Terpaksa Di Madu

Terpaksa Di Madu
31 Hari Pernikahan


__ADS_3

Hani yang sampai saat ini masih belum juga bisa menerima Bintang untuk menjadi iparnya, ia hanya bisa diam.


Mau bagaimana pun pendapat nya sudah tak lagi bisa merubah keputusan kakaknya.


Hani yang sudah cantik dengan riasan dan kebaya pink yang ia gunakan keluar dari kamarnya dengan tas kecil yang menggantung di lengannya.


Dimas tersenyum melihat Hani dan menghampiri nya "Cantik banget adik ku ini" puji Dimas dengan tatapannya yang manis


"Baru sadar?" Ujar Hani


"Habisnya udah beberapa hari ini aku udah jarang lihat kamu tersenyum, kenapa?"


Hani memutar bola matanya lalu mengeluarkan nafasnya dengan kasar "Aku rasa kakak tau alasannya"


Dimas tersenyum lalu merangkulnya "Iya kakak tau. Tapi kakak pastikan, nanti kalo kamu udah kenal dan tau bagaimana Bintang nanti kamu pasti akan sangat menyayangi nya. Percayalah..."


"Kita lihat aja nanti" ucap Hani dengan wajah datarnya


"Udah, jangan gitu. Mana senyum nya?"


Hani menarik kedua ujung bibirnya dan dengan matanya yang melirik Dimas.


"Ayo Dimas, Hani, cepetan. Kita harus segera berangkat" panggil pak Hendra dari luar


Mereka pun berjalan bersama dengan tangan Dimas yang masih tetap merangkulnya.


*****


Di rumah Bintang saat ini sudah ramai tamu yang datang.


Bintang saat ini sudah cantik dengan balutan gaun pengantin berwarna putih khas Malaysia.


Baju itu adalah milik uminya dulu saat menikah dengan dengan abahnya.

__ADS_1


Umi nya memang asli keturunan Malaysia, namun setelah menikah beliau memilih untuk menetap di Indonesia bersama suaminya.


Gaun yang putih senada dengan hijabnya, di atas kepalanya berhiaskan mahkota dengan ukuran yang tidak terlalu besar.


Hena maroon menghiasi kulit tangannya berikut dengan kukunya.


Perasaan dag dig dug mulai membuatnya tidak nyaman karena terlalu grogi.


Tasya yang menemaninya di dalam kamar menggenggam tangan Bintang dan mencoba menenangkannya.


"Tenang Bin... Ga usah gugup gitu. Semuanya akan berjalan dengan lancar... Sekarang, kamu tarik nafas dari hidung dan keluarkan secara perlahan dari mulut" Ujar Tasya


Bintang menatap kedua bola mata sahabatnya itu dan mencoba sarannya untuk lebih tenang.


Perlahan Bintang mengeluarkan nafasnya dan bisa merasa sedikit lebih tenang.


Meski masih terasa sedikit gugup, Bintang mencoba kembali tersenyum.


"Makasih ya, udah tenangin aku" ujar Bintang


Bintang tertunduk malu karena pujian itu.


Toktoktok...


Suara dari ketukan dari pintu membuat keduanya serentak menoleh.


Pak Ahmad dengan pakaian putihnya berdiri di ambang pintu dan tersenyum pada mereka.


"Abah..." Panggil Bintang dan langsung berdiri


Pak Ahmad melangkahkan masuk dan menghampiri Bintang.


Meski tanpa berkata pun terlihat jelas dari tatapam matanya bahwa pak Ahmad sangat bahagia.

__ADS_1


Dengan memegang kedua pundak putrinya pak Ahmad mencium keningnya dengan lembut.


"Masya Allah nak, kamu terlihat sangat cantik. Persis seperti almarhumah umi kamu"


Bintang menjadi terharu dan matanya mulai berair.


Pak Ahmad menggelengkan kepalanya meminta putri nya untuk tidak menangis.


"Jangan ada air mata di hari ini nak. Hari ini adalah hari bahagia untuk mu, tetaplah tersenyum"


Bintang mengangguk lalu memeluk abahnya.


Tasya yang ada di sana menjadi terharu dan hampir menitikkan air matanya.


Kini rombongan dari keluarga mempelai pria sudah tiba.


Pak Ahmad keluar dari kamar Bintang dan menyambut calon menantu dan besannya di depan pintu.


Saat Dimas turun dari mobil putih yang berhiaskan bunga itu seketika menyita perhatian semua mata.


Dimas yang tinggi dan tegap tampak sangat tampan dengan setelan jas berwarna putih yang senada dengan gaun Bintang.


Dimas berjalan mendekat dengan papa dan mamanya yang mendampingi di sisinya.


Hani berdiri di samping papa nya dan berjalan beriringan.


Setelah bersalaman dengan Dimas dan kedua besannya, pak Ahmad mempersilahkan mereka masuk.


Dimas langsung duduk di kursi pemgantin dan pak Hendra di sampingnya, sedangkan bu Ririn duduk bersama Hani di kursi paling depan yang sudah di sediakan.


Sejak turun dari mobil hingga masuk ke dalam, Hani menyoroti semua sudut.


Menurut Hani, ini terlalu sederhana bahkan sangat jauh lebih sederhana dari yang ia bayangkan.

__ADS_1


☀️☀️☀️☀️☀️


__ADS_2