Terpaksa Di Madu

Terpaksa Di Madu
11 Datang ke Rumah Bintang


__ADS_3

"Mama kenapa jadi semarah ini sih, bukannya kan mama sudau tau" ujar Dimas


"Kenapa jadi buru-buru gini sih. Mama ga setuju!" Tegas bu Ririn


"Mama, kenapa ngak ma. Apa yang membuat mama untuk tidak setuju aku melamar Bintang?"


"Pokok nya mama ga setuju!"


"Bagaimana pun keputusan mama, aku akan tetap melamar Bintang hari ini"


Ucap Dimas lalu beranjak dari kursinya.


Dimas meninggalkan sarapannya yang belum selesai dan pergi ke kamarnya


"Dimas, mau kemana kamu! Dimas, mama ga setuju"


Dimas tak menghiraukan panggilan mamanya, ia malah mempercepat langkahnya menaiki anak tangga.


"Mama, sudah. Cukup"


"Papa, papa itu seharusnya kasih tau Dimas. Bukannya malah mengiyakan begini!"


"Mama, mama yang tenang dong"


Bu Ririn kini menjadi tidak nafsu makan, ia meletakkan sendok dan garpunya di atas piring.


"Ma, papa setuju dengan keputusan Dimas karena papa sudah menyelidiki gadis itu sendiri.


Dia wanita yang baik juga cerdas, dia juga punya banyak prestasi" jelas pak Hendra


Bu Ririn tetap diam dengan wajahnya yang sangat masam.


"Hai ma, hai pa...." Sapa Hani yang baru pulang dari joging nya


Hani langsung duduk bergabung di meja makan, melihat wajah mama nya yang masam ia jadi bingung.


"Mama, mama kenapa?"


"Tanya tuh sama papa kamu" jawab bu Ririn jutek


"Ada apa sih pa, kenapa mama jadi jutek gitu"


"Mama kamu ga setuju kalo kakak kamu akan menikah"


"Bukan tidak setuju Dimas mau menikah, tapi mama ga setuju sama gadis pilihan Dimas" saut bu Ririn


"Siapa, gadis yang kemarin kakak kasih lihat itu pa?"


Pak Hendra mengangguk


"Kakak jadi melamar dia? Yang bener?"


"Tuh kan pa, Hani juga ga setuju. Papa nasehatin tuh Dimas biar dia mau mencari gadis yang lain"


"Mama, coba mama kasih tau sama papa. Hal apa yang membuat mama tidak setuju dengan gadis itu?"


"Ya pokok nya mama ga setuju pa. Mama mau carikan gadis yang lain buat jadi membantu mama. Tanya Hani, pasti dia ga setuju juga kan? Iya kan Han..."


Hani yang sedang mengoleskan selai di rotinya langsung terdiam.

__ADS_1


"Aku bukannya ga setuju ma, tapi ya kek kurang pas gitu kalo kakak bersanding dengan gadis kek Bintang itu"


"Kenapa?" Tanya pak Hendra


"Ya, dia kan pake hijab. Kemana-mana selalu pake gamis, kek ibu ibu tau pa. Ga modis"


"Oke, itu alasan kamu kurang setuju. Lalu apa alasan mama"


"Ga tau ah pa, mama pusing"


"Jika alasan mama tidak jelas untuk tidak menyetujui keputusan Dimas begini, papa akan tetap mendampingi Dimas untuk melamar gadis itu" ujar pak Hendra


"Kapan?" Tanya Hani


"Hari ini, kakak kamu mau melamarnya hari ini"


Hani langsung tersedak susunya karena terkejut mendengar nya.


"Uhuk...uhuk... Papa ga salah ngomong kan?"


"Reaksi mu sama persis seperti mama mu. Ya sudah, papa mau siap-siap dulu"


Hani bengong karena mendengar keputusan mendadak ini di tambah lagi dengan ekspresi wajah mama nya yang sama sekali tidak enak di pandang mata.


Bu Ririn pun beranjak dari kursinya dan meninggalkan Hani yang masih belum selesai memakan rotinya.


