
Beberapa hari setelah pertemuan itu hari ini pak Ahmad mendapat telfon dari Dimas.
Setelah beberapa menit telfonan pak Ahmad menutup telfonnya dan pergi ke kamar Bintang.
Pak Ahmad kemudian menghampiri Bintang yang saat ini sedang di halaman sedang membersihkan bunga hiasnya.
"Masih lama nak?" Tanya pak Ahmad yang berdiri di belakang Bintang
Bintang menoleh dengan mendongakkan kepalanya "Sudah abah, ini Bintang tinggal nyiram aja"
Bintang beridiri lalu memindahkan pot bunganya ke tempat semula.
Hijab instan yang ia gunakan kini sudah kotor karena tanah, abah menepuk nepuk membantu Bintang membersihkan hijab nya.
"Kamu mandi sana, biar abah yang siram bunga nya"
"Ga usah abah, biar Bintang aja"
"Ga papa, kamu cepat mandi sana lalu cepat siap-siap"
"Siap siap? Emangnya kita mau kemana abah?" Tanya Bintang penasaran
Pak Ahmad mengambil selang airnya lalu menyalakan kran nya
"Bukan abah, tapi kamu"
Bintang bingung karena tidak mengerti, ia hari ini tidak ada rencana keluar kemana pun.
"Tapi hari ini Bintang tidak mau kemana mana abah, Bintang mau kelarin skripsi"
"Dimas sebentar lagi mau ke sini katanya mau ngajak kamu keluar" ujar pak Ahmad sambil menyiram bunga
Deg...
Lagi lagi jantungnya berdetak dengan sangat kencang, hanya mendengar namanya saja Bintang sudah grogi apa lagi nanti kalo sudah ketemu.
"Abah, abah ijinin Bintang jalan sama yang bukan muhrim?"
Pak Ahmad tersenyum lalu melihat wajah putri nya yang kini seperti nya sedang gelisah
"Mana mungkin nak. Ajak teman kamu, kalo temen kamu ngak bisa, biar Dimas mengajak adiknya"
Bintang memilih mengajak temannya saja, Tasya dari pada Dimas membawa adiknya.
Bukannya karena apa, Bintang merasa kaku karena masih belum terlalu kenal dengan Hani.
Bintang pun masuk ke rumah dan membersihkan tangannya. Sebelum mandi Bintang menelfon Tasya lebih dulu.
Awalnya Tasya akan ikut pergi bersama Justin ke restoran nya, tapi karena ajakan Bintang Tasya membatalkan jalannya bersama kakaknya.
Benar saja saat Bintang masih bersiap dengan hijabnya suara mobil Dimas sudah terdengar di telinga.
Bintang langsung mengambil hp nya dan menelepon Tasya.
"Halo Bin, kenapa lagi?" Tanya Tasya dari seberang telfonnya
"Kamu di mana Sya, kamu jadi ikut aku kan?" Tanya Bintang dengan suaranya yang mulai panik
__ADS_1
"Iya iya, ini lagi di jalan. Suara kamu kok jadi panik gini sih?"
Bintang langsung mengatur nafasnya agar tidak lagi terdengar panik oleh Tasya
"Aku? Aku ga panik kok, biasa aja. Aku cuma mau mastiin kamu jadi apa ngak" terpaksa Bintang beralibi
"Kalo aku ga jadi ikut, gimana?"
"Kalo kamu ga jadi, ya aku juga ga jadi lah. Mana mungkin aku jalan berduaan"
"Oh ya?"
"Ya udah kalo kamu lagi nyetir, hati-hati. Aku tunggu ya. Assalamualaikum..."
"Oke, wa'alaikum salam..."
Dimas yang baru turun dari mobilnya langsung menghampiri pak Ahmad yang ada di teras rumah, memberikan salam lalu menyalami tangannya "Assalamualaikum abah..."
"Wa'alaikum salam nak, mari duduk"
"Bagaimana kabar abah?"
"Alhamdulillah abah sehat. Bagaimana dengan kabar kamu dan keluarga mu?"
