Bintang


"Ya ya ya, selagi bibir mu masih bisa tersenyum kamu akan mengatakan kalau dirimu baik-baik aja. Aku sangat mengenal mu Bintang, berhentilah menjadi orang tidak enakan, katakan semuanya pada suami mu, siapa lagi yang akan melindungi mu di sana jika bukan suami mu?"


Bintang tersenyum karena sahabatnya begitu menyayangi nya


"Iya Tasya sahabat ku yang begitu baik dan perhatian. Oh ya, agar mengurangi rasa kecemasan mu aku mau beri tahu sesuatu"


"Apa??"


Bintang pun mengatakan bahwa dirinya dan suami akan pindah dari rumah ini besok.


Betapa senangnya Tasya mendengar itu, dengan begitu ia bisa tenang karena sahabatnya tidak lagi akan serumah dengan mama mertuanya yang jahat itu.


"Eh udah dulu ya Bin, aku ada meeting nih. Ga papa ya?"


"Ya ga papa dong, nanti kan kita bisa telfonan lagi. Sukses terus ya..."


"Aamiin... Bye...."

__ADS_1


Bintang dan Dimas duduk berdua di balkon kamarnya, menunggu adzan maghrib di kumandangkan dengan menikmati secangkir teh hangat sembari menikmati sunset.


"Ini adalah sunset terakhir kita di sini" ujar Dimas


"Mas..."


"Hm..." sahut Dimas sambil meminum teh nya


"Apa kamu udah kasih tahu papa sama mama tentang rencana pindahan kita?"


Dimas meletakkan cangkirnya lalu menatap wajah istrinya


"Kenapa, kamu khawatir aku akan membawa mu diam-diam? Nanti malam, aku akan memberi tau papa sama mama"


"Sebelum kita pindah, aku mau kasih tau abah dulu mas"


"Jangan sayang, kita kasih tau abah kalo kita udah ada di rumah baru kita aja" cegah Dimas


"Kenapa mas?"


"Ya setelah kita pindah nanti kita bisa langsung ajak abah ke sana, menginap pun ga papa. Sekalian kamu bisa melepas rindu"


Bintang pun merasa sangat senang mendengar itu, karena ia memang sudah sangat merindukan abahnya.


Adzan maghrib pun di kumandangkan, segera Bintang dan Dimas melaksanakan sholat maghrib lalu turun ke lantai bawah untuk makan malam.


Di meja makan, papa dan mama nya sudah ada di sana.


Saat sedang menuruni tangga, Hani menyusul di belakang mereka.


Suasana langsung berubah, bu Ririn menjadi tegang karena takut Dimas akan mengadukan perbuatannya pada suaminya.


Namun ternyata tidak, makan malam berjalan lancar karena Dimas hanya membahas masalah kantor dengan papa nya.


Karena sudah selesai makan, Hani langsung beranjak dari duduknya dan hendak pergi.


"Hani" panggil Dimas


"Ada apa kak?"


"Duduk lah, ada yang ingin aku bicarakan"


Hani melirik mamanya lalu papa nya, tidak biasanya Dimas berbicara dengan nada tegang begini hingga membuat Hani bingung.


"Aku sudah putuskan akan pindah dari rumah ini" ujar Dimas yang membuat papa, mama dan adiknya terkejut.


Tidak ada angin atau hujan tiba-tiba Dimas mengatakan itu.


Bu Ririn sangat terkejut karena putranya akan meninggalkan rumah ini hanya demi istrinya.

__ADS_1


☀️☀️☀️☀️☀️


__ADS_2