Terpaksa Di Madu

Terpaksa Di Madu
08 Keinginan Dimas


__ADS_3

Pak Ahmad memijat pelan kepala Bintang sambil melantunkan sholawat.


Suara pak Ahmad yang memang merdu membuat Bintang merasa lebih tenang.


2 hari setelah nya, kini Bintang sudah sehat, ya meski masih sedikit merasa lemas.


Hari ini hari sabtu, pak Ahmad mengajak Bintang untuk jalan pagi berkeliling komplek.


Tanpa memakai alas kaki, mereka berdua berjalan santai sambil memegang botol di tangan nya.


Menikmati udara pagi yang dingin dan segar, di tambah dengan semilir angin pagi.


"Assalamualaikum pak Ahmad..." Sapa pak Agus.


"Wa'alaikum salam pak RW"


"Mau kemana pagi-pagi begini, olahraga?"


"Mau di bilang olahraga kita keringatan, saya cuma ngajak Bintang untuk jalan santai. Pak RW mau kemana?"


"Biasa pak, di suruh sama istri ke warung. Ya gini dah kalo punya anak yang udah remaja beranjak dewasa, udah rada susah buat di minta bantuan"


"Jiwa gengsinya masih membara pak RW..."


"Ya betul itu pak"


Pak Ahmad dan pak Agus tertawa sedangkan Bintang hanya tersenyum.


Setelah itu pak Agus pergi ke warung, Bintang dan abahnya melanjutkan jalan pagi nya.


*****


Di rumah Dimas


Pagi ini keluarga Pratama melakukan sarapan bersama.


Karena hari ini weekend, Hani dan mamanya berencana untuk pergi quality time untuk menghabiskan waktu berdua.


Seperti pergi berbelanja, ke salon, makan dan nongkrong cantik di restoran.


"Papa hari ini mau ngapain" tanya Hani


"Ga ada sih, papa mau santai di rumah aja"


"Kak Dimas?"


"Aku temenin papa di rumah. Kenapa, kamu mau ngajak aku nongki bareng?"


"Ya kalo kamu mau ayo" saut bu Ririn


"Ya kali ma, masa iya aku ikut mama sama Hani. Mau ngapain? Mau jadiin aku patung lagi karena kelamaan nunggu kalian di salon. Mending di rumah"


Hani dan bu Ririn tertawa, bagaimana tidak.


Sebelum nya Dimas pernah mengantar mereka ke salon dan yang di katakan Dimas itu adalah pengalaman nya.

__ADS_1


"Ya sudah, kamu temenin papa di rumah. Kita olah raga bareng" ajak pak Hendra


"Itu lebih baik sih pa"


"Ya sudah. Kalo gitu habis ini aku sama Hani pergi ya, papa sama Dimas ga mau nitip apa kek. Makanan ato apa?" Tanya bi Ririn


Pak Hendra dan Dimas kompak menggelengkan kepalan mereka.


Selesai sarapan Hani dan bu Ririn bersiap dan langsung pergi.


Pak Hendra duduk di tepi kolam ikan, membaca koran di tangannya juga sambil menikmati secangkir kopi hitam kesukaannya.


Dimas menghampiri papa nya dan duduk di sampingnya.


"Ada apa?" Tanya pak Hendra


"Aku mau tanya sesuatu sama papa"


"Apa, mu tanya tentang apa?"


"Ini soal Bintang"


"Ada apa dengan Bintang, kamu berubah pikiran tentang dia?"


"Tidak pa, aku tidak punya alasan untuk merubah pikiran ku tentang Bintang"


"Lalu, apa yang mau kamu bicarakan tentang nya?"


"Apa papa sudah mencari tahu sendiri tentang Bintang?"


Pak Hendra meletakkan korannya, lalu menyeruput kopinya


"Lalu, bagaimana menurut papa"


"Papa tidak masalah kamu mau menikah dengannya. Tapi..."


"Tapi apa pa?"


"Tapi gadis itu saat ini sedang kuliah semester akhir, apa di mau menikah dengan mu?"


