
Selama perjalanan pulang, Bintang menutup matanya dengan posisi kepalanya yang di sandarkan.
Karena ia merasa kepalanya sangat berat dan tidak kuat untuk membuka matanya lama-lama.
Tasya mengemudi dengan pelan agar tidak terlalu membuat goncangan.
Sesampainya di rumah dengan pelan Tasya membantu Bintang berjalan menuju kamarnya.
Bintang langsung istirahat dan Tasya pergi ke dapur untuk membuat kompresan dari air hangat.
Setelah meminum obatnya Bintang kemudian tertidur, Tasya merasa kasihan jika harus pulang meninggalkan Bintang yang saat ini yang sedang sakit sendirian.
Tasya duduk di ruang tamu sambil memainkan hp nya, tanpa sadar Tasya juga tertidur di sana.
Jam 1.30 Bintang terbangun, pusing di kepalanya saat ini sudah sedikit berkurang tapi demamnya masih tetap tinggi.
Bintang berusaha bangun dari tempat tidur, ia hendak pergi ke kamar mandi untuk berwudhu.
Bintang mencoba menahan dinginnya air yang terasa menusuk hingga ke tulang.
Setelah itu ia menggelar sajadahnya, memasang mukenah nya sambil duduk.
Dengan menahan pusing di kepalanya, Bintang segera bangkit dan melaksanakan sholat dhuhur.
4 rakaat membuat nya berderai keringat di dalam mukenah nya.
Selepas salam Bintang langsung menyandarkan tubuhnya di dinding, menutup matanya sambil memegang kepalanya.
Saat itu juga Tasya yang baru bangun dari tidurnya datang ke kamar Bintang dan terkejut melihat Bintang yang semakin pucat duduk nyender dengan lemas.
"Bintang.... Bin, kamu habis sholat?"
"Tasya, kamu belum pulang?" Tanya balik Bintang
"Gimana aku bisa pulang kalo keadaan kamu kek gini. Ayo bangun, kamu istirahat di kasur"
Tasya membantu Bintang berjalan ke kasurnya.
Bintang berbaring dengan masih menggunakan mukenah nya.
Tasya meraba wajah Bintang, demamnya masih tinggi, mukenah nya basah karena keringat tapi Bintang merasa dingin.
Tasya memakaikan selimut pada Bintang dan duduk di sebelahnya.
"Bin, demam kamu makin tinggi loh. Kita ke rumah sakit yuk, aku takut kamu kenapa-kenapa" ajak Tasya
"Ga usah Sya"
"Aku telfon abah ya"
"Ga usah, bentar lagi abah pasti pulang. Mungkin saat ini masih di jalan"
"Ya udah, kamu makan dulu ya. Mau aku pesenin apa?"
"Ga usah Sya"
"Ga usah ga usah. Semuanya aja ga usah. Kamu butuh tenaga biar ga lemes kek gini, aku pesenin makanan kesukaan kamu ya"
"Aku ga selera Sya"
"Harus di lawan dong, kan kamu kuat. Nih udah aku pesenin nasi padang. Oh ya sambil nunggu makanannya datang, aku bikinin kamu teh manis ya..."
Bintang mengangguk dan tersenyum
"Makasih banyak ya Sya udah jagain aku, kamu sampe harus bolos kuliah juga"
"Kata siapa bolos, orang dosen kita ga hadir. Tadi Fahmi chat gue katanya 2 dosen kita ga hadir"
__ADS_1
Tasya lalu pergi ke dapur dan membuatkan teh hangat untuk Bintang.
Begitu Tasya keluar dari dapur terdengar suara motor yang datang.
Pak Ahmad baru saja datang.
Tasya meletakkan teh nya di meja lalu segera membuka pintu.
"Assalamualaikum Abah..." Ucap Tasya setelah membuka pintunya
"Wa'alaikum salam, Tasya. Kamu ada di sini?"
"Iya bah, itu Bintang"
"Kenapa dengan Bintang?"
"Bintang sakit bah, dia ada di kamarnya"
"Astaghfirullah, Bintang sakit?"
Abah Ahmad meletakkan helm nya dan segera masuk.
Begitu melihat putrinya yang terbaring lemas membuat sangat sedih hatinya.
Abah duduk di samping Bintang dan memegang kepalanya
Bintang yang merasakan sentuhan di kening nya langsung membuka matanya.
"Abah, Abah sudah pulang?"
"Baru saja, apa yang kamu rasakan nak, pusing?"
Bintang mengangguk.
