Terpaksa Di Madu

Terpaksa Di Madu
49 Tak di Akui


__ADS_3

"Siapa laki-laki itu? Kenapa dia sepertinya sangat akrab dengan abah dan juga istri ku?" Batin Dimas


Ia memerhatikan istrinya yang tampak asyik mengobrol dan sesekali juga tertawa.


Tanpa Dimas sadari dirinya mengepalkan tangannya dan tidak suka dengan laki-laki itu.


Karena tidak mau membiarkan istrinya semakin lama berbincang dengan laki-laki itu, Dimas pun juga keluar dan langsung duduk di dekat Bintang bergabung dengan mereka.


"Mas..." sapa Bintang


Dimas melempar senyum dan memegang tangan Bintang "Kenapa hanya ada 1 gelas di sini?"


"Hehe... Iya mas, Arif menolak aku ambilkan teh"


"O, jadi namanya Arif" Batin Dimas dengan matanya yang melirik tajam pada Arif


"Nak, kenalin ini Arif teman kecilnya Bintang" ucap pak Ahmad memperkenalkan mereka


Arif tersenyum lalu mengulurkan tangannya pada Dimas.


Dimas menatap tangan itu beberapa saat lalu menjabatnya "Dimas, suaminya Bintang"


Arif tersenyum sambil sedikit menganggukkan kepalanya "Ya tanpa kamu katakan pun aku tau kalau kamu suaminya Bintang"


Tatapan Dimas yang dingin bagaikan panah yang hendak menancapkan diri pada sasarannya.

__ADS_1


Ia tidak suka dengan Arif yang sok akrab dengan istrinya, bukan hanya karena itu, tatapan mata Arif pada istrinya seperti mengandung arti yang lain.


Arif menjadi tidak nyaman dan memilih untuk segera pamit pulang.


*****


Saat sedang sarapan bersama, bu Ririn mengoleskan selai pada roti di atas tangannya lalu memberikannya pada suaminya.


"Mama hari ini kenapa? Kelihatannya mama seperti sedang bahagia, seperti sudah memenangkan lotre saja" tegur Hani yang baru datang dan menarik kursinya lalu duduk di sana.


Bu Ririn tersenyum lalu memberikan roti pada Hani


"Ya, mama hari ini sangat bahagia"


"Tidak, bukan itu yang membuat mama bahagia"


"Lalu?"


"Mama bahagia karena 2 hari ini bisa kembali hidup dengan tenang bersama kalian tanpa ada orang lain di sini. Rasanya mama bisa bernafas dengan sangat lega, seperti sedang menghirup udara segar di pegunungan Swiss" jelas bu Ririn dengan gaya tangannya yang juga ikut berbicara


Hani mengerti maksud mama nya karena hari ini tidak ada Bintang di rumah besar itu.


"Aku juga senang ma, tapi ga ada kakak di sini"


Bu Ririn meneguk susu di depannya lalu mengambil roti.

__ADS_1


"Mama juga sebenernya belum bahagia sepenuhnya karena tidak ada kakak kamu di sini, tapi mau bagaimana lagi dia lebih memilih bersama dengan istrinya di rumah kecil itu"


Pak Hendra kini mengerti maksud dari perkataan istrinya, bahwa yang di maksud dengan orang lain itu adalah Bintang yang tak lain adalah menantunya.


"Maksud mama, mama bahagia karena tidak ada Bintang di sini?" tanya pak Hendra


Bu Ririn mengangguk iya sambil terus memakan rotinya.


"Kenapa mama bilang kalo Bintang adalah orang lain, dia istrinya Dimas, menantu kita" ujar pak Arman


"Dia bukan menantu mama, dia hanya menantunya papa"


Pak Hendra menggelengkan kepalanya dan tidak menyangka jika istrinya bisa mengatakan itu.


"Saat ini mama mengatakan itu tidak ada Dimas, jika ada Dimas di sini bagaimana dengan perasaan dia jika mendengar ini? Mama ga sayang sama Dimas?"


"Papa, bagaimana mungkin mama tidak sayang sama Dimas. Dia putra ku, hanya saja aku tidak suka dengan istri pilihannya" tegas bu Ririn


"Bukan kah mama sudah mengatakan kalau akan menganggap Bintang seperti anak sendiri? Lalu kenapa mama masih menganggapnya orang lain?"


"Mama mengatakan itu hanya pura-pura, mama tidak suka dengan dia"


Tanpa mereka sadari ada dua pasang mata yang sedari tadi memerhatikan dan dua pasang telinga yang mendengarkan.


☀️☀️☀️☀️☀️

__ADS_1


__ADS_2