"Ya kalo soal itu kan bisa nikah sambil kuliah pa"


"Apa kamu juga sudah tau tentang orang tua gadis itu?"


Dimas mengangguk "Iya pa, Dimas tau"


"Orang tua gadis itu sangat fanatik terhadap agama, sedangkan kamu mengerti apa soal agama?"


"Memangnya apa salahnya kalau orang tuanya fanatik?"


"Dimas... Saat kamu datang untuk melamar anak gadisnya, orang seperti itu tidak akan menanyakan tentang pekerjaan, kekayaan, dan kemewahan hidup mu. Tapi dia akan menanyakan tentang agama pada mu. Memangnya kamu bisa jawab apa?"


"Itu tugas papa, papa harus meyakinkan abah Ahmad untuk mau menerima lamaran ku"


"Papa, kamu sudah tau sendiri papa ini tidak dekat dengan tuhan"

__ADS_1


"Ayolah pa, cari cara apa kek. Papa busa kan menyewa ustad itu menemani ku melamar Bintang?"


"Lihat nanti saja" ucap oak Hendra lalu kembali mengambil korannya dan hendak membaca.


Tapi Dimas mengambil korannya,


"Jangan nanti pa, Dimas mau secepatnya."


"Dimas, kamu kenapa jadi ngebet gini sih?"


"Papa, Bintang itu ibarat bunga mawar merah yang cantik di antara rerumputan hijau. Kalau Dimas masih terus saja menunda, bisa jadi mawar itu akan di petik lebih dulu oleh orang lain"


Pak Hendra tertawa karena perkataan Dimas seperti syair pujangga.


"Ahahaa... Dimas Dimas. Jika bunga mawar itu di ambil oleh orang lain, pergilah ke taman yang lain. Pasti akan ada banyak bunga mawar yang lebih cantik dan berwarna-warni"


"Papa, aku ga mau yang lain. Pokoknya aku mau papa secepatnya cariin ustad buat nganterin aku ke rumah Bintang"


"Kamu maunya kapan ke sana?"


"Secepatnya pa, lebih cepat lebih baik. Kalo bisa, besok juga gapapa"


Pak Hendra di buat tersedak saat meminum kopinya karena Dimas.


Dimas membantu papa nya dengan menepuk-nepuk pundaknya


"Papa kenapa, papa ga papa kan?"


"Uhuk...uhuk.. ga papa apanya. Kamu ini, jangan lah terlalu buru-buru, masak iya besok?"


"Papa kan yang sering bilang sama aku, jangan pernah menunda sesuatu jika itu bisa di kerjakan dengan cepat"


Pak Hendra hanya bisa menggelengkan kepalanya karena ia di skak mat oleh putranya dengan nasihatnya sendiri.


Pak Hendra akhirnya menuruti dengan menghubungi seorang ustadz untuk ikut mendampingi putranya meminang gadis impiannya.


Tanpa bertanya lagi apakah mama dan adiknya akan setuju, Dimas terus memaksa papa nya.


Besok ia akan pergi ke rumah Bintang bersama papa dan seorang ustadz.


Pak Hendra sebenarnya masih sedikit ragu, bukan karena Bintang yang ia ragukan. Tapi ragu karena menyetujui permintaan Dimas tanpa menunggu keputusan istri dan anak bungsunya.


*****


Malam ini malam minggu, Tasya mengajak Bintang untuk pergi jalan-jalan menghabiskan malam bersama.


"Aku jemput sekarang ya Bin"


"Tapi aku belum ijin sama abah"


"Pasti di izinin kok, bilang aja sama abah kalo kita mainnya ga jauh-jauh kok. Jam 10 aku anterin kamu balik"


"Ya udah, aku mau minta ijin dulu sama abah, tapi aku ga janji ya."


"Iya iya, di tunggu ya"

__ADS_1


Telfon pun di tutup. Bintang pergi ke ruang kerja abah untuk meminta ijin.


☀️☀️☀️☀️☀️


__ADS_2