Terpaksa Di Madu

Terpaksa Di Madu
21 Teringat Umi Bintang


__ADS_3

Setelah meletakkan kembali hp nya, pak Ahmad pergi ke kamar Bintang.


Di sana Bintang masih tetap duduk di meja belajar nya dengan lampu belajar nya masih menyala.


"Belum tidur nak?" Sapa pak Ahmad


Bintang menoleh ke asal suara di belakang nya.


Abah mendekati kursi Bintang lalu memegang kedua pundaknya.


"Jangan terlalu memaksakan diri nak, jika sudah mengantuk istirahat lah. Masih ada besok untuk kembali melanjutkan nya" ujar pak Ahmad


"Iya bah, tanggung ini soalnya. Lagi pula ini kan masih jam 9"


Pak Ahmad duduk di tepi kasur Bintang sambil terus merhatikan Bintang yang tangannya tetap tidak berhenti bermain di atas keyboard laptopnya.


Bintang awalnya berpikir kalau abahnya sudah keluar dari kamarnya hingga ia tetap fokus pada layar laptop nya.


Saat Bintang merasa haus dan ingin minum barulah ia melihat abahnya di sampingnya.


"Loh abah masih di sini, Bintang pikir abah udah tidur di kamar abah"


Bintang mengambil botol air minum nya lalu duduk di samping abahnya.


"Abah ada perlu sesuatu sama Bintang?"


"Kamu haus? Minum lah dulu" kata pak Ahmad


Bintang membuka tutup botolnya lalu meminumnya.


"Ada apa abah?"


"Besok kamu ke kampus apa ngak?"


Tanya pak Ahmad


Bintang menggelengkan kepalanya "Ngak, besok Bintang kosong. Ada apa abah"


"Besok Dimas dan keluarga nya akan datang"


Deg...


Jantung Bintang seketika langsung berdetak lebih cepat dari sebelumnya.


Bintang yang awalnya menatap wajah abahnya kini langsung menunduk memperhatikan botil minun di tangannya.


Perasaan mulai gelisah tak menentu.


Bahkan Bintang kini sudah merasa gugup.


"Besok...?" Tanya Bintang dengan suara pelan


Pak Ahmad mengangguk iya.


"Iya nak, besok jam 2 siang. Kamu sudah siapkan CV mu?"


Bintang mengangguk dan kembali minum.


Melihat reaksi Bintang saat abah memberi tahunya terlihat jelas kalau Bintang sangat gugup.


Tangan kanan pak Ahmad menggenggam tangan Bintang dan tangan kirinya merangkul pundaknya.


"Kenapa kamu jadi gugup begini nak?"

__ADS_1


"Ga tau abah, tiba-tiba aja Bintang gugup dan jadi gelisah gini"


"Ga usah gugup. Kan hanya ta'aruf. Hasil akhirnya nanti pasrahkan sama Allah. Oya, bagaimana dengan sholat istikharah mu, apakah kamu sudah mendapat kan petunjuk dari Allah?"


Bintang menggeleng lalu menyandarkan kepalanya di bahu abahnya.


"Bintang masih ragu abah"


"Apa yang membuat mu ragu nak"


Bintang mengangkat kepalanya dan menatap lekat wajah abahnya.


"Bagaimana jika ta'aruf berjalan hingga ke pelaminan?" Tanya nya dengan polos


Abah tersenyum sambil memegang pipi Bintang


"Ya Alhamdulillah, berarti anak abah sudah ketemu sama jodohnya"


Bintang mengerutkan alisnya dan bibir mulai cemberut "Kok abah seneng?"


"Orang tua mana yang tidak akan senang jika melihat anak mereka menikah?"


"Abah, kalo Bintang menikah abah di sini sama siapa? Masa Bintang harus ninggalin abah sendirian?"


Abah tertawa sambil mengusap rambut Bintang


"Kenapa kamu sampe kepikiran ke situ? Sudah, jangan mikir kemana-mana. Sekarang kamu istirahat, tidur ya. Abah ke kamar dulu mau istirahat"


Pak Ahmad lalu mengusap rambut Bintang dan mencium keningnya.


Bintang terus menatap abahnya dari belakang hingga keluar dari pintu kamarnya.


Saat abah menutup pintunya saat itu juga air mata Bintang mulai jatuh membasahi pipinya.


Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kesepiannya nanti jika Bintang sudah menikah dan harus ikut ke rumah suaminya.


Bahkan pak Ahmad memilih untuk tidak menikah lagi demi fokus mengurus dan membesarkan Bintang dengan 2 peran, sebagai ayah sekaligus ibu.


Bintang menagis lalu berbaring di kasurnya dengan telungkup.


Ia menenggelamkan wajahnya di atas bantal nya dan terus menagis.


