Terpaksa Di Madu

Terpaksa Di Madu
30 Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Saat sedang memasak di dapur, bu Intan kembali teringat dengan putranya, Arif.


Perasaan kini tidak tenang dan mulai cemas.


Bu Intan menghampiri suaminya dan memintanya untuk menelfon Arif lagi.


Sebenarnya pak Antok juga merasakan hal yang sama dengan istrinya, baru beberapa hari yang lalu Arif dengan sangat bersemangat ingin melemar Bintang dan semalam Arif sudah berubah pikiran.


Pak Antok lalu mengambil hp nya dan memcoba menghubungi Arif.


Bu Intan menunggu di samping suaminya karena juga ingin mendengar kan apa alasan dari putranya itu.


"Sudah tersambung pa?" Tanya bu Intan


"Sudah ma, tapi belum di angkat sama Arif"


Beberapa saat menunggu panggilannya tetap tidak ada jawaban dari Arif.


"Sini pa, biar mama aja yang coba telfon Arif" pinta bu Intan


Pak Antok menyerahkan hp nya pada istri nya, segera bu Intan kembali menelfon.


"Halo nak... " Sapa bu Intan saat telfonnya tersambung


"Halo ma, maaf barusan telfonnya ga terjawab soalnya aku lagi buat teh di dapur. Mama sama papa baik-baik aja kan?" Tanya Arif dari seberang telfon


"Ya, mama sama papa baik-baik aja"


"Ada apa ma?"

__ADS_1


Pak Antok meminta kembali hp nya dan ingin berbicara dengan Arif.


"Kamu kenapa Arif, kenapa kamu berubah pikiran secepat ini?" Tanya pak Antok dari telfon


Arif menunduk sambil memainkan sendok di gelas teh nya.


"Sudah terlambat pa" jawabnya


"Terlambat? Apa maksud mu nak?"


"Bintang sudah menerima lamaran dari orang lain" ujar Arif


Pak Antok terkejut dan tidak bisa berkata, bu Intan mengambil alih hp dari tangan suaminya dan berbicara sendiri pada putra nya


"Bagaimana bisa nak itu terjadi hanya dalam waktu beberapa hari saja?"


"Bukan beberapa hari ma. Sebenernya orang itu sudah beberapa waktu yang lalu melamar Bintang dan sudah melakukan taaruf. Ini salah ku, aku terlambat mengetahui ini. Maafin aku ma, pa..."


Jika orang tua Arif saja merasa sesak di dada mereka saat mendengar kabar ini, apa lagi dengan Arif.


Arif mengetahui hal itu dari bapak bapak saat ia pulang bersama mereka dari masjid.


Ternyata semua warga sudah mengetahui itu dan ialah orang terakhir yang tau.


"Kamu baik-baik aja kan, Arif?"


"Iya ma, aku baik-baik aja kok di sini. Mama sama papa ga perlu khawatir"


"Bagaimana kami tidak khawatir nak, mama tau kamu pasti merasa sakit dengan kebenaran dari kabar ini. Jika kamu mau pulang, pulang lah nak..." Ujar bu Intan

__ADS_1


"Ngak ma, Arif akan tetap di sini sampe tugas ini selesai. Mama sama papa tenang aja ya, aku ga papa kok. Oh ya ma, udah dulu ya aku harus segera siap-siap"


"Baiklah nak, tapi ingat ya selalu kabari kami"


"Iya ma"


Telfon pun berakhir.


Pak Antok dan bu Intan hanya bisa mendoakan putra mereka agar di sana Arif bisa tetap kuat.


*****


Kini Bintang sudah menyelesaikan sidang skripsi nya dan hanya menunggu untuk wisuda.


Kabar bahagia ini tak lupa pak Ahmad sampaikan pada Dimas.


Karen sudah tidak ada lagi alasan untuk menunda, pak Hendra ingin mempercepat pernikahan Dimas.


Tanggal pernikahan yang sebelumnya sudah di tentukan kini akan di majukan.


Hal ini pak Hendra lakukan dengan alasan agar menghindari hal hal yang tidak di inginkan, karena mengingat cobaan saat hendak menikah itu sangatlah banyak.


Pernikahan akan di laksanakan di rumah Bintang.


Tidak ada pesta di sana, yang ada hanya acara pernikahan yang sederhana.


Hari ini hari pernikahan akan berlangsung.


Karena akad akan di langsung kan jam 10, sejak pagi di rumah Dimas sudah sibuk dengan semua persiapannya.

__ADS_1


☀️☀️☀️☀️☀️


__ADS_2