
Sendiri dengan terus memegang tangannya yang panas, Bintang pergi ke dokter.
Bintang sama sekali tidak mengeluh kesakitan meski dokter sedang mengolesi lukanya dengan salep.
"Apa ibu tidak merasakan sakit?" tanya dokter
Bintang hanya menggelengkan kepalanya.
"Baik bu, sudah selesai. Ini resep obatnya"
"Baik dok, terima kasih" ucap Bintang lalu pergi keluar untuk menebus obatnya.
Selesai mengantri obatnya, Bintang tidak langsung pulang. Ia duduk sendirian dan melamun. Tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namanya, beberapa kali orang itu memanggil namun Bintang tetap diam menunduk.
Hingga orang itu mendekat dan menepuk pundaknya barulah Bintang tersadar dari lamunannya.
"Astaghfirullahal adzim...." seru Bintang yang terkejut
"Maaf kalo aku membuat mu terkejut" ucap urang itu
"Kamu siapa?" tanya Bintang, ia tidak mengenali siapa orang yang ada di depannya saat ini karena ia memakai masker wajah
"Aku teman kamu, Arif" jawab orang
"Arif?" Bintang mencoba mengingat-ingat
Arif membuka masker wajahnya dan tersenyum pada Bintang "Sekarang kamu udah ingat?"
Bintang tersenyum dan merasa malu karena tidak bisa mengenali temannya sendiri
__ADS_1
"Arif, ya Allah ternyata kamu. Aku kira Arif siapa"
"Udah lupa ya, mentang-mentang udah nikah sama temen sendiri jadi lupa. Saking bahagianya ya"
Seketika senyum Bintang langsung hilang dari wajahnya. "Kamu kenapa ada di sini, bukannya kamu..."
"Aku kerja di sini" jawab Arif sebelum Bintang selesai dengan pertanyaan nya
"Kerja? Kamu-"
"Pagi dok..." sapa salah seorang perawat pada Arif
Arif mengangguk dan menjawab sapaan nya
"Sejak kapan kamu jadi dokter di rumah sakit ini?" tanya Bintang
"Baru, baru 7 bulan. Kamu di sini lagi apa?" tanya balik Arif
"Kamu sendirian kesini? Suami kamu mana?" tanya Arif
"Dia sudah di kantor, pekerjaannya banyak jadi ga bisa anterin aku ke sini"
"Maaf dokter ada keadaan darurat dari kamar pasien 17, dokter Arif di minta untuk segera mengecek ke sana" kata perawat
"Baik, ayo kita ke sana sekarang" Arif berdiri namun tak lupa berpamitan dulu ada Bintang
"Kita bisa kan ngobrol lagi di lain waktu?"
"Bisa pak dokter" sahut Bintang dengan mengangkat jempolnya
__ADS_1
Setelah dari rumah sakit Bintang tidak langsung pulang ke rumah, ia duduk di sebuah restoran menikmati secangkir kopi hangat.
Melihat banyak sekali pasangan mesra yang lewat di depannya membuat Bintang kembali mengingat masa-masa di mana rumah tangganya sangat damai dan harmonis, berbanding terbalik dengan keadaan saat ini.
Ia terus mengaduk kopi di depannya sambil terus berpikir apa yang harus ia lakukan kedepannya.
Bagaimana kelanjutan dari rumah tangganya yang kini sudah ada orang ketiga di dalamnya.
Sementara di tempat lain Dimas kini sedang berada di salah satu restoran bersama seorang wanita yang tak lain itu adalah selingkuhannya.
Mereka tampak sangat serius membicarakan sesuatu, wajah Dimas tampak tegang saat wanita itu memberikan sesuatu padanya.
Entah apa yang ada di dalamnya hingga membuat Dimas terdiam mematung setelah melihatnya.
"Aku tidak mau tau, ambil keputusan secepatnya. Kamu pasti sudah tau betul kan apa konsekuensinya jika sampai kamu membuat aku kecewa. Aku tidak bisa memberikan waktu lama. 2 hari lagi aku mau tau keputusan mu" ucap wanita itu
"Kamu gila, ya?" bentak Dimas dan membuat semua mata tertuju padanya
"Ga perlu marah begitu sayang, lihat semua orang memandangi mu"
Dimas mendengus kesal dan menatap tajam "Kamu pikir mudah bagiku bicarakan hal ini dengan istriku?"
"Apanya yang sulit, Dimas. Bukankah istri mu sudah tau tentang hubungan kita?"
"Astaga... Apa kamu benar benar tidak bisa mengerti? Dimana perasaan mu sebagai seorang wanita?!"
"Tak perlu tanyakan hal itu Dimas, yang kamu lakukan terhadap istrimu sama sekali tidak menunjukkan bahwa kamu punya perasaan. Aku tidak mau tau, besok lusa kamu harus menemui ku dan mengatakan apa keputusan mu"
Wanita itu kemudian pergi begitu saja, sementara Dimas masih duduk dengan wajah kesalnya.
__ADS_1
☀️☀️☀️☀️☀️