Terpaksa Di Madu

Terpaksa Di Madu
34 Menangis


__ADS_3

Kini saat nya mereka berfoto bersama.


Semua wajah nampak sangat bahagia terutama kedua mempelai.


Setelah berfoto bersama, Tasya mengeluarkan kotak itu dari dalam tasnya dan memberikannya pada Bintang.


"Ini dari koko, buat kamu" ucapnya sambil menyodorkan nya pada Bintang


"Dari kak Justin? Kenapa dia ga kasih sendiri sama aku?"


Tasya menggeleng "Koko minta maaf karena ga bisa dateng, katanya ada urusan mendadak. Jadi dia hanya nitipin ini buat kamu"


"Ya udah ga papa, bilangin sama kak Justin makasih"


"Ita, nanti aku bilangin sama dia"


Selesai acara semua tamu pun sudah pulang, juga dengan papi dan maminya Tasya.


"Mami sama papi pulang duluan ya, aku masih mau di sini" ucap Tasya pada orang tuanya


"Ya udah, tapi jangan lama-lama ya cepet pulang"


Tasya mengangguk "Iya ma, Tasya bakal cepet pulang kok"


Setelah papi dan maminya pulang Tasya kembali masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Di sana hanya ada kelurga Dimas yang menunggu Bintang.


Rencanya hari ini juga Bintang akan langsung di bawa pulang ke rumah Dimas.


Tasya hendak masuk ke kamar Bintang namun langkah kakinya terhenti di depan pintu.


Pintu kamar Bintang yang sedikit terbuka membuat Tasya bisa melihat ke dalam.


Di dalam kamar itu Bintang memeluk pak Ahmad dengan erat sambil menangis sesenggukan.


Begitu pun pak Ahmad yang tampak menangis karena tak kuasa lagi menahan air matanya.


Tasya menutup kembali pintunya dan memilih untuk menunggu di luar saja.


Di sisi lain memang sudah kewajibannya untuk mengikuti kemana pun suaminya pergi, namun di sisi lain ia tidak mau jauh dari abahnya.


Pak Ahmad menghapus air mata nya sendiri sebelum beliau menghapus air mata di pipi putrinya itu.


Dengan senyum yang tersimpul di bibirnya pak Ahmad meminta putri nya untuk berhenti menangis.


"Sudah nak, berhenti menangis. Jangan sampai suami dan mertua mu berpikir kalau kamu terpaksa, tersenyum lah nak"


Dengan memegang tangan abahnya berulang kali Bintang mencium telapak dan punggung tangan abahnya "Bintang ga bisa ninggalin abah sendiri di sini"


"Shuut.... Kamu pergi dari rumah ini bukan karena kamu ninggalin abah, tapi karena kamu sedang melakukan kewajiban kamu dengan gelar baru mu sebagai seorang istri"

__ADS_1


"Tapi..."


"Nak, bukankah kamu sudah tau. Seorang wanita yang berbakti pada suaminya sama dengan memberikan kunci surga pada orang tuanya. Sekarang tugas abah sudah selesai, berbaktilah pada suami mu juga kedua orang tuanya. Sayangi mereka seperti kamu menyayangi abah.


Jaga kehormatan keluarga mu, patuhi semua perintah suami mu selama itu masih berada di jalan yang benar"


Semakin panjang pesan yang abahnya katakan semakin deras pula air matanya mengalir.


"Sudah nak sudah, kamu bisa sering-sering main ke sini. Sudah lah, jangan nangis lagi. Ayo kita keluar, semuanya pasti sudah menunggu"


Bintang menghapus sisa air mata di wajahnya dan ikut melangkah keluar bersama dengan abahnya.


Tangan kanan pak Ahmad merangkul putrinya dan di tangan kirinya ia menarik koper yang berisi pakaian Bintang.


Tasya yang sedari tadi menunggu di depan pintu langsung membantu pak Ahmad untuk membawakan kopernya ke depan.


Di sana Dimas dan keluarga nya langsung berdiri saat Bintang datang.


"Maaf sudah membuat kalian menunggu" ucap pak Ahmad


"Tidak masalah, kami mengerti. Menantu kami pasti merengek tidak mau berpisah dengan pak Ahmad bukan" saut bu Ririn


Pak Ahmad tersenyum lalu memandangi wajah putri nya.


☀️☀️☀️☀️☀️

__ADS_1


__ADS_2