Terpaksa Di Madu

Terpaksa Di Madu
56 Di Tampar Mama Mertua


__ADS_3

Bu Ririn menghadap bu Yunita dengan sangat percaya diri dan berkata dengan tegas


"Jeng Nita, ini masalah keluarga ku, jadi jeng Nita jangan ikut campur"


"Oh ya?? Jika saja menantu mu orang lain mungkin aku akan tetap diam. Tapi menantu mu itu sudah aku anggap seperti anak ku sendiri. Hari ini aku memilih diam karena menantu mu tidak mau aku menyebarkan perbuatan mu ini. Dia masih memikirkan nama baik mu dan keluarga mu. Tapi ingat ya jeng, jika kamu masih memperlakukan buruk Bintang di sini, lihat saja apa yang akan aku lakukan! ancam bu Yunita dengan menunjuk wajah bu Ririn


"Kamu tega memperlakukan seorang menantu mu seperti ini, bagaimana jika hal yang sama juga di alami oleh anak perempuan mu?" imbuhnya


Bu Ririn mendengus kesal dan tidak bisa menjawab, ia hanya terdiam dengan bola matanya yang tak melototi wajah bu Yunita.


"Berhentilah menatap ku seperti itu, aku tidak takut dengan mu. Ingat ya jeng, aku tidak main main dengan ancaman ku. Aku tidak akan sedih jika harus kehilangan teman yang jahat seperti mu dari pada" ujar bu Yunita lalu pergi


Bu Ririn yang sangat kesal langsung masuk ka rumah dan menutup pintu dengan kuat hingga menimbulkan suara yang keras.


Telinganya terasa panas mendengar semua ancaman dari bu Yunita.


Bu Ririn lalu pergi ke dapur dan menarik tangan Bintang hingga membuat gelas yang Bintang pegang terjatuh ke lantai.


Bi Jumi yang sedang mencuci piring pun terkejut dan ikut keluar mengejar Bintang.


"Mama, ada apa ma. Kenapa mama menarik ku seperti ini...." Tanya Bintang


Bu Ririn melepas tangan Bintang dan mendorongnya


"Puas kamu membuat aku di permalukan oleh teman ku, iya?!!" bentak nya


Bintang tidak mengerti apa maksud dari ucapan mama mertuanya itu.


"Di permalukan? Siapa ma, maksud mama apa?" tanya nya dengan polos


Bu Ririn mendekati Bintang dan mencengkeram kedua pipinya dengan erat


"Siapa? kamu masih tanya siapa? Apa yang sudah kamu katakan pada jeng Nita, mengadu apa kamu padanya, hah!!"


Bintang mencoba melepas tangan mama mertuanya karena ia merasa kesakitan.


"Sakit ma, sakit.... Aku ga bilang apa apa sama tante Nita, sungguh ma" rintih Bintang dengan terus memegang tangan mama mertuanya


"Nyonya, lepaskan non Bintang nya, non Bintang pasti kesakitan" bi Jumi mencoba merayu agar bu Ririn melepasnya


Bu Ririn memang melepaskan Bintang, namun dengan mendorongnya hingga ia jatuh ke lantai.


Bi Jumi langsung menghampiri Bintang "Non, non Bintang ga papa non..." Tanya bi Jumi dengan memegang pipi Bintang yang memerah.


"Aku sudah melakukan kesalahan dengan membiarkan putra ku menikah dengan mu. Kamu hanya berpenampilan sok sholeha tapi hati mu busuk. Hari ini kamu sudah membuat ku di permalukan oleh teman ku sendiri, besok atau lusa kamu akan berbuat yang lebih dari ini!!!"


Bu Ririn marah besar pada Bintang hingga selalu menunjuk nya saat berbicara


Bintang melepas tangan bi Jumi dan kembali berdiri,

__ADS_1


"Mama menuduhku mempermalukan mama atas perbuatan yang tidak aku lakukan? Lalu bagaimana dengan ku ma, mama memperkenalkan aku sebagai pembantu di depan semua teman mama. Apa menurut mama itu benar??"


Tanya Bintang dengan berurai air mata


Bu Ririn melayangkan tangannya, menampar pipi Bintang dengan kuat.


Plak....


Suaranya begitu menggema di seluruh ruangan, tamparan yang membuat Bintang hingga tersungkur ka lantai.


"Mama....!!" Terdengar suara yang begitu lantang dari arah pintu.


Bu Ririn menoleh ke asal suara, dan betapa terkejutnya ketika siapa yang ia lihat di sana.


Bi Jumi langsung merasa lega karena akhirnya ada yang akan membela Bintang dari amukan bu Ririn.


Dimas berniat pulang lebih awal karena khawatir saat Bintang mengabarinya sakit kepala, dan saat sampai di rumah ia malah mendapati istrinya yang sedang di aniaya oleh mama nya sendiri.


Dimas langsung berlari dan menghampiri istrinya, pipinya yang merona kini menjadi merah dengan bekas tangan di sana.


Tanpa bertanya apapun Dimas langsung memeluk Bintang dengan erat.


