
Abah lalu meletakkan helm di tangannya menerima jabatan tangan dari ketiga tamu nya.
Bintang sedikit mundur dan berdiri di belakang abahnya.
"Ada yang ingin kami bicarakan dengan bapak" ucap ustadz Hafid
"Mari masuk dulu, mari..."
Pak Ahmad mempersilahkan tamu-tamu nya untuk masuk ke rumah.
Bintang masuk lebih dulu ke rumah meletakkan tasnya di kamarnya lalu pergi ke dapur untuk membuatkan minum.
Pak Ahmad dan ketiga tamunya duduk di ruang tamu.
"Silahkan duduk..."
Pak Hendra melihat sekeliling ruangan di dalam rumah pak Ahmad.
Rumah yang tidak terlalu besar namun rapi dan bersih.
Sedang mata Dimas sejak datang dan masuk ke rumah ini sedari tadi tak henti menatap foto Bintang yang terpajang di atas meja. Nampak sangat cantik dengan balutan hijab berwarna merah maroon.
"Maaf jika kedatangan kami mengganggu bapak dan putri bapak" ucap ustadz Hafid memulai pembicaraan
Dengan ramah pak Ahmad menjawabnya dengan penuh senyum
"Tidak, kehadiran kalian sama sekali tidak menggangu kami"
Baru saja ustadz Hafid ingin bicara, Bintang keluar dari dapur dengan membawa nampan yang berisi gelas di atasnya.
Semua mata tertuju padanya, terutama Dimas.
Dimas bahkan tidak mengedipkan matanya sama sekali saking terpesonanya pada Bintang.
Pak Hendra menepuk kecil tangan Dimas agar bisa menjaga sikapnya.
Seketika Dimas langsung menundukkan kepalanya namun bola matanya tetap ingin memandangi Bintang.
Bintang beridiri di samping kursi abahnya lalu mengulurkan tangannya dan memberikan nampannya.
Pak Ahmad mengambil nampan itu lalu meletakkan semua gelasnya di atas meja.
Dan Bintang langsung pergi ke kamarnya.
__ADS_1
"Silahkan di minum teh nya..." Ucap pak Ahmad mempersilahkan ketiga tamu nya.
Bintang duduk di kursi belajar nya dan mengambil buku untuk ia baca.
"Sambil nunggu abah, mending aku baca buku dulu deh" ucap Bintang saat membuka bukunya.
Di ruang tamu ustadz Hafid dan pak Hendra memulai pembicaraan.
Mereka mulai menjelaskan maksud dan tujuan mereka datang kemari.
"Kami datang kemari bermaksud untuk mengikuti sunnah Rasulullah, untuk menyatukan 2 insan demi memperbanyak umatnya"
Pak Ahmad terdiam, di pikirannya langsung terlintas tentang pernikahan.
"Ee.. maksud ustadz bagaimana ya?" Tanya pak Ahmad dengan ramah
"Begini pak, putra saya mempunyai niatan untuk melamar putri bapak" jawab pak Hendra dengan singkat namun sangat jelas.
Pak Ahmad cukup terkejut, lagi lagi ia kedatangan tamu yang mau melamar putrinya.
Pak Ahmad diam tidak langsung menjawab, ia menunduk dan mengatur nafasnya.
Ustadz Hafid dan pak Hendra mengenalkan Dimas, mulai dari umur, pekerjaan hingga kebiasaan Dimas.
Pak Ahmad mendengar kan dengan seksama, namun tanpa memberi jawaban.
"Begini pak Hendra, Bintang memang anak saya tapi saya tidak bisa asal mengambil keputusan tentang hidup dan masa depannya tanpa bertanya lebih dulu padanya. Saya harus menanyakan hal ini dulu pada anak saya" ucap pak Ahmad
Pak Hendra dan ustadz Hafid saling tatap, kemudian melihat wajah Dimas yang terlihat sangat pasrah.