"Ini beneran kakak mau melamar gadis itu? Gimana jadinya nanti kalo aku beneran punya ipar norak? Ya ampun... Ini benar-benar seperti mimpi di siang bolong " Gerutu Hani sambil menyantap rotinya


*****


Di rumah Bintang


Bintang yang sedari tadi sibuk memasak di dapur membuat bau dari masakannya menyebar ke seluruh ruangan.


"Masya Allah... Saking sedapnya nih bau sampai sangat menusuk ke hidung" batin pak Ahmad


Pak Ahmad pergi ke dapur dan melihat putri nya yang sudah sangat akrab dengan panci dan teman-teman nya.


"Abah, abah ngapain di sini?"


"Abah cuma mau lihat keadaan kamu"


"Kenapa, Bintang ga papa kok"


"Alhamdulillah kalo kamu ga papa, ini soalnya papa yang duduk di teras depan aja di buat batuk dan bersin, eh kamunya malah ga papa di sini"


"Hehehe... Maaf abah, pasti baunya sangat menyengat di hidung ya?"


"Sangat menyengat, tapi kalo lihat tampilannya kayaknya enak tuh"


"Ya pasti enak lah, kan resep nya dari abah. Kalo ga enak berarti Abah yang kasih resepnya salah"


"Hahah...bisa aja kamu. Nasinya udah mateng belum?"


"Bintang belum cek bah, mungkin sudah mateng"


Pak Ahmad melihat penanak nasi nya dan ternyata sudah matang.


Pak Ahmad lalu membantu Bintang untuk menyiapkan nasi di atas meja dan menuangkan air di gelas.

__ADS_1


Bintang yang sudah dengan masakannya membawanya ke meja makan.


Baunya yang enak membuat nafsu makan langsung meningkat.


Mereka pun sarapan bersama di mulai dengan doa bismillah.


"Abah hari ini ada kegiatan?" Tanya Bintang


"Ga ada, ada apa nak?"


"Kita jalan-jalan yuk bah, udah lama kita ga jalan-jalan bareng"


"Emangnya kamu mau kemana?"


"Ya kemana aja, Bintang mau menyegarkan pikiran"


"Gaya mu udah kayak ceo perusahaan besar aja. Ya udah habis ini kita jalan-jalan, sekalian abah mau berkunjung ke rumah temen abah"


"Yeay... Akhirnya..."


Bintang begitu senang karena memang sudah lama ia tidak menghabiskan waktu di luar bersama abahnya.


Selesai sarapan Bintang langsung mencuci piring nya dan membereskan meja makan.


Barus setelah itu ia langsung mandi dan bersiap-siap.


Setelah beberapa saat kini abah dan Bintang sudah siap untuk pergi.


Bintang nampak sangat cantik dengan gamis hitamnya yang di padukan dengan outer berwarna coklat dan tas selempang kecil melingkar di bahunya.


Baru saja mereka keluar dari pintu mobil mewah berwarna putih datang dan berparkir di halaman mereka.


Abah melirik Bintang karena abah pikir itu adalah teman Bintang.


"Itu siapa, teman kamu?"


Bintang menggelengkan kepalanya


"Bukan, Bintang pikir itu mobil temen abah. Terus mobil siapa itu bah?"


3 orang keluar dari mobil mewah itu.


Dan salah satu dari mereka wajahnya tampak tidak asing di mata Bintang.


"Assalamualaikum..." Ucap mereka


Bintang dan abah menjawab salam mereka dengan bersamaan.


"Wa'alaikum salam..."


"Apa benar ini rumah pak Ahmad Syarif?"


"Iya, benar. Saya sendiri. Ada apa ya?"


"Bukannya dia laki-laki yang aku temukan dompetnya beberapa waktu lalu?" batin Bintang


"Kenalin, saya Hendra Pratama. Ini putra saya Dimas Danuarta dan ini ustadz Hafid"


Abah lalu meletakkan helm di tangannya menerima jabatan tangan dari ketiga tamu nya.

__ADS_1


Bintang sedikit mundur dan berdiri di belakang abahnya.


☀️☀️☀️☀️☀️


__ADS_2