Sedangkan bu Ririn kini panik dan bingung, "Dimas, apa yang kamu lihat tidak seperti yang kamu bayangkan. Mama, tidak... Mama...."


"Cukup ma!" Bentak Dimas


Dimas membantu Bintang berdiri dan terus mendekapnya.


"Dimas, dengerin mama dulu nak. Mama ga mungkin menampar istri kamu kalo dia ga ngelakuin kesalahan"


"Kesalahan?" Dimas menatap mama nya dengan tatapan tajam "Kesalahan apa yang sudah istri ku lakuakan sama mama?"


"Dia, dia mempermalukan mama di depan teman mama, Dimas!!"


Dimas menunduk melihat istrinya yang menangis dan terus memegang pipinya yang terasa kebas


"Apa yang sebenarnya terjadi sayang, katakan dengan jujur. Aku tidak mungkin percaya begitu saja dengan perkataan mama, katakan lah..." pinta Dimas dengan lembut


Bintang mengangkat wajahnya menatap balik dua bola mata suaminya yang menanti jawabannya.


Ia kemudian melihat wajah mama mertuanya yang masih penuh amarah padanya.


Bintang tidak mampu menjwab, ia hanya bisa menangis dan kembali menenggelamkan wajahnya di dada suaminya.


Tanpa kembali bertanya, Dimas langsung membawa Bintang ke kamar dan meninggalakan mamanya yang masih terus mengatakan kalau Bintang lah yang bersalah.


"Kamu harus percaya sama mama Dimas, mama cuma memberikan dia hukuman. Dia yang salah...!!


Bi Jumi menggelengkan kepalanya karena tidak menyangka, bertahun-tahun dirinya kerja di rumah ini baru kali ini melihat bu Ririn yang begitu kasar.

__ADS_1


"Nyonya nyonya, udah jelas ketahuan bersalah masih aja membela diri. Astaghfirullah...." Batin bi Jumi


Dimas membantu istrinya berbaring di kasur lalu menyelimutinya.


Ia juga meminta bi Jumi untuk mengambilkan air hangat untuk mengompres pipi Bintang.


"Tenang lah sayang, aku tidak akan memaksa mu untuk bercerita sekarang. Istirahat lah...." ucap Dimas lalu mencium kening Bintang.


Dimas mengerti kalau perasaan istrinya saat ini sedang tidak baik-baik saja, ia hanya diam duduk di sisinya dengan tangannya yang terus mengelus kepala Bintang.


Dengan masih menggenggam erat tangan suaminya, Bintang pun tertidur karena kelelahan menangis.


Setelah memastikan istrinya benar-benar pulas, Dimas melepaskan tangan istrinya dengan perlahan lalu pergi ke ruang kerjanya dan melihat kejadian yang sebenarnya melalui rekaman cctv.


Terlihat jelas bagaimana awal mula mama nya bisa menampar istrinya.


Dimas sangat kecewa dengan mama nya, selama ini istrinya selalu menghormati dan menyayanginya seperti mama kandungnya sendiri.


Tapi balasan dari mama nya membuat Dimas malu pada istrinya.


Tidak hanya rekaman hari ini, Dimas juga melihat rekaman cctv di hari-hari sebelumnya.


Istrinya yang selalu di perintah untuk melakukan pekerjaan rumah, bahkan Hani pun juga tega memperlakukan dengan buruk kakak iparnya.


"Jadi selama ini, istri ku di perlakukan seperti ini di rumah ini? Tanpa sepengetahuan ku, mama memperlakukan istri ku dengan buruk. Aku ga nyangka, mama begitu tega" gumam nya


Dimas kembali ke kamarnya dan melihat keadaan istrinya.


Wajahnya begitu pulas dengan bekas tangan mama nya yang masih sangat jelas di pipinya.


Dimas merasa gagal menjadi suami yang selalu bisa menjaga nya.


Keesokan harinya, Dimas melarang istrinya untuk keluar dari kamar, makan dan minum pun Dimas meminta bi Jumi untuk mengantarkan ke kamar.


"Kamu ga mau ke kantor, mas?" tanya Bintang yang melihat suaminya sedang duduk santai dengan memainkan hp nya.


"Ngak sayang, aku mau kerja dari rumah aja. Sini" Dimas melambaikan tangannya meminta Bintang untuk duduk di sampingnya.


"Menurut kamu, ini mana yang lebih bagus?" tanya Dimas dengan menunjukkan gambar rumah dari hp nya


"Rumah?"


"Iya, kamu pilih mana yang kamu suka"


"Untuk apa mas?"


"Untuk kita. Kita akan pindah dari rumah ini dan memulai hidup berdua"


Bintang menatap wajah Dimas dengan penuh tanda tanya "Kenapa mas?"

__ADS_1


"Kenapa, kamu masih tanya kenapa? Sayang, aku ga mau kamu mengalami kesulitan lagi, sudah cukup apa yang kemarin mama perbuat sama kamu, aku ga mau hal lain terjadi lagi" ucapnya dengan memegang kedua pipi Bintang


☀️☀️☀️☀️☀️


__ADS_2