"Lagi pula masih terlalu dini untuk anak saya menikah. Bintang masih kuliah, dia juga masih ingin mengejar cita-cita nya sebelum menikah" sambung pak Ahmad
"Saya melamar Bintang hari ini bukan berarti akan menikahi nya dalam waktu dekat ini. Saya hanya ingin mengikat nya agar saya tidak di dahului oleh orang lain" ujar Dimas
Pak Hendra dan ustadz Hafid terkejut karena Dimas buka suara, karena sejak tadi ia hanya diam mendengarkan tanpa sepatah kata pun.
"Dan kalaupun nanti jika Allah menghendaki kami berjodoh dan menikah, saya tidak akan melarang Bintang untuk terus mengejar apa yang menjadi impiannya saat ini. Saya akan terus memberikan dukungan baik moral maupun moril" sambung Dimas.
Pak Ahmad mendengar itu mengangguk sambil tersenyum.
"Saya suka prinsip mu nak. Tapi saya tetap harus berdiskusi dengan Bintang. Apa lagi kalian belum mengenal satu sama lain, terlalu buru-buru jika ini langsung menjadi hubungan serius"
"Saya juga tidak buru-buru pak, seperti yang saya katakan barusan saya hanya ingin mengikat Bintang agar tak ada lagi yang melamarnya setelah ini. Tidak masalah jika saya harus menunggu Bintang untuk siap"
__ADS_1
Dimas selalu menjawab dengan santai namun mantap dengan apa yang ia katakan.
Ia sanggup menunggu Bintang hingga lulus kuliah, ia melamar sekarang karena tidak ingin kalah cepat dengan orang lain.
Dimas juga mengatakan bahwa dirinya pernah tidak sengaja bertemu dengan Bintang, dan dari pertemuan itulah ia langsung jatuh hati dan ingin langsung melamarnya untuk menjadi istrinya.
Pak Ahmad bingung untuk menjawab apa.
Karena sedari tadi Dimas dan orang tuanya seperti terkesan tidak mau kalau lamarannya ini di tolak.
Akhirnya ustadz Hafid memberi saran
"Bagaimana jika Dimas dan Bintang menjalani ta'aruf saja. Mereka bisa saling mengenal satu sama lain, tapi tetap terjaga dari zina"
"Baiklah, saya setuju dengan itu. Saya memasrahkan hal ini pada putri saya agar ia nanti bisa menjalani hidup dari pernikahannya dengan tenang, bukan dengan keterpaksaan."
Pak Ahmad setuju dengaj proses ta'aruf, tapi itu kembali lagi oada Bintang.
Apakah Bintang mau menjalani proses ta'aruf dengan Dimas atau tidak.
Dimas dengan siap tidak siap nya mau mendengar bagaimana keputusan Bintang.
Meski jauh di dalam hatinya ia sangat berharap bahwa Bintang mau menerimanya.
Pak Ahmad lalu beranjak dari duduk nya dan pergi ke kamar Bintang.
Di sana Bintang sudah ketiduran karena terlalu lama menunggu tamu nya yang tak kunjung pulang.
Abah masuk ke kamar Bintang dan duduk di sampingnya.
Pak Ahmad menepuk pundak Bintang beberapa kali dengan pelan
"Nak, Bintang... Bangun nak. Ada yang abah mau bicarakan. Bin..."
Bintang mengucek dan berusaha membuka matanya "Ada apa abah, tamu nya udah pulang?" Tanya nya dengan polos
"Ada yang mau abah bicarakan sama kamu, duduk lah..." Ucap abah sambil menepuk kasur di sisinya agar Bintang duduk di sana.
Setelah Bintang duduk di sisinya, pak Ahmad menggenggam tangan nya.
Terlihat tatapan dari sorot matanya yang serius, tidak seperti biasanya.
Bintang merasa aneh, takut dan bingung ada apa.
__ADS_1
"Abah kenapa melihat Bintang begitu? Kelihatan nya abah sangt serius. Apa yang mau abah bicarakan?"
☀️☀️☀️☀️☀️