Terpaksa Di Madu

Terpaksa Di Madu
16 Di Kampus


__ADS_3

Segera Tasya memajukan mobil nya lalu memarkirnya.


Tasya turun dari mobilnya dan berlari mendekati Bintang.


"Bin..." Panggilnya dari belakang


Bintang yang hendak duduk kini tidak jadi.


Tasya sampai dengan nafasnya yang sedikit ngos-ngosan.


"Baru lari sebentar udah ngos-ngosan? Berat badan mu berapa?" Tanya Bintang pada Tasya yang saat ini sedang duduk mengatur nafasnya.


Tasya seketika langsung mendongakkan kepalanya menatap Bintang dengan dahi nya yang mengerut.


"Kok malah jadi nanyain berat badan? Emang aku terlihat gendut?"


Bintang menahan tawanya, karena Bintang ingin mengerjainya.


Tasya yang memang terkenal sangat menjaga dan ketat menjaga berat badannya memang agak sensitif jika ada yang bilang dirinya gendut.


"Aku ga bilang kamu gendut, aku cuma nanya berat badan kamu berapa? Kalo aku sih mau lari sejauh 2 km juga ga bakal ngos-ngosan" ujra Bintang


Tasya bangun dari duduknya dan memperhatikan tubuhnya dari atas hingga yie bawah.


"Emang kalo lari cepet ngos-ngosan itu tandanya gendut?"


Tanya Tasya yang kini dari raut wajahnya sudah tidak bisa lagi di tutupi kalau dirinya saat ini sedang panik.


Bintang sudah tidak kuat untuk menahan tawanya lebih lama.


Kini akhirnya Bintang menyerah dan langsung tertawa.


Tasya yang tadinya panik kini menjadi bingung karena Bintang yang tiba tiba tertawa.


"Hei, kok ketawa. Emang lucu ya liat sahabat sendiri lagi panik gini? Jahat kamu Bin"


Tasya berbalik dan berjalan meninggalkan Bintang yang masih terus tertawa.


"Eh... Sya, jangan tinggalin aku dong..." Bintang pun ikut berlari mengejar Tasya.


Meski masih ingin teryawa namun Bintang menahan nya karena Tasya saat ini seperti nya sudah mulai marah.


Bintang berjalan di samping Tasya yang wajahnya kini sudah di tekuk.


Dengan menggandeng tangan Tasya, Bintang mencoba minta maaf padanya.


"Sya, kamu marah ya....? Aku cuma bercanda doang kok.."


Tasya hanya diam dan pura-pura tidak mendengar.


"Tasya.. jangan marah gini dong. Aku beneran cuma bercanda. Badan kamu tetap bagus, slim dan ramping kek patung manekin"


Tasya yang tadinya pura-pura marah tidak kuat menahan tawa karena dirinya di bilang ramping se ramping tubuh manekin.


Bintang kini menyadari kalau Tasya sudah mulai tertawa


"Tuh kan, kamu ketawa. Marahnya boongan kan?"


Tasya akhirnya tertawa juga karena Bintang.

__ADS_1


"Kamu sih ngeejain aku tadi, kena juga kan aku bales" ucap Tasya


"Iya iya, maaf. Sekarang impas ya"


Mereka kini berjalan menuju arah perpustakaan, namun ada seseorang yang memanggil mereka dari belakang.


"Bintang, Tasya..."


Mereka berdua kompak menoleh ke belakang ke arah asal suara itu.


Dia adalah Fika yang juga teman sekelas mereka.


"Fika, ada apa Fik?" Tanya Bintang


"Eh hari ini kelas kosong sampe sore. Semua dosen pergi" ujar Fika


Tasya langsung tersenyum lebar mendengar kabar baik itu, sedangkan Bintang masih penasaran ada apa dan kenapa.


"Semua dosen? Kenapa?" Tanya nya


"Kalo ga salah sih katanya ada rapat mendadak gitu"


"Aduh Bin, ga penting semua dosen mau kemana dan ngapain. Yang penting hari ini kita bisa pulang dan tak perlu pusing dengan materi lagi" saut Tasya


"Ih suka bener kalo ngomong kamu Sya. Bener tuh Bin kata Tasya, yang penting kita bisa pulang dan rebahan aja di rumah, scroll tiktok sampe sepuasnya" timpal Fika


Tasya sangat senang jika ada dosen yang absen, apa lagi sekarang semua dosen absen bersamaan.


