Terpaksa Di Madu

Terpaksa Di Madu
80 Pergi ke rumah abah


__ADS_3

"Bee, aku pergi sebentar ya. Aku janji, setelah ini aku akan ceritakan semuanya sama kamu" ucap Dimas dengan pelan lalu mencium kening Bintang sebelum ia pergi


Begitu Dimas keluar dan menutup pintu kamar, mata Bintang terbuka. Bersamaan dengan itu air matanya kembali mengalir dengan deras.


Ia menarik selimut lalu menutupi wajahnya di dalamnya.


Ia mengeluarkan semua kesalnya dengan tangisannya, matanya membengkak hingga ia kesulitan bernafas karena hidungnya mulai tersumbat.


*****


Saat sore hari Dimas kembali pulang.


Ia sangat terkejut saat masuk ke kamarnya, ia keluar dan turun ke lantai bawah memutari seluruh rumah untuk mencari keberadaan istrinya, namun tak bisa ia temukan.


Hanya ada selembar surat yang di letakkan di atas meja yang.


"Maaf mas, aku pergi tanpa minta izin mu lebih dulu"


Hanya itu saja isi surat yang Bintang tulis di kertas itu


"Bee... Astaghfirullah kau pergi kemana bee? Apa kamu pergi ke rumah abah? Ya Allah bagaimana jika Bintang sampe cerita sama abah?" gumam Dimas lalu mengantongi kertas itu


Segera Dimas kembali pergi untuk menyusul istrinya ke rumah abahnya meski sebenarnya ia tidak tahu di mana istrinya saat ini berada.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Dimas terus mencoba menelfon Bintang namun tidak bisa.


"Bee, maaf kan aku bee. Aku tidak bermaksud untuk menyakiti mu, sungguh bee. Dimana kamu sekarang..."


Sekarang kepanikan Dimas semakin tinggi ketika melihat sandal istrinya ada di atas rak di teras depan rumah abah.


Tidak hanya istrinya, ia bahkan juga mengecewakan ayah mertuanya yang selama ini sangat menyayanginya.


Ia tidak tahu apa yang akan yang akan yang akan terjadi saat dirinya masuk ke rumah.


Ragu dan gugup membuat Dimas urung mengetuk pintu, ia hanya berdiam diri mematung.


Hingga akhirnya seseorang membuka pintu dan membuat Dimas terkejut dan langsung berkeringat dingin.


"Sejak kapan kamu di sini?"


Dimas hanya mematung dan jantungnya berdebar tidak karuan.


"Kenapa kamu diam saja?" tanya abah lagi


"Ee... Abah, aku.... Aku minta maaf. Aku sungguh tidak bermaksud untuk menyakiti Bintang. Maafkan aku. Sungguh abah...."Ungkap Dimas sambil memegang tangan abah memohon maaf menunduk karena tidak berani menatap wajah abah


"Nyakitin Bintang? Maksud kamu apa nak?"

__ADS_1


Dimas yang menunduk kembali mengangkat wajahnya, yang awalnya ia pikir ia akan fi marahi habis habisan ternyata abah malah melempar senyum padanya.


"Abah, abah tidak marah pada ku?"


"Kenapa abah harus marah nak?"


"Tapi aku.... Bintang...."


"Kamu pikir abah akan marah hanya karena kamu tidak mengantar putri ku pulang ke rumahnya? Tidak. Bintang sudah bilang sama abah kalo kamu sedang sibuk, jadi dia pergi ke sini sendiri. Apa sekarang pekerjaan mu udah beres?"


"Ee.... I iya, iya bah, sudah beres" jawab Dimas terbata-bata


"Ya sudah ayo masuk, Bintang ada di kamarnya. Kita baru saja pulang dari makam uminya Bintang, katanya dia habis mimpi semalam. Saking rindunya pada uminya, dia sampai menangis sesenggukan" jelas abah


"Andai abah tau kalau putri abah menangis gara-gara perbuatan ku, abah pasti akan langsung menampar wajah ku sejak tadi" batin Dimas


Dimas melangkah masuk bersama abah dan duduk di ruang tamu.


Dimas duduk terdiam menatap bingkai foto di dinding.


Foto Istrinya saat kecil yang tersenyum lebar tampak sangat bahagia, membuat Dimas merasa sangat bersalah.


Di tambah lagi saat istrinya memilih untuk berbohong pada abahnya sendiri demi menutupi perbuatannya, dirinya merasa semakin bersalah dan malu untuk bertemu dengan istrinya.

__ADS_1


☀️☀️☀️☀️☀️


.


__ADS_2