Sedangkan pak Ahmad, beliau duduk di tepi kasur nya dan juga mulai menitikan air mata.


Sejujurnya pak Ahmad sangat bahagia jika putrinya akan menikah, tapi beliau teringat dengan almarhumah istrinya.


Pak Ahmad mengambil foto almarhumah istrinya, uminya Bintang lalu menatapnya dalam-dalam, tatapan matanya seakan sedang berbicara mengatakan isi hatinya.


"Aku tidak tau apakah putri kita akan segera menikah atau tidak. Tapi sekarang dia sudah tumbuh dewasa menjadi gadis cantik, pintar dan juga sholeha. Jika Allah mengizinkan mu untuk hidup saat ini, kamu pasti akan sangat bangga melihat putri kita...."


Pak Ahmad berbicara sendiri dengan bingkai foto almarhumah istrinya.


Rasanya malam ini beliau begitu merindukannya.


Pak Ahmad mengucek matanya karena penglihatan nya mulai kabur karena tertutup air mata.


Pak Ahmad lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dengan berwudhu, setelah itu beliau langsung berbaring di tempat tidur untuk beristirahat.


*****


Di rumah Dimas


Setelah makam malam, Dimas dan papa nya duduk di ruang tengah sambil mengobrol dengan.

__ADS_1


Bu Ririn pun datang dan ikut bergabung bersama mereka.


"Apa papa sudah memberi tahu abah kalo besok kita akan kesana?" Tanya Dimas memulai obrolan


"Sudah, papa sudah menelfon beliau tadi" jawab pak Hendra


"Lalu apa kata nya pa?"


"Ya beliau cuma bilang iya, kami akan menunggu. Seperti itu"


Dimas senyum-senyum sendiri karena di bayangan nya Bintang sedang tersenyum menyambut kedatangan nya.


Hani yang baru turun dari kamarnya langsung duduk di samping Dimas hingga membuat Dimas terkejut.


"Hayooo.... Lagi ngelamunin apa hayo..."


Dimas yang awalnya tersenyum berubah cemberut karena Hani.


"Apa sih" seru Dimas


"Oh ya Han, besok kakak kamu mau memulai ta'aruf" ucap bu Ririn


Hani langsung melirik ke arah Dimas dengan tajam "Ta'aruf? Bener kak?"


Dimas mengangguk iya.


"Sama siapa? Sama gadis yang waktu itu kakak tunjukin fotonya itu?"


Dimas kembali memgangguk. Hani terkejut karena setau nya kakak nya itu tidak jadi melamar Bintang karena mama nya tidak setuju.


"Kakak serius mau menikah dengan gadis itu?"


"Iya, kamu kenapa sampe heran gitu, bukannya kamu udah tau?" Tanya Dimas


Hani menggelengkan kepalanya lalu menatap mama nya "Ini beneran ma kakak mau nikah sama gadis itu?"


Bu Ririn mengangguk "Bukan nikah, tapi masih ta'aruf dulu katanya. Nikah atau tidak nya ya lihat bagaimana ke depannya sayang"


Hani beranjak dari duduk nya dan pindah duduk di tengah mama dan papanya.


"Mama sama papa serius udah setuju?"


Pak Hendra merangkul bahu Hani sambil bertanya


"Kenapa kamu begitu terkejut sekali? Apa kamu keberatan?"


Hani melepas tangan papa "Ih papa sama mama kok bisa setuju sih? Aku ngak!"


"Apa alasan kamu tidak suka sama Bintang?" Tanya Dimas sambil menatap heean adiknya itu


"Kakak, dia itu menurut ku lebai tau ga. Pake hijab, selalu ber gamis setiap hari kek ibu-ibu tau. Dia itu kek norak tau" ejek Bintang


"Hanya karena penampilan nya yang berhijab kamu menilainya norak. Kamu tidak tau apa saja yang dia bisa, kalo kamu tau kamu pasti tidak akan mengejeknya begini" Dimas tidak terima saat Hani, adiknya mengejek Bintang dan langsung membelanya.


"Tapi kakak, Hani ga setuju!"


"Kenapa?"


"Ya pokok nya ga setuju!"


Dimas berdiri dari sofa "Jika kamu punya alasan kuat untuk menolak keputusan kakak, mungkin nanti bisa aku pertimbangkan. Tapi jika alasan mu hanyalah masalah penampilan, kakak akan tetap pada keputusan kakak" ujat Dimas lalu pergi ke kamarnya


"Kakak, aku ini adik mu bukan sih? Kenapa pendapat ku sama sekali tidak penting bagimu??" Teriak Hani

__ADS_1


Namun Dimas tidak menoleh dan tetap melangkah menaiki anak tangga.


☀️☀️☀️☀️☀️


__ADS_2