Terpaksa Di Madu

Terpaksa Di Madu
53 Di Anggap Pembantu


__ADS_3

Bintang mengentikan langkahnya lalu membalikkan badannya.


"Aku mau ke kantornya mas Dimas ma, aku mau anterin makanan ini" sahutnya dengan lembut


"Apa? Mau pergi ke kantor Dimas?"


Bu Ririn tidak ingin kalau Bintang sampai datang ke kantornya, karena ia tidak mau semua karyawan Dimas tahu kalau istrinya berpenampilan kampungan dengan hijabnya.


Bu Ririn segera turun dengan cepat dari tangga dan langsung menghampiri Bintang.


"Kamu ga boleh pergi ke kantornya Dimas"


"Kenapa ma? Aku sudah selesai membantu bi Jumi menyiapkan semuanya, setelah teman teman mama datang bi Jumi hanya tinggal menyajikan"


"Oh ya, kamu pikir cuma itu pekerjaan kamu?"


Bintang merasa bingung, ada apa lagi dengan mama mertuanya, apa lagi yang di inginkannya.


"Maksud mama apa?"


Bu Ririn menarik tangan Bintang dan membawanya ke dapur.


"Jangan pergi kemana mana sebelum acara arisan ku selesai. Kamu harus menyajikan semua makanan dan minuman nanti"


Bi Jumi yang sedang mencuci piring terkejut karena kedatangan bu Ririn yang menyeret Bintang.


"Ta.. Tapi ma, aku sudah berjanji sama mas Dimas kalau aku mau ke kantornya"


"Aku tidak perduli!" ucap bu Ririn dengan kasar


"Baiklah, mama mau aku menyajikan makanan untuk teman arisan mama, akan aku lakukan itu. Tapi sebelum itu aku mau antarkan makanan ini dulu sebentar, ya ma" Bintang mencoba membujuk mama mertuanya dengan santun, namun percuma.


Bu Ririn malah merampas kotak bekal dadi tangan Bintang lalu melemparnya ke lantai hingga membuat isi di dalamnya keluar berserakan di lantai.

__ADS_1


Bintang sangat terkejut karena makanan yang ia buat untuk suaminya kini sudah tumpah di lantai.


"Sekali aku bilang ngak ya ngak! Ngerti kamu!!" Bentak bu Ririn lalu pergi begitu saja


Bintang menatap makanan buatannya yang kini berserakan di lantai, saat itu juga air matanya jatuh membasahi pipinya.


Bukan hanya sayang karena makanannya terbuang, ia juga bingung bagaimana ia akan beralasan pada suaminya.


Bi Jumi mengelap tangannya dan menghampiri Bintang.


"Non Bintang.... Non yang sabar ya"


Bintang menghapus air matanya lalu mengambil sapu untuk membersihkan makanannya di lantai.


"Sudah non, jangan. Biar bibi saja yang bersihin, non lia duduk ya"


Bi Jumi meminta Bintang duduk lalu mengambilkan air minum dan memberikannya.


Bintang menggeleng "Ngak bi, aku ga haus"


Bi Jumi meletakkan gelasnya di meja lalu duduk di samping Bintang.


"Non Bintang yang sabar ya, non Bintang harus kuat" ucap bi Jumi


Bintang menutup matanya lalu mengatur nafasnya.


"Iya bi, makasih ya udah selalu nenangin aku"


"Iya non, non Bintang sekarang duduk aja ya biar bibi yang bersihkan ini"


Bintang lalu memgambil hp nya dan menghubungi Dimas.


Ia mencoba setenang mungkin agar suaranya tidak terdengar sedih.

__ADS_1


Bintang terpaksa berbohong pada suaminya karena mama mertuanya.


"Ada apa sayang, kenapa kamu belum sampai?" tanya Dimas dari seberang telfon


"Em...Mas, aku minta maaf ya. Kayaknya aku ga bisa ke kantor deh"


"Kenapa sayang, ada apa?"


"Aku tiba-tiba merasa sedikit pusing mas, ga papa ya kalo aku ga jadi ke kantor?"


"Pusing kenapa, kamu sakit? Tunggu aku, aku akan segera pulang"


"E.. Tidak mas, tidak usah pulang. Aku udah minum obat kok, sekarang cuma butuh istirahat aja nanti pasti sembuh kok"


"Sungguh?"


"Iya mas, kamu selesaikan saja semua pekerjaan mu ya, aku ga papa kok"


Baru saja selesai menelfon, bu Ririn datang ke dapur dan meminta Bintang untuk mengeluarkan minuman dan camilan.


Ada 10 orang yang sudah menunggu di ruang tamu, bersama bi Jumi Bintang membawa nampan berisi minuman untuk di sajikan.


"Dia siapa jeng, kok aku baru lihat?" tanya bu Diah yang baru pertama kali melihat Bintang


"Dia pasti istrinya Dimas, iya kan jeng?" timpal bu Dewi


"Bukan lah jeng, dia ini pembantu baru di rumah ini" jawab bu Ririn dengan santainya


Bintang yang sedang meletakkan gelas di atas meja seketika langsung merasa sesak di dadanya.


☀️☀️☀️☀️☀️


.

__ADS_1


__ADS_2