Tasya bisa sangat puas bermain dan jalan-jalan seharian.


Begitu pun Fika, dia yang tidak bisa di pisahkan dari bantal dan kasurnya merasa sangat bahagia.


"Ke mall? Ayo" Bintang tersenyum dengan penuh semangat.


"Eh kamu kalo mau ikut ayo, bareng sama kita" ajak Tasya pada Fika


Dengan cepat Fika menggelengkan kepala dan menolak ajakan Tasya.


"Ke mall? Ngak deh. Aku mending pulang trus rebahan. Kasian bantal dan kasur ku udah manggil-manggil dari tadi. Dah lah aku pulang duluan, bye...."


Segera Fika pergi meninggalkan Bintang dan Tasya.


Fika adalah kaum rebahan sejati yang ter paksa meninggalkan kamarnya demi kuliah.


Bintang dan Tasya hanya tertawa karena Fika.


"Dasar Fika" ujar Tasya


"Udah lah, yuk kita lest go..." Ajak Bintang


Mereka langsung pergi ke mall untuk menghabiskan waktu hari ini.


Tapi sebelum pergi menonton, Tasya mengajak Bintang untuk makan dulu.


"Eh Bin, kita makan dulu yuk. Aku laper nih"


Ajak Tasya


Bintang melihat jam tangannya, jarum jam nya masih menunjukkan pukul 9.30

__ADS_1


"Kamu yakin mau ngajak aku makan, sekarang masih jam segini loh?"


"Eh aku tadi belum sempat sarapan loh di rumah. Aku tuh tadi bangunnya kesiangan, mana sempet aku sarapan. Udah ah ayo buruan aku udah laper" Tasya menarik tangan Bintang untuk segera mencari meja untuk mereka duduk.


Sambil menunggu makanan yang mereka pesan datang, Bintang kembali teringat dengan soal lamarannya.


Tasya menepuk tangan Bintang yang sedang melamun.


"Kamu kenapa Bin, bengong aja. Laper juga ya?"


Bintang pun tersadar dari lamunannya.


"Iya Sya, ada apa?"


"Kamu kenapa ngelamun gitu, mikirin apa, hm..?"


"Apa aku cerita aja ya sama Tasya, ya siapa tau aku bisa merasa lebih lega" batin Bintang.


Tasya kembali menepuk tangan Bintang karena tetap melamun.


"Hei Bin. Di tanyain malah makik bengong. Mikirin apa sih?"


Bintang memegang tangan Tasya lalu menatap nya dengan serius.


"Sya, aku mau cerita" ucap Bintang


Tasya menatap balik Bintang dengan aneh.


"Kok muka kamu jadi serius gini? Mau cerita apa sih, bikin penasaran aja"


Bintang menarik nafas dan menyiapkan diri untuk bercerita.


Baru saja Bintang membuka mulutnya dan hendak bercerita seorang pelayan datang dengan membawa nampan berisi makanan pesanan mereka.


"Ini pesanan nya kak..."


Sapa pelayan itu dengan ramah


"Wah... Makasih ya mbak"


Tasya langsung mengambil mangkok ramen nya dan meletakkan nya tepat di depannya.


Begitu pun Bintang, ia segera membuka bungkus sumpit nya dan hendak langsung memakannya.


Melihat makanan yang tampak lezat menggiurkan Bintang jadi lupa kalau ia ingin bercerita.


Tasya kali ini tidak lagi menepuk Bintang, tapi ia malah mencubitnya.


"Eh dasar Bintang, aku yang laper malh kamu yang semangat makan. Katanya mau cerita"


Bintang yang baru ingin menyeruput kuah ramennya urung ia lakukan.


"Astaghfirullah... Tasya. Aku lupa"


Ucap Bintang sambil menepuk dahinya.


"Dasar, cepet cerita. Bisa mati penasaran diriku karena mu" suruh Tasya


Sambil makan Bintang pun mulai bercerita pada Tasya kalau dirinya beberapa hari yang lalu ada yang melamar.

__ADS_1


☀️☀️☀️☀️☀️


__ADS_2