
Dimas mengernyit kan dahinya dan menatap mama nya dengan sinis, "Maksud mama?"
Bu Ririn meletakkan sendoknya lalu mengambil gelas dan untuk ia minum.
"Gini loh, istri kamu kan di sini ga ngapa-ngapain pasti dia bosen. Mama cuma ngasih saran aja, di rumahnya dia pasti sudah terbiasa kan dengan pekerjaan rumah, iya kan?"
"Iya ma"
Jawab Bintang mengangguk karena memang ia sudah terbiasa dengan pekerjaan rumah.
"Tuh kan mama bener"
"Tapi ma, di sini sudah ada bi Jumi yang ngerjain itu, kenapa Bintang juga harus melakukannya?" tanya Dimas
"Ya kan mama cuma kasih saran aja, dari pada berdiam diri?"
"Ngak, Bintang ga boleh lakuin pekerjaan apapun yang sudah menjadi tugasnya bi Jumi. Dia istri ku ma bukan art!"
"Sudah mas ga papa. Mama bener dari pada aku di sini ga ngapa-ngapain" sahut Bintang
"Tapi..."
Bintang tersenyum pada Dimas meyakinkan dirinya kalau ia benar-benar tidak apa-apa.
"Biarkan istri mu mau melakukan apa saja, yang pasti jangan sampai kelelahan. Jangan lakukan pekerjaan yang berat-berat" Timpal pak Hendra
Dimas menggelengkan kepalanya dan merasa kesal dengan sikap mama nya, apa lagi papa nya juga mendukung dan membiarkan Bintang untuk melakukan pekerjaan rumah.
__ADS_1
Makan malam selesai Bintang langsung membereskan piring kotor dan hendak membawanya ke dapur.
Dimas mencegahnya dengan memegang lengannya
"Kamu mau apa?"
"Aku mau beresin ini mas" jawab Bintang
Dimas mengambil piring dari tangan Bintang dan meletakkannya kembali di atas meja.
"Tidak perlu, ada bi Jumi yang akan membereskan meja ini"
"Ga papa mas, cuma -"
Dimas meraih tangan Bintang dan mengajaknya pergi, "Ngak, sekali aku bilang ngak ya ngak. Ayo kita ke kamar" ajak Dimas
"Kenapa sih Dimas, biarin aja napa sih kalo istrinya mau beres-beres. Toh itu kan emang sudah menjadi kebiasaan dia" celetuk bu Ririn
"Ya wajar lah ma, mana mungkin seorang suami rela membiarkan istrinya kecapekan dengan pekerjaan rumah jika sudah ada art di sini. Sama kayak papa yang ga mau membiarkan mama melakukannya" jelas pak Hendra
Bu Ririn melirik ke arah suaminya lalu memutar bola matanya, wajahnya menjadi masam dan mulai tidak sedap untuk di pandang.
"Papa mau ke ruang kerja papa dulu, mama masih mau di sini?" tanya pak Hendra yang sudah beranjak dari kursinya
Tanpa menjawab bu Ririn bangun dari duduk nya dan langsung pergi ke kamarnya.
Pak Hendra tidak mau ambil pusing dengan sikap istrinya karena beliau sudah sangat paham dengan sikapnya yang sering marah tidak jelas.
__ADS_1
Di kamar, Dimas mengajak Bintang untuk duduk di sofa tepat di sebelahnya.
Bintang duduk di sana dengan kedua tangannya bertumpu di atas pangkuannya.
Dimas meraih tangan Bintang dan menatapnya dengan lekat.
Bintang kini mulai canggung, dengan terus memerhatikan tangannya yang berada di genggaman suaminya itu.
"Jangan pernah mau jika mama menyuruh mu untuk melakukan pekerjaan rumah. Kamu itu di sini istri ku, seorang menantu bukan pembantu"
"Ga papa mas, aku ga keberatan kok" sahut Bintang
"Tapi aku yang keberatan!"
Bintang mengangkat wajahnya dan menatap balik wajah Dimas.
"Sebegitu marahnya kamu mas saat orang tuamu hanya menyuruh ku melakukan pekerjaan rumah?" batin Bintang.
Ia merasa begitu di sayangi dengan sikap Dimas yang seperti ini.
Terlihat begitu tulus bahwa Dimas sangat menyayanginya.
Mata mereka saling bertemu, ini adalah kali pertama Bintang berani menatap balik wajah Dimas dengan cukup lama.
Dengan perlahan Dimas pun mulai mendekatkan wajahnya hingga hembusan nafas mereka saling bertemu.
☀️☀️☀️☀️☀️
__ADS_1