Tasya kemudian masuk ke kamar dengan membawa teh manis hangat di atas nampan.
"Abah, ini Tasya buatkan teh manis buat Bintang"
Abah kemudian membantu Bintang untuk duduk dan meminum teh nya, setelah itu kembali berbaring.
Hp Tasya berdering karena panggilan masuk, ia pergi keluar dari kamar Bintang untuk menjawab telfonnya.
Rupanya mami nya yang menelfon dan Tasya di minta untuk segera pulang.
Tasya masuk kembali ke kamar Bintang lalu berpamitan pada Bintang dan abahnya.
"Sekali lagi terima kasih ya nak sudah jagain Bintang"
"Sama-sama bah, kalo gitu aku pamit pulang. Cepet sembuh ya Bin, assalamualaikum..."
Abah dan Bintang menjawab salam Tasya bersamaan "Wa'alaikum salam..."
Begitu Tasya keluar dari rumah pesanannya sudah sampai.
Ia kembali masuk dan memberikannya pada abah.
"Abah ini ada nasi Padang buat abah dan Bintang"
"Loh, siapa yang beli?" Tanya abah
"Ini aku yang pesen tadi bah soalnya Bintang tidak mau makan. Ini ada 2 bungkus yang satunya lagi buat abah ya"
"Terima kasih Tasya, semoga Allah membalas semua kebaikan kamu dan menggantinya dengan rizki yang lebih"
"Aamiin... Tasya pamit lagi ya bah, dah Bintang..."
Tasya melambaikan tangannya lalu keluar dan pulang.
__ADS_1
Abah mengajak Bintang untuk ke klinik karena panasnya yang benar-benar tinggi.
Tapi Bintang menolak karena tadi sudah di bawa ke rumah sakit oleh Tasya.
"Ini kalo dari gejalanya kamu seperti tipes nak" ujar pak Ahmad
"Kata dokter tadi Bintang tensinya rendah Abah. Kepala Bintang sangat pusing"
"Obatnya sudah kamu minum?"
"Tadi sudah"
"Ya sudah sekarang ayo makan dulu, habis itu obatnya di minum lagi"
"Tapi Bintang ga nafsu makan abah"
"Ya harus di paksa nak, ayo abah bantu bangun"
Bintang duduk bersandar dengan bantal sebagai penyangga nya, sedangkan abah menyiapkan makanan yang di beli Tasya tadi.
Meski terasa hambar dan pahit di lidah, Bintang tetap memaksa kan diri nya untuk makan.
Baru 3 suapan Bintang sudah merasa mual karena nasi yang ia coba telan terasa akan kembali keluar.
"Sudah abah, Bintang udah kenyang..."
Abah meletakkan nasinya dan mengambil kan air untuk Bintang minum.
"Sekarang obatnya di minum lagi ya"
Bintang mengangguk, abah membuka obat nya dan menyuapinya ke mulut Bintang.
"Sekarang kamu istirahat dulu ya, abah mau mandi dulu"
"Abah, Bintang boleh minta tolong?"
"Minta tolong apa nak"
"Bantuin tuntun Bintang keluar, Bintang mau nonton TV"
"Ga mau istirahat?"
"Kan Bintang baru habis makan abah, sehabis makan kan tida boleh tidur"
"Baiklah, ayo abah bantu. Pelan-pelan nak..."
Dengan pelan abah menuntun Bintang untuk keluar kamar dan duduk di depan TV.
Abah mengambil kan selimutnya di kamar lalu memakaikannya pada Bintang.
Menyalakan TV nya dan memberikan remote nya pada Bintang.
"Ada lagi?" Tanya abah
Bintang tersenyum memperlihatkan gigi gingsul nya "Ga ada, makasih ya abah..."
"Sama sama. Abah mandi dulu ya"
Memang sejak kecil kebiasaan Bintang saat sakit ia selalu di depan TV.
Matanya tertutup tapi telinga nya menyimak apa yang sedang di siarkan di TV.
Bintang juga sangat takut di bawa periksa ke dokter, alasannya karena ia sangat takut akan jarum suntik tapi tidak dengan obat-obatan.
Setiap Bintang sakit, pak Ahmad hanya memeriksa kan Bintang di klinik tanpa pernah di suntik, hanya menebus obatnya saja.
Setelah pak Ahmad selesai membersihkan diri, ia duduk bersama Bintang di sofa.
__ADS_1
Merasa capek duduk, Bintang merebahkan dirinya dan kepalanya tidur di atas pangkuan abahnya.
☀️☀️☀️☀️☀️