Terpaksa Di Madu

Terpaksa Di Madu
24 Resmi Bertaaruf


__ADS_3

Dengan mata yang berbinar Dimas mengajukan pertanyaan pada Bintang


"Kalau boleh tau, di usia berapakah kamu mau untuk menikah?"


Bintang yang sedari tadi menunduk kan pandangannya mencoba mengangkat kepalanya menatap orang yang bertanya padanya


"Aku tidak mempunyai patokan usia ideal untuk menikah. Karena menurutku menikah itu yang di perlukan adalah kesiapan, bukan angka dari usia" jawab Bintang lalu kembali menundukkan kepalanya.


Mendengar jawaban Bintang membuat Dimas yakin kalau ta'aruf ini akan berakhir di pelaminan.


Dimas tersenyum dan hendak kembali bertanya, namun mama nya mendahului nya


"Kalau boleh tau, kamu saat ini hanya kuliah saja atau sudah bisa kerja?" Tanya bu Ririn


Bintang menatap bu Ririn dengan senyuman manisnya "Saya hanya kuliah saja, abah tidak mengizinkan saya untuk bekerja"


"Berarti semua biaya kuliah kamu di tanggung oleh abah kamu?" Sambung bu Ririn


"Alhamdulillah saya kuliahnya dapat beasiswa" jawab Bintang dengan lembut.


Dimas memegang tangan mama nya yang hendak kembali mengajukan pertanyaan pada Bintang.


Bu Ririn merasa heran kenapa Dimas tidak membiarkan dia untuk kembali bertanya.


Pak Hendra lalu mengambil alih dan meminta Bintang atau pak Ahmad untuk memberikan pertanyaan pada Dimas jika masih ada yang ingin di ketahui.


Pak Ahmad menetap Bintang dan berbicara dengan kontak matanya, adakah atau tidak yang ingin Bintang tanyakan pada Dimas.


Ternyata Bintang tetap diam.


Pak Ahmad pun mulai berbicara dan bertanya pada Dimas

__ADS_1


"Saya tidak hanya ingin memcarikan putri saya seorang suami, tapi sekaligus imam yang akan memimpinnya dalam urusan dunia maupun agama. Saya cuma mau bertanya, apakah nak Dimas selalu melaksanakan sholat 5 waktu?"


Pertanyaan dasar yang pak Ahmad berikan seketika membuat Dimas dan juga keluarganya terdiam dan hanya saling menatap satu sama lain.


Karena dalam keluarga mereka tak ada satu pun dari mereka yang melaksanakan sholat setiap harinya.


Karena tidak mau putra nya malu karena ketahuan tidak pernah sholat, pak Hendra langsung menjawab nya


"Alhamdulillah pak, sholat memang lah kewajiban kita sebagai seorang muslim. Dan Dimas tidak pernah meninggalkan nya"


Dimas hanya menunduk karena jawaban papanya sama sekali bukan tentang dirinya. Begitu pun dengan bu Ririn dan Hani, mereka terkejut dan membulatkan mata mereka menatap heran pada pak Hendra.


Hani langsung mendekat kan wajahnya pada bu Ririn "Wah wah... Ada apa dengan papa ma? Jangan kan sholat setiap hari, sholat Jumat aja papa jarang. Ya kan ma..." Bisik Hani


"Hus... Diam!"


Bu Ririn langsung mencubitnya agar Hani bisa diam, karena jija sampe pak Ahmad dan Bintang mendengar nya mereka pasti akan malu.


Hani mengelus lengannya yang habis di cubit oleh mama nya, ia bahkan tidak habis pikir juga sama mama nya yang bisa-bisa kompak untuk berbohong.


Bintang kali ini juga akan bertanya pada Dimas. Bintang mengangkat wajahnya dan menatap Dimas


"Saya ingin tau bagaimana pendapat mu tentang poligami?" Tanya nya lalu kembali menunduk kan pandangannya.


Dimas tersenyum meski hanya sebentar mata mereka bisa saling kontak.


"Aku pribadi tidak menyetujui tentang poligami, karena tak akan ada keadilan di antara dua istri yang berbagi suami. Aku sangat menolak poligami" jawab Dimas dengan tegas


Pak Ahmad tersenyum lega karena jawaban Dimas.


Prinsip yang Dimas katakan sama persis dengan prinsip nya.

__ADS_1


"Jika dengan 1 wanita saja laki-laki tidak bisa menjaga perasaan nya. Lantas bagaimana dia akan menjaga 2 hati? Semoga kamu tetap pada pendirian dan prinsip mu nak" ucap pak Ahmad


Pertemuan yang tidak cukup lama itu terasa seperti bertahun-tahun bagi Hani.


Dia di sana merasa sangat bosan karena hanya duduk diam mendengarkan.


Mata Hani menyapu semua sudut ruangan dan ia tidak menemukan 1 pun frame foto bertiga.


Yang ada hanya foto pak Ahmad dan Bintang.


Meski penasaran tapi Hani memilih untuk diam.


"Ma... Ayo pulang" bisik Hani di telinga mama nya.


Hani seperti anak kecil yang merengek hendak pulang pada mama nya.


Tak lama pertemuan itu pun selesai.


Dimas dan Bintang boleh bertemu atau bisa pergi jalan bersama tapi dengan syarat tidak boleh jika hanya berdua saja, harus ada pendamping dari salah satunya.


Setelah itu Dimas dan keluarga nya pun berpamitan untuk pulang.


Dimas dan pak Hendra bersalaman dengan pak Ahmad, dan Bintang juga mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan bu Ririn.


Namun saat ia hendak bersalaman dengan Hani, Hani hendak menolak namun Dimas menatapnya dengan tegas.


Hani memutar bola matanya dan mengeluarkan nafasnya dengan kasar lalu menerima uluran tangan dari Bintang.


Pak Ahmad dan Bintang mengantar kepulangan mereka hingga di teras rumah.


Dimas seperti enggan untuk pulang karena matanya masih ingin menatap seorang wanita sholeha yang ia harap bisa menjadi istrinya nanti.

__ADS_1


Bu Ririn sampai menarik tangannya agar Dimas segera masuk ke dalam mobil.


☀️☀️☀️☀️☀️


__ADS_2