Terpaksa Di Madu

Terpaksa Di Madu
50 Pertengkaran Di Pagi Hari


__ADS_3

"Mama...."


Pak Hendra, bu Ririn dan Hani langsung menoleh ke asal suara yang tidak asing di telinga mereka.


Dimas dan Bintang berdiri dengan menatap ke arah mereka.


Dengan tetap menggandeng tangan istrinya, Dimas melangkah mendekat ke meja makan.


Mereka semua langsung berhenti makan dan mulai panik dan takut kalau Dimas mendengar semua percakapan mereka barusan.


"Aku tidak menyangka kalau mama ku ternyata bisa bermuka dua" ujar Dimas dengan tatapan tajam pada mamanya


"Maksud kamu apa Dimas?" tanya bu Ririn seolah tidak mengerti


"Setelah apa yang mama katakan barusan mama masih bisa pura-pura bertanya maksud Dimas?" tanya Dimas dengan meninggikan suaranya


Bintang menggenggam tangan Dimas dan memintanya untuk tidak berteriak.


Meski sebenarnya hatinya terasa sakit mendengar perkataan mama mertuanya barusan.


"Astaga, Dimas pasti denger perkataan ku barusan. Bagaimana ini?" batin bu Ririn


"Apa sih Dimas, kamu dateng dateng langsung marah marah sama mama, kenapa sih. Ini yang kamu dapet dari nginep di rumah dia, kamu udah di hasut apa sama dia?" bu Ririn malah balik bertanya dengan menunjuk wajah Bintang

__ADS_1


"Mama, kenapa mama ngomong gitu?" tanya pak Hendra yang bingung karena istrinya yang malah memojokkan istri Dimas


"Papa tanya dimas, kenapa dia marah marah sama mama?"


"Mama masih bertanya kenapa aku marah sama mama? Apa mama ga sadar dengan ucapan mama barusan?" bentak Dimas


"Kamu berani bentak mama?"


"Kenapa tidak!"


"Wah wah, papa lihat sendiri kan bagaimana perubahan sikap putra kita setelah menikah dengan wanita ini?"


Bu Ririn menatap tajam pada Bintang dengan matanya yang melotot "Apa yang sudah kamu lakukan pada putra ku hingga dia kini bisa membentak mama nya sendiri, hah!!!"


Bintang semakin bingung ada apa dengan mama mertuanya yang menuduhnya.


Dimas menggelengkan kepalanya dan benar benar tidak menyangka dengan sikap mamanya.


Ia lalu menarik tangan Bintang dan mengajaknya pergi ke kamarnya.


Sedangkan Hani, ia tidak menyelesaikan sarapannya dan langsung mengambil tasnya dan pergi keluar tanpa berpamitan.


"Ini benar benar-benar hari yang buruk. Oh my God..." batin Hani

__ADS_1


"Mama, mama kenapa sih. Kenapa mama malah memojokkan istri nya Dimas?"


"Mama tidak memojokkan dia pa, emang bener kok dia pasti udah menghasut Dimas selama menginap di rumahnya"


"Apa mama ga sadar kenapa Dimas bisa marah sama mama? Dimas marah karena mendengar perkataan mama barusan. Suami mana yang tidak akan marah jika istrinya tidak di akui oleh orang tuanya, bukan hanya itu mama malah tambah menuduh istrinya barusan"


"Mama tidak menuduh, itu memang benar kok. Papa saja yang terlalu percaya dia"


Bu Ririn menepis tangan pak Hendra dan melangkah pergi ke kamarnya.


Pagi yang cerah namun tidak dengan keluarga ini, mereka bertengkar dan tidak ada yang menyelesaikan sarapan.


Bintang duduk dan meletakkan tasnya di meja, sedangkan Dimas ia melempar jasnya ke sembarang arah karena masih merasa kesal dengan mama nya.


Dimas merasa tidak enak dan bersalah pada Bintang.


Ia duduk di samping Bintang dan menggenggam tangannya, air mata yang hampir jatuh segera Bintang seka agar Dimas tidak melihatnya.


"Aku minta maaf ya" ucap Dimas dengan lembut


Bintang hanya diam dengan menatap wajah Dimas.


"Aku tau kamu pasti sakit hati mendengar perkataan mama tadi, aku benar benar minta maaf ya sayang"

__ADS_1


"Kamu ga perlu minta maaf mas, ini bukan salah kamu kok" sahut Bintang dengan lirih menahan air matanya agar tidak kembali berair


☀️☀️☀️☀️☀️


__ADS_2