"Alhamdulillah sehat semua bah"
Mereka duduk di luar sementara Bintang masih ada di dalam dan sedang bersiap.
Tak lama mobil Tasya pun datang dengan membawa mobil sendiri.
Tasya memarkirkan mobil nya di sebelah mobil Dimas.
Tasya lalu turun dari mobilnya dan langsung memberi salam pada pak Ahmad dengan senyuman.
Sementara itu tatapannya pada Dimas seperti guru BK yang hendak mengintrogasi siswa.
"Assalamualaikum abah... Bintang dimana bah?"
"Wa'alaikum salam, Bintang masih di kamarnya. Masuk aja Sya"
Tasya mengangguk lalu melangkahkan kakinya menuju kamar Bintang.
Rupanya Bintang sudah siap dengan tas kecil yang sudah melingkar di bahu kanannya.
"Katanya abah kamu masih belum siap?" Tanya Tasya setelah membuka pintu kamar Bintang
"Aku sebenarnya sudah selesai dari tadi, tapi aku nungguin kamu"
"Kenapa, malu?"
Bintang mengagguk
"Kalo malu ya ga usah jalan lah, gitu kok repot" ujar Tasya
"Aku harus tetap jalan Sya, jika tidak bagaimana aku bisa lebih mengenalnya"
Tasya menyipitkan matanya seolah sedang menyelidiki "Kamu udah mulai menaruh hati ya sama dia?"
__ADS_1
"Bukan gitu Sya, tujuan dari ta'aruf itu kan saling mengenal dan mengetahui sifat dari masing-masing. Bukan karena aku mau di ajak jalan bisa di simpulkan aku sudah jatuh hati sama dia"
"Beneran?..."
"Ih kamu mah. Udah ah ayo keluar, ga enak udah buat dia nunggu lama"
Bintang menarik tangan Tasya mengajak keluar.
Begitu keluar ke teras Dimas yang sedang berbicara dengan pak Ahmad tiba-tiba tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
Mulutnya tiba-tiba terdiam dengan mata yang hanya fokus memandang Bintang.
Pak Ahmad lalu menoleh ke belakang dan ternyata Bintang berdiri di sana.
"Sudah siap nak?" Tanya pak Ahmad
Bintang mengangguk dengan pandangan nya yang terus menunduk.
"Baiklah, kalian pergi lah. Jangan malem-malem ya pulangnya"
"Iya bah" jawab Dimas lalu beranjak dari kursinya
Dimas kembali menyalami tangan pak Ahmad sebelum pergi.
"Hati hati ya nak"
"Iya abah. Bintang pergi dulu. Assalamualaikum..."
"Wa'alaikum salam..." Jawab pak Ahmad
Mereka bertiga pun pergi dengan menggunakan mobil Dimas.
Dimas di kursi kemudi dan Bintang di sebelah nya, sedangkan Tasya duduk di belakang.
Selama perjalanan Bintang hanya diam mengahadap ke luar jendela dengan tangannya yang terus menekan tasbih digital di tangannya.
Sedangkan Tasya di belakang pun juga diam dan sibuk memainkan hp nya.
Dimas mengemudi sambil sesekali melirik ke arah Bintang. Perasaan Dimas sangat bahagia bisa duduk berdekatan dengan Bintang.
"Kita mau kemana nih" celetuk Tasya
Dimas yang sedang meilirik Bintang langsung mengalihkan pandangannya.
"Aku cuma mau ngajak ngopi aja di cafe. Atau kamu mau pergi ke suatu tempat?" Tanya Dimas dengan menatap wajah Bintang
Bintang menatap balik Dimas lalu menggeleng
"Gimana kalo kita ngopinya di tempat abang gue aja" ajak Tasya
"Dimana?" Tanya Dimas
"Udah lu nyetir aja entar gue tunjukin arahnya"
15 menit kemudian sampailah mereka di restoran milik Justin.
Dimas berjalan di depan, Bintang dan Tasya di belakangnya.
__ADS_1
☀️☀️☀️☀️☀️