Terpaksa Di Madu

Terpaksa Di Madu
68 Naik Pesawat


__ADS_3

Dimas membalikkan tubuh Bintang menghadap dirinya, ia juga mempererat pelukannya hingga dada lembut istrinya menempel di dada bidangnya.


Terasa lembut dan kenyal juga hangat.


"Ga usah bawa barang terlalu banyak bee, kita ke sana bukan mau pindahan, tapi liburan" ujar Dimas


"Iya, tapi masak kita ga mau bawa baju ganti?"


"Ga masalah bee, aku memang lebih suka melihat mu tanpa baju"


"Ih..." Bintang mencubit perut Dimas


"Sakit bee" seru Dimas


"Kamu sih, nakal"


"Lah, aku jujur bee. Aku memang lebih suka kamu tanpa baju" Dimas mengulangi perkataan nya lalu hendak mencium bibir Bintang


"Tau ah, aku mau mandi"


Bintang mencoba melepas tangan Dimas karena merasa gerah.


Namun Dimas tidak mengizinkannya


"Mau mandi?"


"Iya mas, aku gerah"


"Ya udah, sekalian aja, yuk"


Dimas mengedipkan matanya memberi kode nakal pada Bintang.


Bintang mengerti arti dari kedipan itu, dengan sengaja Bintang menolak.


Tapi bukan Dimas namanya jika Bintang bisa lolos dari nya.

__ADS_1


Dimas langsung menggendong tubuh mungil Bintang dan membawa nya ke kasur.


Ia langsung menindih tubuh Bintang dan menciumi nya, mulai dari kening, pipi dan bibir nya.


Ya, Bintang pun mulai menikmati sentuhan demi sentuhan dari tangan Dimas, ia menarik selimut dengan jari kakinya untuk menutupi dirinya.


Aksi Dimas semakin panas saat ketika sudah berada di bawah selimut.


Berdua dengan orang yang di sayangi, keringat cinta pun mulai hadir menambah kehangatan di antara dua kulit yang sedang menyatu.


Setelah sholat isya Dimas dan Bintang pun langsung berangkat menuju bandara.


Karena ini adalah kali pertama naik pesawat bagi Bintang, ia merasa sangat antusias.


Begitu memasuki badan pesawat, perasaan Bintang menjadi tidak karuan.


Dimas membantunya memasang sabuk pengaman milik Bintang sebelum memasang miliknya.


Terlihat betapa tegangnya wajah Bintang, ia tetap memegang tangan Dimas dengan erat.


"Benar kah?"


"Iya, percayalah. Banyak lah berdzikir dan berdo'a agar perasaan mu menjadi lebih tenang"


Bintang mengangguk dan mengusap dada nya.


Sebenarnya sejak pertama menginjakkan kaki di dalam badan pesawat Bintang memang tidak pernah berhenti berdzikir.


Saat ini mesin pesawat sudah di nyalakan, sebelum lepas landas pesawat berjalan mengitari lapangan.


Hal ini cukup membantu Bintang agar bisa sedikit lebih tenang.


Karena menaiki pesawat tidak jauh berbeda dengan kendaraan lainnya.


Tapi berbeda saat pesawat sudah hendak tebang, getaran kuat dari pesawat membuat Bintang panik.

__ADS_1


Bintang menggigit lengan baju Dimas karena ia tudak ingin sampai berteriak.


Tangannya mencengkram tangan Dimas dengan kuat.


Dengan menutup matanya Bintang terus berdzikir.


Sungguh ini sangat menakutkan baginya, Dimas yang menahan sakit di tangan dan lengannya mencoba kuat.


Ia merangkul bahu Bintang dan mengusap usap kepalanya.


Baru lah setelah pesawat mengudara, Dimas meminta Bintang untuk membuka mata nya dan melihat indahnya pemandangan bumi di malam hari dari ketinggian.


"Bee... Sudah. Sekarang buka mata mu, sekarang sudah aman...."


Bintang membuka sedikit matanya dan mengintip wajah Dimas.


Ia lalu melepas gigitannya yang meninggalkan bekas lipstik nya di baju Dimas.


"Hah? Maaf ya mas, kamu pasti sakit sedari tadi aku gigit. Aku minta maaf ya mas, aku ga sengaja..."


"Ga papa sayang, aku tau kamu begini karena kamu ketakutan kan?"


Bintang mengangguk "Iya, mas"


"Sekarang masih ketakutan?"


"Alhamdulillah sudah ngak mas"


"Kalo gitu, apa kamu bisa melepas cengkeraman mu sekarang?"


Bintang menunduk melihat tangannya yang masih mencengkeram tangan Dimas dengan kuat.


Segera Bintang melepas nya dan mengusap tangan Dimas.


Betapa tangan Dimas merah dengan bekas kuku di sana.

__ADS_1


☀️☀️☀️☀️☀️


__ADS_2