Terpaksa Di Madu

Terpaksa Di Madu
22 Hani Tidak Setuju


__ADS_3

Bu Ririn mencoba menenangkan Hani yang kini mulai kesal karena Dimas.


"Sudah sudah Hani. Jangan lagi mendebati kakak mu, dia sudah yakin dengan keputusannya"


"Tapi ma, belum nikah aja kakak udah anggap aku ga penting, gimana nanti kalo udah nikah?" Rengek Hani pada mama nya


Pak Hendra memegang pundak Hani "Dimas tidak salah Han dan kamu juga tidak benar. Jika kamu tidak setuju dengan gadis pilihan Dimas, berikan alasan yang pantas dan kuat untuk nya. Jika hanya masalah penampilan, kapan saja itu bisa berubah. Sudah lah, biarkan Dimas dengan pilihannya" jelas pak Hendra lalu beranjak dari sofa dan pergi ke kamarnya


"Mama...." Hani merengek pada mama nya. Bagaimana tidak selama ini Dimas selalu melibatkan dirinya dalam apapun yang ia lakukan.


"Sudah sayang, tenang. Kamu pikir mama juga setuju sama kakak kamu? Ngak sayang, mama gak setuju. Tapi apa boleh buat jika kakak kamu sudah bersikukuh dengan gadis itu. Di tambah lagi dengan papa mu yang sudah menyetujuinya"


"Benarkah?" Tanya Hani tak percaya


"Iya sayang, sudah lah. Kamu harus mengalah kali ini, kita lihat aja ke depannya kakak kamu jadi apa ngak nikha sama gadis itu"


Bu Ririn memeluk Hani dengan mengusap kepala bagian belakangnya.


Bu Ririn sebenarnya juga tidak setuju dengan gadis pilihan Dimas, tapi apa boleh di buat jika pak Hendra sudah menyetujuinya.


Keputusan di rumah ini sepenuhnya di pegang kendali oleh kepala rumah tangga, yaitu pak Hendra.


Bu Ririn dan Hani tidak menyukai Bintang karena selain penampilannya yang berbeda dengan mereka (Bu Ririn dan Hani yang terbuka dan fashionable, sedangkan Bintang yang selalu dengan gaya busana muslimah nya).


Mereka juga menganggap kalo wanita yang seperti Bintang itu sok suci dan sok alim.


"Kamu besok ke kampus apa ngak?" Tanya bu Ririn


"Ngak ma" jawab Hani sambil membenahi rambutnya


"Ya sudah buat ngilangin stress kamu besok kita ke mall yuk kita belanja, udah lama juga kan kita ga pergi ke mall bareng"

__ADS_1


Hani mengangguk meski ia masih tidak bisa tersenyum karena masih kesal dengan kakaknya.


Keesokan harinya setelah sarapan Lucas dan pak Hendra pergi ke kantor masing-masing.


Sedangkan bu Ririn menghias dan mewarnai kukunya dengan kutek.


Hani di kamarnya sedang bersiap-siap dengan mencatok rambutnya.


Jam 8.35 bu Ririn dan Hani pergi ke mall untuk membuang stress mereka dengan berbelanja sepuasnya.


Saat sedang asyik memilih dress di depannya Hani kembali teringat dengan Dimas.


Dengan menenteng baju di tangannya Hani menghampiri mama nya yang sedang sibuk memilih baju juga.


"Ma..." Panggil Hani


"Apa sayang" saut bu Ririn dengan mata dan tangannya yang masih fokus memilih baju


"Mama nanti mau ikut kakak sama papa ke rumah gadis itu?"


"Iya lah sayang, kamu juga. Kita semua peegi ke sana"


"Hani gabmau ikut ma" ujar Hani lalu meletakkan baju yang ia pegangan dan pergi duduk di sofa


Bu Ririn mendekatinya dengan duduk di samping nya "Kenapa sayang? Kamu masih kesal sama Dimas?"


"Mama kan tau kalo aku ga suka sama gadis itu, ini mama malah ngajak aku ke rumah dia. Gak mau!"


"Hani, mama kan sudah bilang sama kamu kalo mama juga ga suka sama dia. Tapi jangan begini nak, kalo kamu begini yang ada kamu sama Dimas jadi bertengkar nanti. Kamu mau papa marahin kamu. Sudah lah, ga usah terlalu di pikirin. Lagian kan yang mau hidup sama gadis itu ya kakak kamu, bukan kamu. Cepat atau lambat kakak kamu pasti menyesal karena sudah memilih gadis seperti nya"


Hani memutarkan bola matanya lalu berdiri dan kembali memilih baju di depannya.

__ADS_1


"Nah gitu dong. Kamu pilih baju apa yang akan kamu pake nanti"


Dengan wajahnya yang masam Hani mengangguk dan mengambil dress di depannya lalu mencobanya di ruang ganti.


Bu Ririn pun memilih baju mana yang akan ia pakai nanti untuk pergi ke rumah Bintang.


****"


Pagi ini karena Bintang tidak ada jam kuliah ia menyibukkan dirinya dengan membersihkan rumah, pak Ahmad yang hari ini juga free membantu Bintang dengan memotong rumput di halaman.


"Abah, istirahat dulu yuk. Ini Bintang bikinin abah jus" Panggil Bintang dengan membawakan segelas jus dingin untuk abahnya


Pak Ahmad berhenti memotong rumput dan menghampiri Bintang.


"Makasih nak" ucap pak Ahmad lalu menerima gelas jusnya dari tangan Bintang


Bintang yang sudah selesai dengan bersih-bersih nya kini duduk bersama abahnya menikmati angin sepoi yang menerpa tubuh dengan pelan, membuat keringat di badan perlahan mulai menghilang.


"Abah kalo udah capek udahan motong rumput nya, ini matahari udah mulai terik loh" ujar Bintang


"Tanggung Bin, itu udah tinggal sedikit lagi. Habis ini bantuin abah buang sampah rumput nya ya?"


"Ya udah biar cepet Bintang bantuin dari sekarang ya"


Pak Ahmad kembali memotong rumput nya dan Bintang mulai menyapu membersihkannya potongan rumputnya lalu membuangnya ke tempat sampah.


Setelah selesai dengan pekerjaan itu mereka masuk ke rumah dan beristirahat sejenak duduk di depan tv sambil menunggu waktu dhuhur tiba.


Setelah sholat dhuhur Bintang masih tetap duduk di atas sajadahnya.


Dengan tangannya yang masih terus memutarkan tasbih dan mulutnya yang tidak berhenti berdzikir.

__ADS_1


Menit demi menit berlalu membuat Bintang merasa semakin gugup, bagaimana tidak kini jam sudah menunjukkan pukul 1 siang dan Dimas akan datang ke rumah ini jam 2.


☀️☀️☀️☀️☀️


__ADS_2