Terpaksa Di Madu

Terpaksa Di Madu
43 Malam Pertama


__ADS_3

Malam itu gerimis mulai turun menghasilkan suara rintik rintik yang menenangkan.


Nyanyian alam itu menjadi saksi mereka melalui malam yang indah ini.


Dimas melepas hijab yang membalut kepala istri nya dengan pelan, Bintang menurut dan pasrah membiarkan Dimas melihat rambut hitamnya yang ia biarkan tergerai di balik hijabnya.


Wangi dadi rambut istrinya begitu Dimas sukai, ini adalah kali pertama baginya melihat bidadari nya tanpa penutup kepala.


Maasya Allah, begitu cantiknya Bintang hingga membuat Dimas semakin terpana.


Begitu cantik dengan rambut nya yang lebat dan hitam, Bintang menunduk karena Dimas tak henti menatapnya sedari tadi.


Dimas membelai rambutnya lalu kembali mencium keningnya.


Dengan reaksi Bintang yang tanpa penolakan Dimas langsung mematikan lampu utama dan hanya menyisakan cahaya dari lampu tidur yang tidak begitu terang.


Dengan tangannya Dimas meraih selimut dan menutupi dirinya dan istrinya.


Malam itu terasa panjang dan panas, di balik selimut itu mereka menyatukan diri.


Hawa dingin di luar rumah karena hujan namun di dalam kamar itu sepasang insan sedang merasa kegerahan hingga bermandikan keringat cinta.


Keduanya sama-sama menikmati malam yang panjang dengan indah hingga mereka tertidur karena kelelahan.


*****


Pagi ini mentari kembali menyapa dengan sinarnya yang terang kekuningan, memasuki ke setiap sudut ruangan melalui celah dari kaca dengan gorden yang terbuka.

__ADS_1


Bintang sudah cantik dengan balutan hijabnya dan hendak turun ke bawah.


Namun Dimas mencegahnya dengan meraih tangannya.


"Mau kemana?" Tanya Dimas


"Aku mau ke dapur mas, mau siapin sarapan"


Dimas menarik tangannya dan menuntunnya ke balkon.


Dimas mengajaknya duduk sambil menikmati pemandangan alam di pagi hari yang begitu cerah ini.


"Kita mau apa di sini mas?"


Dimas menggenggam tangan Bintang dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya merangkul bahunya.


Karena dari balkon kamarnya memang dapat melihat hijau nya lapangan golf dengan kilauan cahaya dari danau yang terkena sinar matahari.


Bintang takjub dengan indahnya pemandangan di tambah lagi dengan suara kicauan burung yang sudah berlalu lalang di atas awan.


"Kamu suka?"


Bintang mengangguk dengan senyuman di bibirnya


"Sangat suka mas, begitu indah"


"Aku ingin mulai hari ini dan seterusnya kamu akan selalu menemani ku di sini setiap pagi"

__ADS_1


Bintang balik menatap wajah Dimas lalu mengangguk di sertai senyumnya yang manis.


Bintang menikmati cahaya hangat dari mentari pagi dengan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu.


Bintang yang sedikit kesulitan berjalan ia khawatir akan malu jika di lihat orang.


Dimas tidak mau istrinya turun ke bawah dan bertemu dengan papa dan mama dalam keadaan ini.


"Kamu tunggu di sini ya aku mau turun sebentar" kata Dimas


Bintang mengangguk iya dan tetap duduk di sana.


Tak lama Dimas pun kembali dengan membawa nampan yang berisi 2 gelas susu dan beberapa roti bakar.


"Apa ini mas, kenapa kamu membawanya kesini?" Tanya Bintang saat suaminya meletakkan nampannya di atas meja kecil di sampingnya.


"Sarapan, kita akan sarapan disini" jawab Dimas lalu mengoleskan selai coklat di atas rotinya


"Kenapa kita akan sarapan di sini mas, kenapa tidak sarapan bersama yang lainnya di bawah?"


"Bagaimana kita bisa ke bawah jika kamu kesulitan berjalan, kalo kamu mau aku gendong ke bawah ya ayo"


Bintang menunduk malu karena memang benar perkataan Dimas kalau dirinya memang agak kesulitan berjalan karena merasa sakit di bagian pangkal pahanya.


"Sudah lah, papa dan mama pasti mengerti. Kita sarapan di sini saja, ya"


Bintang akhirnya setuju dan mau sarapan di sana.

__ADS_1


☀️☀️☀️☀️☀️


__ADS_2